Bagaimana dengan yang di bawah ini?

==========================================================


RATUSAN ORANG KRISTEN DITAMPUNG PONDOK PESANTREN SERAM UTARA

AMBON, (SiaR, 22/1/2000). Pondok Pesantren Khairul Ummah, Seram
Utara, pimpinan K.H. Syahroni menampung 800 umat Kristen yang mengungsi dari 
konflik antar pemeluk agama di Maluku. Pondok pesantren yang terletak di 
Kobisonta, Kecamatan Seram Utara, Maluku Tengah itu, sudah lebih dari seminggu 
mengamankan ratusan jiwa warga Kristen. Pangdam Pattimura Brigjen TNI. Max M. 
Tamaela dan Gubernur Maluku Saleh Latuconsina mengunjungi lokasi penampungan 
para pengungsi ini pada Jumat (21/1) setelah mendengar kabar tersebut.

Kondisi para pengungsi sejauh ini dalam keadaan baik. Pangdam Max
Tamela dalam pertemuan dengan K.H. Syahroni, menawarkan bantuan tenaga aparat 
keamanan untuk membantu pengamanan pondok, namun Syahroni menolaknya. Syahroni 
menjamin para pengungsi dari Kecamatan Tehuru dan Kecamatan Werinama, Maluku 
Tengah ini, akan diperlakukan secara baik-baik oleh para santrinya dan juga 
mendapat penjagaan. "Pangdam tidak perlu khawatir," begitu ujar Syahroni 
sebagaimana ditirukan Max. Pihak Pemda Maluku sendiri
rencananya akan mengevakuasi para pengungsi tersebut pada 23 Januari nanti. ***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html




sengaja subyeknya saya ganti, karena sudah nggak cocok lagi)
  
> > Dalam perspektif saya, kalau konflik Maluku terus menerus dipelintir 
menjadi
> > konflik agama, maka tidak akan selesai. Aslinya memang bukan konflik 
agama,
> > tetapi dipelintir oleh orang2 yang senang untuk membuat keributan 
sehingga
> > persoalan bangsa ini yang lebih mendesak tidak dapat diselesaikan. 
>
> WAM:
> Bung Martin,
> Percayakah anda bahwa konflik Maluku bukan konflik agama? 
> Rasanya terlalu naif pendapat seperti ini.
> Takutkah anda mengakui bahwa SARA merupakan bibit konflik laten di negara 
> kita?
  
Martin:
Saya percaya itu bukan konflik agama. Saya membagi konflik Maluku dalam 3 
sekuen. Pertama, adalah pembakaran rumah-rumah Ibadah (Mesjid dan Gereja). 
Ketika itu, orang-orang Maluku sendiri tidak banyak terlibat dalam 
pembakaran tersebut, seperti juga terjadi di Tasikmalaya, Ketapang, 
Situbondo dan di tempat-tempat lain. (Siapa yang melakukan? Harus 
diselidiki). Kedua, karena pembakaran2 tersebut rupanya masih kurang untuk 
memicu "perang sipil" antar orang Maluku, maka mulailah sekuen berikutnya; 
pembakaran kampung-kampung yang mayoritas dihuni orang Islam dan Kristen. 
Orang Islam menuding orang Kristen yang membakar kampungnya, sementara orang 
Kristen menuding orang Islam yang membakar kampungnya. Di sini mulai 
provokasi itu efektif, dan gejala awal perang sipil mulai terjadi. Ketiga, 
situasi itu diperburuk oleh elite-elite lokal yang mengambil kesempatan. 
Itulah sekuen berikutnya; elite lokal bermain atas konflik Maluku dengan 
sentimen SARA.
  
Jadi, kembali, dalam perspektif saya, konflik Maluku bukan konflik agama. 
Beratus-ratus tahun, Islam dan Kristen hidup di kepulauan itu tanpa ada 
perselisihan apalagi "perang sipil". Kawan saya yang orang Maluku 
mengatakan, bahwa sebenarnya di Maluku itu tidak ada orang yang beragama 
Islam dan Kristen, yang ada adalah "Agama Maluku/Ambon", karena begitu 
kuatnya ikatan dan tradisi adat mewarnai kehidupan masyarakat Maluku.
  
Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin> 
____________________________________________ 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
  
  
-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===- 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
  
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke