>>nama saya: Martin Manurung, orang nasionalis
>>dan mencoblos PDI Perjuangan yang sampai saat ini tidak setuju ide negara
>>federal.
>
>Saya tak peduli apakah kamu PDI Perjuangangan, PAN, ataupun PKB. Begitu
pula
>saya tak peduli tentang pengakuan atas kadar nasionalisme kamu. Saya sudah
>terbiasa mendengar retorika semacam itu, yang ujung-ujungnya tak sesuai
>dengan praktek.
BUNG, saya juga tak peduli kamu siapa. Siapa juga yang peduli. Cuman kan
kamu yang bilang saya ini "orang yang tidak jelas pengirimnya", jadinya saya
perkenalkan diri. Gitu Bung... Mengenai PDI Perjuangan, sekadar menunjukkan
kontradiksi, antar sikap PDI P yang tidak setuju negara federal, dengan
sikap saya yang menerima diskusi negara federal, atau bahkan pembubaran
negara.
>>Tapi, bagi saya, negara federal, kesatuan atau sekalian bubar,
>>sebaiknya kita diskusikan baik-baik. .
>
>Yang tidak baik-baik itu siapa? Rakyat? Puluhan tahun kita sudah belajar
>bahwa yang selalu menggunakan kekerasan dalam kehidupan negara adalah
>militer sebagai alat kekuasaan.
Saya nggak bilang siapa yang baik-baik... saya katakan, apapun hasil
diskursus Pusat-Daerah nanti, sebaiknya didiskusikan secara baik-baik,
ketimbang harus memakai cara kekerasan: (1) orang pusat mungkin merepresi
aspirasi kedaerahan, atau (2) orang daerah menterror para pendatang (spt
yang kini terjadi di Aceh dan Irja). Dua-duanya tidak kita kehendaki, karena
itu lebih baik diselesaikan dengan diskusi.
>>Sekali lagi, biasakan diskusi dengan kepala dingin..., tak usah mencap
>orang
>>macam-macam. Setiap pendapat tentu punya argumentasi. Sampai saat ini,
saya
>>tetap adalah orang yang mendukung ide negara Kesatuan. Sejak kecil saya
>>sudah kental dengan bacaan-bacaan dari orang-orang nasionalis. Sejak saya
>>berusia 7 tahun, saya sudah menyikat habis a.l Dibawah Bendera Revolusi,
>>Otobiografi Bung Karno, Kumpulan Karangan Bung Hatta, Membangun Ekonomi
>>Indonesia (Bung Hatta), dll. Jadi, pemikiran nasionalis sudah "meracuni"
>>pikiran saya sejak kecil. Persoalannya, kita memang harus terbuka pada
>>setiap alternatif, menerima pemikiran dengan obyektif dan kepala dingin,
>>mencoba mencari substansi dari setiap pendapat, meskipun berbeda dengan
>>kita. Itu saja.
>
>Yang panas itu siapa? saya malah salut mengetahui kamu sudah di cekoki
>Nasionalisme sejak kecil, asal tidak Nasionalisme picik saja, Nasionalisme
>yang menurut budayawan Widji Thukul adalah Nasionalisme yang mirip-mirip
>Fasisme. Setahu saya, Nasionalisme Soekarno adalah Nasionalisme yang
>mirip-mirip Sosialisme. Setuju nggak, Mar?
Saya nggak peduli siapa yang panas. Semua yang terlibat dalam diskusi,
apalagi yang virtual spt ini, tidak boleh panasan.
Nasionalisme Soekarno dan Hatta adalah Sosio-Demokrasi dan
Sosio-Nasionalisme. Jadi, nasionalisme para founding fathers adalah
nasionalisme sosialis. Dan sosialis tidak harus sama dengan marxisme, serta,
nasionalisme tidak harus sama dengan fasisme.
Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Default: [EMAIL PROTECTED];
For Personal Mail: [EMAIL PROTECTED]
Others: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!