--- �� <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> ��:
> Kalau SDA tersedia dan tidak didayagunakan maka akan menjadi
> pemborosan. Kolonialis itu tertarik ndekem di Indonesia juga
> karena SDA. ---dihapus--- Amerika mau
> membantu Kuwait dalam perang Teluk apa karena semata-mata faktor
> kemanusiaan?
Saya tidak bilang tinggalkan SDA, tapi kenapa selalu yang diandalkan itu SDA ? SDA
jelas berguna,
tapi kalau SDA nya habis dan SDM nya memble terus kita mau apa ? Perkara perang Teluk
itu
sebenarnya yang paling berkepentingan itu adalah perusahaan-perusahaan minyak Amerika.
Sebenarnya
juga kalau mau teknologi sudah mampu menggantikan minyak sebagai pengganti bahan
energi, tapi
perusahaan-perusahaan minyak yang didominasi amerika dan inggris apakah mau kehilangan
keuntungan
dari jaringan mereka yang multinasional ?
Lagi pula trend yang berkembang sekarang adalah back to nature, atau ambil istilah LSM
di
Indonesia 'Ruwatan Bumi'. Lihat saja fenomena kerusuhan sidang WTO di seattle.
Kemudian trend
bahwa sebuah perusahaan bisa tumbuh jadi raksasa tanpa perlu jadi multinasional, tanpa
perlu
mengandalkan SDA dan mengusik bumi, tapi melulu SDM. Microsoft contohnya. Ini memang
trend di
negara maju, negara berkembang jelas ketinggalan. Saat negara maju berusaha
membebaskan diri dari
akibat-akibat industri pengolahan SDA, kita sedang berusaha mengulangi kesalahan
negara maju,
masalah inti indorayon contohnya. Apakah ada jalan ke luar, saya sendiri bingung. Tapi
bagi saya
SDM adalah keharusan.
> ��:
> Berjalanlah ke Malioboro disana bertebaran karya orang yang mau
> berkreasi. DAGADU identik dengan Yogya, demikian juga dengan
> Primagama. Mereka adalah kumpulan anak muda yang berkreasi. Saya
> mengamati banyak anak-anak muda yang sudah menjadi exporter
> kerajinan dan mebel. Ini jaman modern bukan jaman Sultan Agung.
Jangan sewot ah, saya betul menghargai itu, di sentra-sentra 'kota budaya' (Jogja dan
Bali),
selalu tumbuh kreatifitas, yang berarti SDM maju, kenapa begitu, saya pikir anda sudah
tahu
masalah dasarnya. Tapi Indonesia bukan Jogja dan Bali saja. Tolong juga jangan mikir
SDM itu
hubungannya selalu dengan pendidikan tinggi, ada yang lebih mendasar dari itu.
>
> ��:
> Biarpun SDM nya berpendidikan kalau hanya menjadi cecunguk juga
> percuma. Ujung-ujungnya Kridho Lumahing Asto. Maka bangsa kita
> mudah dijajah dan diadu domba dari dulu hingga kini.
Anda sudah tahu khan, meski pendidikan telah banyak menghasilkan sarjana, ternyata
kita seperti
ini. Kayak seorang pemuda dan seonggok jagung. Apa ini yang dimaksudkan dengan
pendidikan yang
benar? Soeharto dan Habibie pernah teriak-teriak tentang SDM, tapi SDM yang bagaimana
? Tentunya
yang manut pada mereka, dan lagi mereka cuma di mulut saja. Pendidikan yang baik tidak
perlu
pendidikan sampai S5. Inilah inti masalahnya. Kalau saya omong tentang pendidikan yang
baik, nanti
jadi cenderung teoritis. Apalagi ternyata komponen penunjangnya (guru, antara lain)
masih
dikuasai oleh orang-orang lama. Demo guru kemarin faktanya.
>
> ��:
> Apakah Batik, ukiran, dan Jamu tidak dikenal di dunia?
Semua itu memang terkenal, yang saya maksud dengan pokemon itu, adalah hasil
kreatifitas kita
jaman sekarang. Masak sih kita selalu mengandalkan kreatifitas nenek moyang saja.
> ��:
> Di Bali ada sebuah camp yang bergerak di bidang Teknologi
> Informasi. Baca dhong biar nggak Tulalit. Saya melihat sudah
> banyak disain TI karya bangsa sendiri.
Syukurlah, sayang berita begini enggak dimuat besar-besar sehingga saya sampek
tulalit. Lagi-lagi
Bali, dan Bali, kenapa ya ?
> ��:
> Apakah IPB selama ini tidak melalukan itu? Atau karena alumninya
> lebih suka berkarya dibidang lain? Orba memang telah membuat kita
> tidak mengenali identitas diri, dan itu kita sudah menyadari.
Tanya mbah Soel, masak kalau pertanian beloknya langsung IPB ? Pertanian khan bukan
monopoli IPB
saja, UGM ada, Ubraw ada, dimana-mana ada, tapi kenapa kalah dengan para 'bangkok'
itu. F. Rahardi
dalam tulisan di Kompas minggu lalu sebagian sudah menjawab permasalahannya rasanya.
> Pendidikan yang baik itu yang bagaimana?
Anda ini tanya apa ngetes ? Situ pernah tulis disini katanya dekat dengan Revrisond
Baswir.
>
> ��:
> Apakah mempunyai pemikiran bagaimana tesa yang pas sesuai dengan
> kondisi dan situasi bangsa Indonesia pada saat itu, yaitu ketika
> Soekarno muncul dengan gagasan nasionalisme? Atau apa yang
> mestinya dilakukan Soekarno pada saat itu?
Saya enggak punya pemikiran kalaupun punya itu hanya berandai-andai saja. Tapi sejarah
sudah
menjawabnya sendiri. Anda bisa mencari sendiri dalam sejarah Indonesia, bagaimana
gagasan Soekarno
dan bagaimana tesa/gagasan Hatta-Syahrir, kenapa sampai muncul PNI Pendidikan, apa
titik beratnya.
Malah Belanda menganggap gerakan Hatta-Syahrir jauh lebih berbahaya daripada gerakan
Soekarno,
oleh karena itu mereka lebih cepat di Digulkan. Setelah kemerdekaan lagi-lagi mereka
beda
pendapat, Soekarno ingin satu partai, Hatta malah mengeluarkan maklumat 3 November.
Yang
dijalankan Syahrir dengan kabinet KNIPnya. Setelah pengakuan kedaulatan Hatta pernah
usul tentang
RIS, tapi arus besar lebih mendukung Soekarno. Jaman Orla, antitesa memberangus tesa.
Orba
lebih-lebih lagi. Sampai sekarang pun pemikiran ketiga tokoh itu masih hidup, meski
partai-partainya sudah wafat semua. Sebagai contoh kecil saja, lihat sepak terjang
pdip dan sepak
terjang orang-orang mantan psi dan kadernya. Kupikir inilah rohnya. Bahkan roh itu
sudah tercermin
dalam Pancasila.
> ��:
> Yang pertama, menurut saya federasi berbeda dengan otonomi luas.
> Jadi, federasi dan otonomi luas tidak setara. Sebaiknya kita tidak
> mencampur aduk dua terminologi itu seandainya konotasi federasi
> adalah seperti di Amerika. Yang ke dua, freedom is not free,
> freedom is compromise, we have to pay for the freedom.
Ya kalau langsung khan bisa jadi berantakan, sekarang semuanya diserahkan ke
masyarakat, kupikir
anda dapat merasakan kemana arahnya ini, berbareng dengan jalannya UU otonomi dahulu,
mungkin 20
tahun yang akan datang baru federasi, atau bisa jadi otonomi luas saja yang artinya
bisa identik
dengan federasi. Cuma sayang kadang kita kebablasan, terutama dalam perimbangan
keuangan. Bila
anda mengikuti tulisan Christianto Wibisono tiap Selasa di Pembaruan, anda tahu
ngawurnya kita
perkara otonomi luas yang melebihi federasinya AS.
>
> ��:
> Bagaimana pemikiran Bung melihat fenomena saat ini? Civil society
> atau civilized society?
Saya melihatnya sebagai masa transisi saja, masa-masa mencari keseimbangan yang baru,
masa-masa
mencari pegangan yang baru. Namun satu yang pasti kesadaran baru mulai tumbuh, dan
saya kira
itulah bibit-bibit civil society. Jadi civil society masih dalam proses yang dini
sekali. Mungkin
proses ini bisa berlangsung 1 generasi. Setelah segalanya dituntun, dipimpin,
tiba-tiba disuruh
berdiri sendiri bertanggung jawab sendiri, banyak masalah psikologis. Ada yang ingin
kembali ke
masa lalu, ada yang ingin menang sendiri, ada yang optimis, ada yang pesimis, ada yang
ingin cepat
dapat kebagian kekuasaan. Sebuah cermin terguncangnya kepercayaan diri.
Kita sudah sama-sama memahami permasalahan
> yang dihadapi oleh bangsa ini dan kini kita mempunyai persoalan
> serius berakitan dengan kelangsungan bangsa dan negara ini. Oleh
> karena itu, terus menerus bersikap apriori dan menyalahkan saya
> pikir juga tidak ada learning point yang diperoleh.
Manusia menuju masa depan dengan berjalan mundur, saat berjalan itu dirinya melihat
sejarah
seperti melihat bangunan yang sedang terbakar hangus dan tinggal puing-puing. Dalam
perjalanan itu
usaha manusia hanyalah berusaha mengecilkan kebakaran, sambil mempelajari kenapa
sampai ada
kebakaran, agar kebakaran besar tidak terulangi lagi. Saya yakin anda juga mengerti
perbedaan
menyalahkan dan menumbuhkan kesadaran, seperti ajaran pendidikan yang baik yang
mungkin pernah
anda pelajari. Bagi saya sekaranglah saat yang tepat untuk merefleksikan segala
sesuatu. Seperti
biasa manusia selalu terlambat, berefleksi setelah tertimpa kemalangan, tapi refleksi
yang baik
tentunya adalah refleksi dengan kesadaran baru, daripada cuma janji tidak mengulangi
lagi.
Referensi yang menurut saya baik perkara SDM dan pertalian sejarahnya bisa dibaca di
kolom
Parakitri, dalam menyambut millenium ke 3 di Kompas.
terima kasih
agus
agak gundul sedikit
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Kick off your party with Yahoo! Invites.
http://invites.yahoo.com/
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!