Hanya orang yang menutup mata yang berani menyatakan bahwa tidak ada
perbedaan antara pusat dan daerah. Itu nasionalisme sempit yang
mengeksploitasi kata "persatuan" menjadi "persatean" (penyeragaman,
pengidentikan).

Pusat dan Daerah, memang adalah dialektik. Persoalannya, bagaimana kita
mengelola dialektik itu; menjadi substitutif (trade-off) ataukah
komplementer.

Dalam statement saya tidak ada menganggap pusat ataupun daerah lebih rendah
dari yang lain. Baca lagi, mungkin anda kurang cermat atau bercampur baur
dengan pendapat orang lain.

Mengenai nodal perekonomian, saya sepakat, juga pengusutan HAM. Tapi, dialog
tetap harus dilanjutkan. Bukan dengan bisu-membisu, yang akhirnya malah akan
melahirkan kekerasan. Ingat, perang diawali dari berakhirnya komunikasi.

Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Default: [EMAIL PROTECTED];
For Personal Mail: [EMAIL PROTECTED]
Others: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]

-----Original Message-----
From: M.Mashuri Alif <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 16 Desember 1999 8:28
Subject: Re: [Kuli Tinta] "Uni Indonesia"


>
>-
>>Saya nggak bilang siapa yang baik-baik... saya katakan, apapun hasil
>>diskursus Pusat-Daerah nanti, sebaiknya didiskusikan secara baik-baik,
>>ketimbang harus memakai cara kekerasan: (1) orang pusat mungkin merepresi
>>aspirasi kedaerahan, atau (2) orang daerah menterror para pendatang (spt
>>yang kini terjadi di Aceh dan Irja). Dua-duanya tidak kita kehendaki,
>karena
>>itu lebih baik diselesaikan dengan diskusi.
>
>1. Anda ini katanya seorang nasionalis, tetapi cara berpikirnya masih
etnis.
> Hal tersebut terlihat dari statement-mu yang masih membedakan antara
>pusat dan daerah, masih  selalu menganggap rendah daerah. Sekarang yang
>terpenting
>adalah bagaimana mengangkat segala prospek yang ada di daerah, karena Jawa
>dan Jakarta hanya sebagai pusat kekuasaan. Sekarang ini yang terpenting
>adalah
>menghidupkan daerah manjadi pusat perekonomian kita. Contoh,  Cina pusat
>ekonominya bukan di Beijing atau Peking (berbeda pengucapan, tapi kotanya
>sama), Amerika bukan di Washington? Mengapa kita tidak memusatkan ekonomi
di
>Aceh, Kalimantan,  dan Irian jaya sebagai ujung penyangga republik ini?
>Terus-terang saya pun bukan orang Aceh, Kalimantan, atau Irian. Namun, saya
>mengakui tanpa kekayaan alam dan hasil-hasil bumi serta kebudayaan mereka,
>saya tak bisa hidup dan bukanlah orang Indonesia yang kemerdekaannya
>diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 dan diakui secara de jure oleh dunia
>internasional pada bulan desember 1949 dalam Konferensi Meja Bundar di den
>Haag.
>
>2. Dan yang perlu kelas menengah ketahui (termasuk aku), diskusi tidak
>pernah menyelesaikan masalah, karena rakyat tidak butuh diskusi lagi
>melainkan tindakan yang kongkrit dan dapat direalisasikan segera. Mana
>pengadilan para jendral sebagai pelaku pelanggar HAM?(masa kita kalah cepat
>dengan dengan komisi HAM PBB) Mana pengadilan Soeharto sebagai dalang
>pelanggaran HAM di Indonesia dan pembangun imperium KKN kita? Jika hal itu
>didiamkan, maka akan terus menjadi duri dalam daging. Hal ini memang
seperti
>memakan buah simalakama. Beranikah kabinet Gus Dur menyelesaikannya?


-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke