Mas Aguswandi dan mbah Soel,
Saya pernah menanyakan kepada beberapa teman di Pemda mengenai
kemungkinan DIY menjadi Negara Federasi. Mereka menjawab:"tuh
lihat bagaimana Sultannya lagi repot memikirkan sumber pendapatan
daerah karena yogya tidak memiliki SDA". Setahu saya (dari
beberapa sumber), kini strategi DIY adalah Kecamatan sebagai
pusat pertumbuhan.
Teman itu memang tidak menjawab secara eksplisit pertanyaan saya
namun tersirat bahwa memang tidak ada pemikiran atau niat kesana.
Mungkin benang merah itu bisa dilihat: Pertama, sejak penyerahan
wilayah RI ke Negara Indonesia yang diproklamirkan tanggal
17-8-45. Ke dua, ketika Serangan Umum 1 Maret untuk menunjukkan
kepada dunia luar bahwa negara RI masih ada. Ke tiga ketika korban
mhs di Yogya semakin berjatuhan dalam demonstrasi melawan ABRI
karena menuntut Soeharto turun maka pada 20 Mei 98 seluruh Rakyat
Yogya menyemut di jalan menuju alun-alun utara dalam Pisowanan
Ageng yang diporosi oleh UGM dan Keraton untuk menuntut Soeharto
turun. Tidak ada kerusuhan sama sekali dalam acara tersebut. Ke
empat ketika setelah reformasi muncul 48 partai dan kita tidak
tahu apakah Pemilu akan berjalan atau tidak maka Sultan Yogya
mendahului dengan deklarasi 48 partai Peserta Pemilu disertai
dengan prosesi yang didahului oleh pembukaan Songsong Kasultanan
Yogya bertingkat tiga dan berwarna merah, temanya adalah "dari
Yogya menuju Persatuan dan Kesatuan Indonesia. Yang terakhir dan
baru saja terjadi (boleh setuju boleh tidak) Sultan mengundang
empat tokoh itu. Jadi, di jaman modern ini tampaknya DIY memang
lebih memikirkan Persatuan dan Kesatuan NKRI. Artinya, Yogya
memang konsisten.
Agar jangan melupakan sejarah, ketika Pemerintahan RI ada di
Yogya, gaji Presiden dan Wapres serta para menteri berasal dari
Keraton. Dan, Visi Pemerintahan DIY "Tahta Untuk Rakyat " itu
tetap dipegang hingga kini.
mBah Soel, di DIY banyak bertebaran asrama-asrama mhs dari
berbagai daerah dengan nama legenda daerahnya seperti Mahakam,
Kutai, Lambung Mangkurat, Cut Nyak Dhien, Pasundan, Saraswati,
dll. Saya pikir nama Sriwijaya atau Mundingwangi belum ada di DIY
(apa Mataram memiliki hubungan dengan Bubat?) bukan semata-mata
karena dipengaruhi oleh legenda Bubat.
salam.
----- Original Message -----
From: Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, August 03, 2000 3:07 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Kalau mau jujur!
--- mbah soeloyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> hehe.. mas aswat, mas aswat.
> kok nanya nengok kebelakang, segala.
> kalau mau jujur, sebenarnya bangsa indonesia itu
> belum pernah ada. buktinya masih sangat mudah
> terbawa sentimen-sentimen primordial, macam apapun.
>
> memang sih, peradaban bangsa (kalau digebyah uyah)
> nusantara pernah maju sekali. bahkan pernah
> punya kampus-agama budha di luar negeri (nalandha?)
> kelolaan raja balaputra-dewa di pamalayu. yang lebih tua,
> pernah hidup rukun membangun KALASA, sebagai rasa
> syukur atas bergabungnya Budha-Syiwa. sehingga raja
> jawa waktu itu dianggap sebagai pelindung penguasa khmer.
> pernah pula membangun salah satu keajaiban dunia, berupa
> BOROBUDHUR, tapi di balik itu... tetaplah belum pernah berhasil
> melanggengkan kerukunan.
>
> tengok saja, sampai kini, mana ada nama jalan GAJAH MADA
> atau HAYAM WURUK di tanah pasundan? sebaliknya mana
> ada nama jalan MUNDING-WANGI atau SURAWISESA di wilayah
> Jatim-Jateng? nggak ada kan.. dan ke-4 tokoh itulah lambang
> perang BUBAT. lebih ke depan, mengapa dulu Trenggana
> mengganyang Pakuan, Kalapa (jakarta sekarang) dan Sunda
> (Banten),
> alasannya sepele... karena raja Pakuan mengikat janji
> perdagangan
> dengan Portugis di Malaka.... mengapa pula Sultan Agung jadi
> kalah
> menggempur Batavia, karena kehabisan logistik?
>
> demikianlah mas, kalau kita mau jujur. masalah sekarang menjadi
> pertentangan antara kristen dan islam, itu hanya sekedar
> berganti
> "kudung" atau payung... dan sifat inilah yang mungkin menjadi
> modal bagi "pihak ketiga" itu, untuk semakin ngubek-ubek air
> keruh. itu pulalah, mungin penyebab mengapa dulu pendiri
> indonesia menetapkanwilayah nusantara menjadi NKRI,
> bukan negara serikat. dan itu pulalah mengapa waktu pertama
> sekali didengungkan pancasila, sila persatuan-lah yang di
> urutan pertama.
>
Tulisannya kok kontradiksi begitu ? Disebutkan antar suku di
Nusantara selalu melakukan perang
suku, lho kok penyelesaiannya pake NKRI. Berarti selama ini kita
piara api dalam sekam dong ?
Kenapa enggak federasi saja ? Tapi yah, memang kita sudah terbiasa
iya-iya saja, ho-oh ho-oh saja,
saya enggak tau kita ini hidup di jaman Sultan Agung atau jaman
Modern ...
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!