Kang Marto, tampaknya fenomena itu sudah merupakan pemandangan
umum.  Kalau kita mengamati para pengamat pemerintahan, para
pakar atau politisi melalui media masa, tampaknya mereka juga
masih kuat terpengaruh oleh paradigma kepemimpinan negara masa
lalu didalam mengkritisi pemerinatahan GD. Padahal, GD tampak
sekali menggunakan pendekatan yang berbeda.

Namun, kalau saya menangkap pesan yang lain yaitu, GD dan Ibu
Sinta keduanya adalah orang yang sebenarnya cacad pisik namun
mampu melakukan tugas kenegaraan yang penting dalam waktu singkat
sejak beliau diangkat beberapa minggu yang lalu. Yang satu tidak
bisa melihat dan yang satunya tidak bisa berjalan! Bisakah kita
menangkap tanda-tanda jaman ini?

��

----- Original Message -----
From: Marto Blantik <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 11 November 1999 12:27
Subject: Re: [Kuli Tinta] Apa pesan tulisan ini?


> Milis ini masih milisnya nyamuk pers khan, kok sekarang sepi.
Ini nih ada
> tantangan GD buat para kuli tinta. Sayang disini wartawan
sekarang jarang
> nulis. Stanley, Kj, atau yang lain sekarang masih disini enggak
? Pada sibuk
> kali yah.
>
> Salam
> MB
>
>
> Kamis, 11 November 1999
>
> Catatan dari Perjalanan Gus Dur
> Paling Banyak Bikin Jumpa Pers
>
> PALING banyak dilakukan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
selama
> berkeliling ke delapan negara-negara ASEAN adalah bertemu
dengan para
> wartawan. Selama empat hari, Gus Dur mengadakan jumpa pers
sembilan kali.
> Ini sebuah rekor yang belum pernah dilakukan oleh para presiden
Indonesia
> sebelumnya. Dari Gus Dur terasa informasi mengalir dengan
deras. Sosok Gus
> Dur terasa sebagai simbol era keterbukaan informasi di
Indonesia.
> Jumpa pers dengan Gus Dur tidak bertele-tele. Rata-rata waktu
yang
> dibutuhkan dalam pertemuan antara Gus Dur dengan para wartawan
hanya sekitar
> 25 menit. Dalam waktu relatif singkat itu, 10 pertanyaan
wartawan bisa
> diajukan. Jawaban Gus Dur atas pertanyaan selalu singkat dan
langsung pada
> sasarannya. Jawaban yang diharapkan oleh wartawan selalu
dipenuhinya, yakni
> tidak berbelit-belit dan melingkar-lingkar. Pada jumpa pers di
Manila,
> Selasa (9/11) malam, sekitar 15 pertanyaan diajukan wartawan
asing. Tanya
> jawab hanya berlangsung sekitar 20 menit.
>
> Wartawan tidak bisa mendapatkan hal seperti itu dari Soeharto
atau BJ
> Habibie, ketika mereka menjadi presiden. Kedua orang ini bisa
menggunakan
> waktu berjam-jam hanya untuk memberi jawaban atas satu atau dua
pertanyaan.
>
> Tetapi sayang, Gus Dur tidak ditopang oleh suatu perangkat
Istana dalam
> membuka arus informasi di Indonesia yang tersumbat mati selama
32 tahun ini.
> Yang menangani pers di Istana saat ini masih berasal dari masa
Orde Baru.
> Spontanitas mereka adalah menjauhkan wartawan dari sumber
berita, terutama
> bila sumber itu Presiden, atau meneliti pakaian apa yang
dikenakan wartawan
> (sesuai atau tidak dengan selera penguasa).
>
> Di setiap tempat di ASEAN, para wartawan yang meliput Istana
hanya
> mengenakan pakaian sederhana. Tanda pengenal sementara pun
cukup diambil di
> depan Istana setelah meninggalkan tanda pengenal kantornya.
Sedangkan di
> Indonesia, wartawan Istana selalu mengenakan setelan jas dan
berdasi di
> mana-mana, termasuk pada waktu tidur di dalam pesawat terbang.
Tatkala, ada
> wartawan yang tidak mengenakan dasi, langsung ditegur. "Kok
tidak kompak,"
> kata petugas pers.
>
> Kontras antara gaya Gus Dur dan petugas pers Istana memang
lucu. Gus Dur
> ingin selalu memberi penjelasan langsung tentang apa yang telah
dilakukan
> kepada para wartawan dalam dan luar negeri. Tetapi para petugas
pers-yang
> berjumlah sekitar 10 orang-tidak bisa berbuat apa-apa untuk
mendukung
> gerakan Gus Dur ini. Mereka bingung, tidak tahu apa yang akan
dilakukan.
> Mereka hanya bisa melakukan pola lama, yakni memperhatikan
pakaian wartawan
