you:
>PEnyakit. Untuk orang yang mengirim milis tanpa nama ini  saya mohon lain
>kali tulislah namamu.

Martin:
Hai Bung..., nama saya kan jelas banget tuh, nggak perhatikan ya? Atau, anda
ini "orang baru" di milis Kuli Tinta ya? Lihat-lihat dulu dong...

Orang seperti anda ini, bila berdiskusi biasakan tanpa emosi. Santai saja..
Mungkin anda baru di milis ini, nama saya: Martin Manurung, orang nasionalis
dan mencoblos PDI Perjuangan yang sampai saat ini tidak setuju ide negara
federal. Tapi, bagi saya, negara federal, kesatuan atau sekalian bubar,
sebaiknya kita diskusikan baik-baik. Bila kita anggap tiada, padahal
faktanya ada, malahan akan membuat penyakit. Bisa-bisa bangsa ini bubar
dengan darah. Bila kita diskusikan, alternatifnya ada tiga: (1) sepakat
dengan damai untuk tetap negara kesatuan, (2) sepakat dengan damai untuk
negara federal, atau (3) sepakat dengan damai untuk berpisah menjadi
negara-negara merdeka. Bila kita diamkan, atau malah kita represi persoalan
itu, akan lebih bahaya; negara bisa bubar dengan kekerasan.

Sekali lagi, biasakan diskusi dengan kepala dingin..., tak usah mencap orang
macam-macam. Setiap pendapat tentu punya argumentasi. Sampai saat ini, saya
tetap adalah orang yang mendukung ide negara Kesatuan. Sejak kecil saya
sudah kental dengan bacaan-bacaan dari orang-orang nasionalis. Sejak saya
berusia 7 tahun, saya sudah menyikat habis a.l Dibawah Bendera Revolusi,
Otobiografi Bung Karno, Kumpulan Karangan Bung Hatta, Membangun Ekonomi
Indonesia (Bung Hatta), dll. Jadi, pemikiran nasionalis sudah "meracuni"
pikiran saya sejak kecil. Persoalannya, kita memang harus terbuka pada
setiap alternatif, menerima pemikiran dengan obyektif dan kepala dingin,
mencoba mencari substansi dari setiap pendapat, meskipun berbeda dengan
kita. Itu saja.

Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Default: [EMAIL PROTECTED];
For Personal Mail: [EMAIL PROTECTED]
Others: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]

-----Original Message-----
From: M.Mashuri Alif <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; Perspektif
Mailing List <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 12 Desember 1999 16:48
Subject: Re: [Kuli Tinta] "Uni Indonesia"


>Anda kerjanya menghujat tanpa tahu latar belakang berdirinya Indonesia.
>orang-orang seperti kamu yang mudah disusupi ide-ide kapitalisme lewat
>agen-agenya. Permasalahan federasi dan integrasi bukanlah masalah etnis
atau
>SARA, tetapi masalah ekonomi dan politik. Juga bukan masalah Agama Islam
>atau tidak islam. Apakah kamu mengerti konsep negara. OK, Konsep negara
>Islam macam apa yang kamu inginkan. Konsep Negara Arab Saudi yang seluruh
>prekonomiannya baik secara teknologi telah di kangkanggi negara Amerika
yang
>mayoritas penduduknya yahudi. Jadi permasalahannya bukan lagi masalah Agama
>yang harus kita perdebatkan ataupun etnis suku-suku yang ada. Jika kamu
>memahami sejarah maka kamu akan paham budaya masyarakat Indonesia yang
>budayanya masih terbelakang; masih membawa sisi-sisa feodal, kapitalistik
>dan militeristik. Nah akar budaya inilah yang harus kita pecahkan.
>
>baca tulisan saya sebelumya didalam diskusi NEGARA dan SEPAK BOLA dan
IBARAT
>PEnyakit. Untuk orang yang mengirim milis tanpa nama ini  saya mohon lain
>kali tulislah namamu.
>
>Tugas.
>
>-----Original Message-----
>From: Martin Manurung <[EMAIL PROTECTED]>
>To: Kuli Tinta List <[EMAIL PROTECTED]>; Perspektif Mailing List
><[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Sunday, December 12, 1999 4:32 PM
>Subject: [Kuli Tinta] "Uni Indonesia"
>
>
>>Diskusi mengenai negara kesatuan makin santer. Ada yang usul federasi.
>>Tetapi, dikatakan, a.l, oleh Yuwono Sudarsono, bahwa federasi di negara
>>kepulauan itu merupakan awal dari bubarnya negara kesatuan. Setelah
menjadi
>>federasi, tiap negara bagian akhirnya akan merasa bisa mengurus sendiri,
>>sehingga kemudian akan meminta berpisah.
>>
>>Otonomi penuh? Apa bedanya dengan berpisah? Kalau berpisah, Jakarta sama
>>sekali tidak mengurusi daerah itu. Kalau otonomi penuh, Jakarta masih
>>memusingkan pertahanan, luar negeri, dan moneter daerah itu. Dengan
>>penghasilan daerah yang makin banyak ke daerah, otonomi penuh juga tak
akan
>>bertahan lama, karena daerah yang miskin akan berpikir kembali, apa
gunanya
>>bersatu dengan Jakarta bila bantuan dari Jakarta makin kecil? Negara
miskin
>>akan lebih cenderung memisahkan diri, karena rugi diurusi Jakarta, tak
>>mendapat bantuan uang yang berarti. Kalau negara miskin, seperti
>Bangladesh,
>>dan Timor Timur, merdeka, mereka justru akan mendapat bantuan
internasional
>>yang banyak. Jadi, dengan otonomi penuh, bubarnya Indonesia dimulai dari
>>wilayah yang miskin.
>>
>>Jadi, apa pun skenarionya, Indonesia akan menjadi beberapa negara.
>>
>>Kalau Indonesia sudah pecah, negara tetangga juga akan begitu. Gorontolo
>>meminta menjadi propinsi sendiri. Ini karena mereka tertinggal dengan
>>Menado. Mereka muslim, berbeda dengan Kristen di Menado. Kalau sudah jadi
>>propinsi sendiri, mereka nanti akan dekat dengan Mindanao, di Filipina
>>Selatan. Mindanao akan merdeka dari Filipina, dan Gorontola mungkin juga
>>akan merdeka. Dua negara ini akan berhubungan erat.
>>
>>Tiga state di Malaysia, yang dimenangkan oleh PAS, mulai berhubungan
dengan
>>bagian selatan Thailand, yang banyak orang Melayu, Muslim. Daerah Pattani,
>>Thailand, ini akhirnya akan jadi negara sendiri, dan banyak berhubungan
>>dengan negara (bukan negara bagian lagi) dari Trengganu, Kedah,
>>dan...(wah.lupa). Di Asia Tenggara ini akan muncul negara negara Islam,
>yang
>>menerapkan syariah Islam, termasuk perbankan Islam. Di Aceh semua bank
>sudah



-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke