-
>Saya nggak bilang siapa yang baik-baik... saya katakan, apapun hasil
>diskursus Pusat-Daerah nanti, sebaiknya didiskusikan secara baik-baik,
>ketimbang harus memakai cara kekerasan: (1) orang pusat mungkin merepresi
>aspirasi kedaerahan, atau (2) orang daerah menterror para pendatang (spt
>yang kini terjadi di Aceh dan Irja). Dua-duanya tidak kita kehendaki,
karena
>itu lebih baik diselesaikan dengan diskusi.
1. Anda ini katanya seorang nasionalis, tetapi cara berpikirnya masih etnis.
Hal tersebut terlihat dari statement-mu yang masih membedakan antara
pusat dan daerah, masih selalu menganggap rendah daerah. Sekarang yang
terpenting
adalah bagaimana mengangkat segala prospek yang ada di daerah, karena Jawa
dan Jakarta hanya sebagai pusat kekuasaan. Sekarang ini yang terpenting
adalah
menghidupkan daerah manjadi pusat perekonomian kita. Contoh, Cina pusat
ekonominya bukan di Beijing atau Peking (berbeda pengucapan, tapi kotanya
sama), Amerika bukan di Washington? Mengapa kita tidak memusatkan ekonomi di
Aceh, Kalimantan, dan Irian jaya sebagai ujung penyangga republik ini?
Terus-terang saya pun bukan orang Aceh, Kalimantan, atau Irian. Namun, saya
mengakui tanpa kekayaan alam dan hasil-hasil bumi serta kebudayaan mereka,
saya tak bisa hidup dan bukanlah orang Indonesia yang kemerdekaannya
diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 dan diakui secara de jure oleh dunia
internasional pada bulan desember 1949 dalam Konferensi Meja Bundar di den
Haag.
2. Dan yang perlu kelas menengah ketahui (termasuk aku), diskusi tidak
pernah menyelesaikan masalah, karena rakyat tidak butuh diskusi lagi
melainkan tindakan yang kongkrit dan dapat direalisasikan segera. Mana
pengadilan para jendral sebagai pelaku pelanggar HAM?(masa kita kalah cepat
dengan dengan komisi HAM PBB) Mana pengadilan Soeharto sebagai dalang
pelanggaran HAM di Indonesia dan pembangun imperium KKN kita? Jika hal itu
didiamkan, maka akan terus menjadi duri dalam daging. Hal ini memang seperti
memakan buah simalakama. Beranikah kabinet Gus Dur menyelesaikannya?
>Nasionalisme Soekarno dan Hatta adalah Sosio-Demokrasi dan
>Sosio-Nasionalisme. Jadi, nasionalisme para founding fathers adalah
>nasionalisme sosialis. Dan sosialis tidak harus sama dengan marxisme,
serta,
>nasionalisme tidak harus sama dengan fasisme.
>
Tentang Marxisme/Sosialisme:
1. Bung, Martin bukan saya berusaha menggurui; tolong kamu pelajari benar
sejarah Bung Karno apakah dia mendapat konsep Sos-Dem bukan dari Marx ?
Apakah salah jika orang mempelajari Marxisme. Dan bukankah seluruh politisi
dan kelompok diskusi pada zaman pergerakan itu mendiskusikan Marxisme?
2. Sosialis sudah pasti Marxis, karena landasan teori bagi sosialisme adalah
Marxisme. Karl Marx merupakan bapak sosialisme dunia yang meletakkan
kepercayaan perubahanan sosial dalam masyarakat pada tangan kelas buruh atau
kelas pekerja, Cobalah kamu baca ulang Di Bawah Bendera Revolusi Bung Karno
itu. Kamu akan menemukan artikelnya yang bicara khusus tentang Marx dan kaum
buruh, bahkan tentang Lenin yang dalam prakteknya mendialektikakan
teori-teori Marx ke dalam kondisi objektif masyarakat Rusia dalam melawan
feodalisme dan kapitalisme, yang lalu dikenal dengan sebutan Marxis Leninis.
Di Cina pun Marxisme ini diadaptasikan dalam kondisi objektif Cina oleh Mao
Tse Tung. Oleh Bung Karno, berdasarkan kondisi objektif masyarakat Indonesia
setelah perang kemerdekaan yang lebih bercorak agraris, ia mengadaptasikan
Marxisme kepada apa yang dikatakannya sebagai Marhaenisme atau petani
miskin. Tetapi, Bung Karno (dalam Di Bawah Bendera Revolusi) mengatakan
bahwa untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera itu, kaum marhaen
(atau petani miskin) harus bersatu dengan kaum buruh yang menjadi pelopor.
Bung Karno bahkan menyatkan kekaguman kepada orang Jerman bernama Karl Marx
itu, karena mengilhami satu perjuangan mengubah nasib rakyat yang tertindas.
Bacalah sekali lagi buku yang Anda banggakan itu dan jangan sampai salah
kesimpulan. Setahu saya Di Bawah Bendera Revolusi ada 3 jilid. Anda baca
yang mana?
3. Sosialisme Demokratik adalah proses atau pemikiran jalan tengah antara
Kapitalisme menuju Sosialisme. Dan oleh Soekarno disederhanakan (karena
rakyat pada saat itu masih banyak yang buta pendidikan) menjadi NASAKOM (ini
makna demokratiknya). Inilah proses jalan tengah Sukarno yang terkenal serta
kontroversial itu. Dan basis pendukungnya adalah kelas menengah pertanian
(MARHAEN), karena ia tahu benar bangsanya tersebut belum menempuh
Kapitalisme murni (matang). Kapitalisme yang baru tumbuh berkembang
didasari oleh sisa-sisa feodal (ini basis analisa ekonomi Soekarno)
masyarakat agraris, yang menuju industri. Nah, Gus Dur basis ekonominya
kelautan (mungkin). Padahal hampir 90% perekonomian rakyat Indonesia
terkonsentrasi di darat. Inilah yang menjadi pertanyaan kita sekarang.
