At 12:53 AM 12/13/1999 +0700, you wrote:
>>PEnyakit. Untuk orang yang mengirim milis tanpa nama ini saya mohon lain
>>kali tulislah namamu.
>
>Martin:
>Hai Bung..., nama saya kan jelas banget tuh, nggak perhatikan ya? Atau,
>anda
>ini "orang baru" di milis Kuli Tinta ya? Lihat-lihat dulu dong...
Yang dikomentarin Bung Mashuri itu bukan Anda, Bung Martin, tapi
Bung c (aswat?) karena tidak pake nama jelas.
>Orang seperti anda ini, bila berdiskusi biasakan tanpa emosi. Santai saja..
Yang ditegur Bung Mashuri itu karena Bung Martin terkesan menggeneralisir
Islam dengan kata-kata pahit, coba baca sekali lagi posting Anda. Saya kira
Bung Mashuri berusaha menggambarkan bahwa Islam itu tidak identik dengan
Arab, karena negara-negara Arab itu kan terbukti kaki-tangan AS juga. Lihat
saja reaksi Tim-teng yang dingin-dingin saja terhadap kasus Bosnia atau
Chechnya. Jika Indonesia ingin menjadi negara islami, tidak berarti menjadi
negara Islam seperti di Arab. Dalam tulisan-tulisan Gus Dur, terlihat sekali
keinginannya untuk menjadikan Indonesia negara yang non Islam (judulnya
bukan Republik Islam) tapi juga bukan negara sekular. Ini bisa dibaca di
kumpulan tulisan Gus Dur: Mengurai Hubungan Agama dan Negara, terbitan
Grasindo.
Syariat Islam di Aceh itu kan bukan akar masalah, tapi lebih pada
upaya rakyat Aceh menunjukkan harga dirinya. Pada kenyataannya,
sulit untuk menerapkan syariat Islam di negara ini, karena Indonesia
terlalu luas sementara Islam mengenal banyak mahzab. Islam Jawa dan
Tapanuli saja beda lho Bung Martin. Setahu saya Islam Tapanuli tidak
mengenal tahlilan 7-40-100 hari seperti di Jawa. Lalu mahzab yang
mana yang harus digunakan? Negara mungil seperti Qatar, di mana
penduduknya cuma sebanyak satu kecamatan di DKI, atau Saudi
Arabia, yang penduduknya kira-kira seperempat penduduk Jawa Barat,
memang memungkinkan untuk diterapkan syariat Islam. Tapi Indonesia
adalah negara besar yang jumlah "minoritas" Kristennya saja puluhan juta.
Biarpun agama Bung Martin minoritas, tapi jumlah minoritas non muslim
Indonesia itu kira-kira sama dengan separuh penduduk Inggris.
Bung Mashuri mengajak kita semua agar melihat musibah Indonesia
ini dari angle lebih luas, penghisapan ala kapitalis oleh negara-negara maju
terhadap sumber daya alam Indonesia. Jika kita amati, DOM dan kekerasan
militer itu berlangsung di daerah yang kaya sumber alam, baik itu industri
pertambangan, HPH, HTI maupun pabrik-pabrik di mana buruhnya menuntut
kenaikan upah. Jika kenaikan upah dikabulkan, maka investor asing itu bisa
melarikan modalnya (kapital) ke negara-negara lain yang buruhnya lebih murah
misalnya Bangladesh atau negara-negara Afrika. Tanpa disadari, TNI sudah
jadi satpam penjaga investasi asing.
Jadi masalah bangsa ini bukanlah Islam - non Islam, Jawa - non Jawa,
tapi akar masalahnya adalah pembagian kue yang tidak adil, baik di dalam
negeri, maupun dengan mitra investor asing. Apakah selama ini pernah dibuka
bahwa Kontrak Karya Freeport sangat tidak adil, sebagian besar hasilnya
dibawa ke luar? Apakah selama ini kita tahu, bahwa dengan membuang limbah
sembarangan, PT Newmount Minahasa Raya sudah "menghemat" begitu banyak dana,
sehingga PT NMR dapat menghasilkan nilai dengan biaya tunai separuh dari
tambang-tambang Newmount di Amerika Utara. Ini belum termasuk tambang
Newmount di Lombok dan Sumbawa, baru di Minahasa saja!
Negara kita adalah negara besar dan kaya, di Indonesia Timur masih
banyak tambang yang belum digali. Jika tidak hati-hati, kita bisa
dirampok dan dibohongi lagi seperti jaman Orba dulu.
sekian dan wassalam,
Bachtiar
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!