> atau menyuruh wartawan menjauhi Gus Dur.
>
>
> ***
> JUMPA pers pertama dilakukan Gus Dur ketika berada di Istana
Kepresidenan
> Singapura. Ketika itu seorang protokol Istana Singapura
menawarkan, apakah
> Gus Dur mau berjumpa dengan para wartawan secara langsung. Gus
Dur langsung
> menjawab, "Tentu saya mau, karena ini kesempatan menyampaikan
iklan gratis."
>
> Di Kuala Lumpur, Gus Dur juga memanggil para wartawan datang ke
ruangnya di
> hotel. Hanya beberapa wartawan Indonesia yang hadir dalam jumpa
pers ini.
> Para petugas pers Istana Kepresidenan Indonesia tidak punya
inisiatif
> mengundang wartawan Malaysia atau para koresponden media massa
negara-negara
> besar, seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Eropa.
>
> Para wartawan asing hanya mengambil nara sumber dari para
pemimpin Malaysia.
> Mereka tidak diundang ikut jumpa pers langsung dengan Gus Dur.
Tak heran
> jika berita-berita yang muncul di surat kabar Malaysia secara
kasar
> mengatakan, Gus Dur mohon bantuan beras dari Malaysia. Padahal
Gus Dur
> mengatakan, ia hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan
beras sebelum
> ini. Jadi bantuan tambahan-seperti yang diberitakan secara luas
di
> dunia-adalah tawaran dari Pemerintah Malaysia.
>
> Perjalanan Gus Dur diikuti sekitar 78 anggota delegasi,
termasuk para
> wartawan. Di dalam buku panduan disebutkan rombongan wartawan
28 wartawan.
> Tetapi sebenarnya yang ada hanya sekitar 14 wartawan dari media
massa
> independen. Selebihnya adalah karyawan Istana Kepresidenan yang
mengenakan
> kartu pengenal wartawan. Mereka ini sebenarnya adalah
koordinator wartawan,
> dua juru foto, pembawa kamera, pembawa lampu kamera, dan
perekam
> pembicaraan. Susunan rombongan ini memang masih menggunakan
pola masa
> Soeharto, yakni banyak tetapi kurang efisien dan tidak
mengakomodir
> publikasi yang efektif.
>
>
> ***
> KURANG efektifnya kehadiran para petugas pers Istana juga
membuat para
> wartawan asing membuat berita kurang tepat mengenai penyataan
Gus Dur
> tentang sekularisme. Berita itu muncul dari pertemuan Gus Dur
dengan sekitar
> 500 pengusaha di Singapura hari Sabtu. Gus Dur antara lain
mengatakan,
> perlunya pemisahan urusan politik dengan agama. Tetapi kemudian
muncul
> pemberitaan asing yang mengatakan, pemikiran Gus Dur bersifat
sekularistis.
>
> Dalam jumpa pers di Kuala Lumpur yang dihadiri segelintir
wartawan Indonesia
> Gus Dur mengatakan, "Saya tidak begitu setuju dengan
sekularisme, tetapi
> belum tentu sekularisme itu jelek."
>
> Di negara-negara yang pemerintahannya sangat "alergi" terhadap
> wartawan-seperti di Laos, Kamboja, dan Vietnam-Gus Dur dengan
"enteng"
> mengadakan jumpa pers. Jumpa pers itu ia lakukan di tempat
menginapnya di
> istana, wisma negara, atau ruang VIP bandar udara. Di Laos, ia
menyampaikan
> kepada wartawan tentang cita-cita keterbukaan dan pasar bebas
bagi
> negara-negara ASEAN. Dengan keterbukaan, katanya, kualitas
kehidupan akan
> menjadi tinggi.
>
> Dalam jumpa pers, Gus Dur selalu menyelipkan kalimat jenaka.
Tetapi tak
> jarang pula ia mengecam wartawan yang pertanyaannya terlalu
bodoh. Seorang
> wartawati Manila berujar, "Luar biasa orang ini, tetapi
bagaimana dengan
> kesehatannya."
>
> Menurut putri kedua Gus Dur, Zannuba Arifah Chafsoh Rahman
(Yenny),
> "Perjalanan ke luar negeri ini tidak seberat perjalanan Gus Dur
di masa
> kampanye pemilihan umum yang lalu, padahal saat itu
fasilitasnya masih
> bersifat umum."
>
> Bukan hanya Gus Dur yang berelasi hangat dengan wartawan dalam
perjalanan
> ini. Ny Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid pun secara mendadak
bersedia
> diwawancarai wartawan di pesawat terbang. Dengan keadaan
begini, Menlu Alwi
> Shihab yang dekat dengan Gus Dur berseloroh, "Karena Gus Dur
sering memberi
> jumpa pers, saya jadi tidak laku." (osd)
>



-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

Kirim email ke