Apakah di darat kekayaan kita sudah habis dirampas Suharto dan
kroni-kroninya bersama negara-negara kapitalisme dunia pada masa
pemerintahannya? Kondisi ekonomi dan politik inilah yang menjadi dasar
terjadinya gejolak di daerah-daerah. Apakah daerah mengerti permasalahan
negeri ini secara keseluruhan? Pemerintah pusatlah yang harus berbesar hati
untuk menyelesaikan masalah bangsa ini. Adili yang bersalah, beri ruang
ekonomi yang luas di daerah untuk berkembang dan maju.
4. Perekonomian kita tidak bisa berkembang tanpa teknologi, maka mutu
pendidikan dan fasilitas teknologi harus digalakkan. Gizi masyarakat harus
ditingkatkan. Pada zaman soekarno dulu tak terbayangkan bagi kita untuk bisa
berdiskusi lewat media elektronik dan kita hanya duduk di rumah, sementara
pikiran-pikiran atau gagasan kita beredar melampaui batas RT, RW, Kelurahan,
Kecamatan, Propinsi, bahkan negara. Sehingga terciptalah apa yang dikatakan
Marshall McLuhan--seorang pakar komunikasi--Global Village atau perkampungan
dunia. Lalu kembangkan watak mencipta bukan meniru, menggalakkan kebudayaan
ilmiah tanpa rambu-rambu yang menghalangi berkembangnya kebudayaan rakyat
yang lebih maju tanpa adanya sensor dan rambu-rambu ancaman.
Contohnya, kita masih keteteran menghadapi isu Y2K. Padahal di negara maju
masalah ini sudah di bicarakan 8 sampai 10 tahun sebelumnya. Hal ini
disebabkan lembaga-lembaga ilmiah kita tidak hidup, tetapi lembaga
Intelijenlah yang mendapat prioritas utama untuk hidup dan didukung dana
yang luar biasa untuk mengintai rakyat dan mempertahankan periuk berlian
kekuasaan. Kegagapan teknologi ini membuat kita selalu terlambat merespon
perubahan. Itulah dampaktbudaya meniru, bukan budaya mencipta. Beban bangsa
menjadi semakin berat.
5. Nasionalisme atau Ultra Nasionalme (Fasisme)
Ide-ide nasionalisme biasanya akan timbul dan berkembang secara luas pada
awal-awal pergolakan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah (dasarnya
adalah kesamaan nasib dan tujuan). Di zaman pergolakan fisik dan awal
kemerdekaan ide-ide nasionalisme bisa tumbuh berkembang, tetapi dalam satu
babak sejarah indonesia ide-ide Nasionalisme yang keterlaluan ini dalam
prakteknya akan menjadi bibit-bibit fasisme. Dalam sejarah Indonesia tahun
30-an kita mengenal Partai Fasis Indonesia (PFI) yang dipimpin oleh dr.
Notonindito, seorang nasionalis Jawa. Bahkan pada masa itu orang-orang
terbiasa memberi salam "HEIL, HITLER atau HEIL, FUHRER." Wanita-wanita pun
lazim mengucapkan salam serupa lengkap dengan gayanya. Fasisme Jerman memang
menerbitkan kekaguman. Kedatangan Jepang pun (yang masuk dalam Triple
Aliancy dengan Jerman dan Italia) yang disambut sebagai saudara tua pada
awal pendudukannya masih berkaitan dengan semangat Nasionalisme ini, karena
orang Indonesia beranggapan Jepang akan membantu mengusir Belanda atau
Sekutu. Dengan kata lain membantu meraih kemerdekaan, membangun sebuah
negara bangsa (nasion). Banyak pemuda kita yang bergabung dalam Heiho dan
PETA, dengan keyakinan tindakan tersebut merupakan wujud dari Nasionalisme.
Tetapi pada bulan Pebruari 1942, seorang pimpinan PETA bernama Supriadi
melakukan pemberontakan di Blitar akibat Jepang tidak menepati janjinya
untuk menyerahkan kedaulatan. Jadi, sejarah membuktikan bahwa Nasionalisme
yang berlebihan itu merupakan satu ladang empuk bagi penaburan dan
pertumbuhan bibit-bibit Fasisme (Ultra Nasionalisme). Dalam sejarah terlihat
bahwa Nasionalisme-lah yang kemudian diperalat oleh kaum Fasis demi mencapai
tujuannya. Petinggi-petinggi militer kita selalu berkata bahwa penculikan,
pembunuhan, dan pemenjaraan terhadap rakyat, bahkan DOM di Aceh atau
pembantaian rakyat sipil di Timor Timur adalah demi MENJAGA PERSATUAN dan
KESATUAN BANGSA, demi keutuhan nasional. Pada saat mereka dipanggil Tim
Pansus di DPR tak tampak penyesalan membunuhi orang sampai jutaan, melainkan
kebanggaan bahwa dengan tangan berlumur darah bangsa sendiri itu adalah
untuk menegakkan negara Republik Indonesia. Jadi, sebagai seorang nasionalis
kita harus berhati-hati jangan sampai kelewatan atau jadi alat kaum fasis
maupun militeris yang berslogan mirip.
>Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
Mashuri
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!