Diskusi mengenai negara kesatuan makin santer. Ada yang usul federasi.
Tetapi, dikatakan, a.l, oleh Yuwono Sudarsono, bahwa federasi di negara
kepulauan itu merupakan awal dari bubarnya negara kesatuan. Setelah menjadi
federasi, tiap negara bagian akhirnya akan merasa bisa mengurus sendiri,
sehingga kemudian akan meminta berpisah.

Otonomi penuh? Apa bedanya dengan berpisah? Kalau berpisah, Jakarta sama
sekali tidak mengurusi daerah itu. Kalau otonomi penuh, Jakarta masih
memusingkan pertahanan, luar negeri, dan moneter daerah itu. Dengan
penghasilan daerah yang makin banyak ke daerah, otonomi penuh juga tak akan
bertahan lama, karena daerah yang miskin akan berpikir kembali, apa gunanya
bersatu dengan Jakarta bila bantuan dari Jakarta makin kecil? Negara miskin
akan lebih cenderung memisahkan diri, karena rugi diurusi Jakarta, tak
mendapat bantuan uang yang berarti. Kalau negara miskin, seperti Bangladesh,
dan Timor Timur, merdeka, mereka justru akan mendapat bantuan internasional
yang banyak. Jadi, dengan otonomi penuh, bubarnya Indonesia dimulai dari
wilayah yang miskin.

Jadi, apa pun skenarionya, Indonesia akan menjadi beberapa negara.

Kalau Indonesia sudah pecah, negara tetangga juga akan begitu. Gorontolo
meminta menjadi propinsi sendiri. Ini karena mereka tertinggal dengan
Menado. Mereka muslim, berbeda dengan Kristen di Menado. Kalau sudah jadi
propinsi sendiri, mereka nanti akan dekat dengan Mindanao, di Filipina
Selatan. Mindanao akan merdeka dari Filipina, dan Gorontola mungkin juga
akan merdeka. Dua negara ini akan berhubungan erat.

Tiga state di Malaysia, yang dimenangkan oleh PAS, mulai berhubungan dengan
bagian selatan Thailand, yang banyak orang Melayu, Muslim. Daerah Pattani,
Thailand, ini akhirnya akan jadi negara sendiri, dan banyak berhubungan
dengan negara (bukan negara bagian lagi) dari Trengganu, Kedah,
dan...(wah.lupa). Di Asia Tenggara ini akan muncul negara negara Islam, yang
menerapkan syariah Islam, termasuk perbankan Islam. Di Aceh semua bank sudah

menyesuaikan diri. Orang Muslim di "negara negara" ini merupakan pasar yang
menarik untuk perbankan Islam. Maka, bankir akan dengan cepat menyesuaikan
diri.

Yang menarik, negara negara Islam ini hidup di tengah tengah negara
"non-Islam" (tidak berarti negara ini tidak ada orang islamnya, tetapi ini
adalah negara dengan sistem yang sudah baku sekarang ini, dengan sistem
moneter yang banyak diikuti dunia saat ini). Skenario saya, semua negara ini
akan hidup dengan damai, melakukan perdagangan, arus modal dan manusia yang
lancar.

Saya lanjutkan skenario di atas. Yang menjadi negara Islam mungkin bukan
hanya Aceh, tetapi beberapa daerah di Sumatra juga akan begitu. Akhir akhir
ini muncul usul Republik Islam Sumatra. Dugaan saya, hal ini tak akan
terjadi. Beberapa daerah akan memilih tetap menjadi republik yang heterogen.

Selain itu, di Kalimantan (termasuk bagian Malaysia) akan muncul Republik
Dayak. Propinsi di Indonesia bagian timur akan banyak berususan dengan
Australia. Sumatra banyak berhubungan dengan Singapore, Malaysia, dan
Thailand. Sulawesi dengan Filipina. Kalimantan bisa ke Singapore, Malaysia,
Thailand, bisa pula ke Filipina. Nah, sisanya pulau Jawa-Bali. Mereka dengan
siapa? Mereka akan bekerja sama dengan Kerajaan Nyai Roro
Kidul..he...he..he..


-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke