--- �� <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> ��:
> Karena itulah awal yang kita punya. Katakanlah itu unsur kekuatan
> bangsa ini. Sebagai contoh bagaimana mungkin produksi ikan kita
> kalah dari negara-negara di asia yang memiliki luas lautan lebih
> kecil dari kita? Apakah ini semata-mata disebabkan oleh masalah
> SDM?

Ya, karena SDMnya wawasannya sempit, Faktor kesalahan sejarah juga berperan. Ini 
panjang
sejarahnya, akarnya bisa diurut sampai tahun 1600. Cuma sedikit yang menyadari bahwa 
kekuatan
Indonesia justru di laut. Negara maritim tapi penguasanya AD. Saya pun pernah enggak 
diuwongke
sama atasan sewaktu ngomentari tentang proyek standarisasi kapal ikan Indonesia (yang 
ternyata
disetujui oleh mbah Soe). Mana mungkin Indonesia yang sedemikian luas dengan 
karakteristik laut
yang berbeda-beda, kapal ikannya perlu distandarkan. Kalaupun distandarkan pasti 
harganya mahal
dan nelayan tidak mampu membayar. Lebih baik gunakan saja kapal nelayan yang sudah 
ada, dengan
perbaikan sistem penangkapan, penyimpanan, serta perbaikan jaringan pemasaran, dan 
kampanye bahwa
makan ikan sangat menyehatkan. Tapi dibelakang itu ternyata kembali lagi masalah uang, 
ketamakan,
dll, jadi ya enggak dianggap. 

Masalah Ambon sekarang ini misalnya, sebenarnya secara tidak langsung adalah akibat 
dari
dicanangkannya Indonesia kembali menengok ke laut.

> ��:
> Pada Tahun 1983, Soedrajat Jiwandono telah menulis bahwa setelah
> tahun 90 kita tidak akan bisa lagi mengandalkan minyak sebagai
> sumber pendapatan karena konsumsi dalam negeri yang terus
> meningkat. Kini kita benar-benar mengalami impor bahan bakar dari
> neara asean. Artinya, kita sebenarnya juga mempunyai orang yang
> tahu, namun mengapa pemerintah tetap saja nekad? Padahal orang
> yang berpendidikan (SDM) juga semakin banyak?

Sekali lagi saya bertanya kepada anda pendidikan jaman orba itu sudah benar atau 
enggak ? 

> Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
> Lihat saja fenomena kerusuhan sidang WTO di seattle.
> 
> ��:
> Yang saya tangkap adalah bahwa lembaga itu pada dasarnya semakin
> menyulitkan negara berkembang dan semakin menguntungkan negara
> maju. Justru disinilah persoalannya kalau kita mengiktui irama
> permainan negara maju. Kita akan selalu di dikte.

Ada yang lain disitu, ternyata WTO sendiri ditentang oleh LSM-LSM negara maju. Cuma 
fokus mereka
bukan mau nolongin orang-orang miskin negara berkembang, tapi ingin menyelamatkan 
lingkungan,
serta binatang. Yang lucu itu mereka enggak mikirin manusia miskin di negara 
berkembang, tapi
lebih mikirin binatangnya. Yang lebih aneh lagi negara-negara berkembang justru 
merengek-rengek
kepada negara maju, agar negara maju datang dengan uang mereka, dan mengeksploitasi 
SDA mereka.
Kalau paradigmanya masih dikte-mendikte kita rasanya ketinggalan jaman. Lha wong 
negara berkembang
minta didikte begitu. Bingung khan ? 

> ��:
> Nah disinilah letak ketidakadilan itu. Mengapa masing-masing tidak
> bertumpu pada keunggulannya? Mengapa negara berkembang harus
> mengikuti pola permainan negara maju termasuk mengikuti isu-isu
> yang menguntungkan mereka (maksudnya ketika mereka sudah belajar
> dari kesalahan?)

Apa sih yang dimaksud dengan 'kemajuan' itu ? Apakah ada alternatif lain untuk 'maju', 
diluar
definisi maju yang selama ini kita lihat dan rasakan ? Apakah ada kemungkinan 
"penjajahan
kesadaran" disini? Apakah mungkin mengisolasi diri di tengah dunia yang kian cair ini 
?  

> ��:
> Maaf sudah terlanjur salah mengartikan.
> Namun, apa sih yang lebih mendasar itu?

Yakni sdm yang mendapatkan pendidikan yang tidak mengasingkan dirinya dari 
lingkungannya. Terus
terang saja sejak SD kita telah dididik untuk mengasingkan diri dari lingkungan. 
Pendidikan hanya
punya satu tujuan, meraih gelar, dan ini inheren dengan 'budaya kita'. Sekarang lebih 
parah lagi,
bila punya uang bisa beli gelar S2, S3, bahkan doktor honoris causa.

> ��:
> Saya pikir, UU
> Otonomi yang seperti itu juga hasil dari sebuah tarik menarik atau
> keinginan untuk menenggang keinginan mereka yang ingin memisahkan
> diri. Tadi siang, GD melalui Marsilam telah menjelaskan bahwa
------------------------dihapus--------------------
Saya cuplik wawancara Daily Yomiuri omongan GD tentang federasi sekitar Dec 99:

>Could you elaborate on your idea of the federal political system?
>
>You know that federalism is a dirty word in our politics. People don't like
>it--Mrs. Megawati, my vice president, for one. So on this matter, we have
>to be very careful. But, of course, the idea of giving the people full
>autonomy, which is not very different from the federal system, can be
>accepted. So in essence we do what we don't talk about. (laughter)
------------
> 
> ��:
> Sayangnya, kesadaran baru itu juga membutuhkan modal keberanian
> untuk berani tampil beda. Kalau tidak, he... he... refleksi yang
> mubazir.... Mas. banyak contohnya....

Ah ini komentar yang biasa dari yang takut ditinggal sendirian, karena pendiriannya. 
Atau kata
orang bijak 'takut kebebasan'. Bagi saya tidak ada refleksi yang mubazir, karena 
refleksi adalah
buah pertanyaan dan kesadaran manusia. Refleksi juga bagian dari kontrol. Seperti 
analisa SWOTH.
Yang terpenting adalah lompatan kesadaran, sebab setelah memperoleh kesadaran baru 
kita tidak akan
kembali lagi pada kesadaran yang lama. Bukankah ini hakekat dari pendidikan ?

> ��:
> Tx, akan saya baca. Wah Anda pembaca setia Kompas ya.... padahal
> aku bukan.

Enggak juga, kebetulan saja, sering dapat inside story dari situ. Itu referensi "yang 
saya anggap
baik", kalau anda punya yang lain yang lebih baik, ya bagi-bagi dong.



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Kick off your party with Yahoo! Invites.
http://invites.yahoo.com/

->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke