----- Original Message -----
From: Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>

Saya tidak bilang tinggalkan SDA, tapi kenapa selalu yang
diandalkan itu SDA ?

��:
Karena itulah awal yang kita punya. Katakanlah itu unsur kekuatan
bangsa ini. Sebagai contoh bagaimana mungkin produksi ikan kita
kalah dari negara-negara di asia yang memiliki luas lautan lebih
kecil dari kita? Apakah ini semata-mata disebabkan oleh masalah
SDM?

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
SDA jelas berguna,
tapi kalau SDA nya habis dan SDM nya memble terus kita mau apa ?

��:
Pada Tahun 1983, Soedrajat Jiwandono telah menulis bahwa setelah
tahun 90 kita tidak akan bisa lagi mengandalkan minyak sebagai
sumber pendapatan karena konsumsi dalam negeri yang terus
meningkat. Kini kita benar-benar mengalami impor bahan bakar dari
neara asean. Artinya, kita sebenarnya juga mempunyai orang yang
tahu, namun mengapa pemerintah tetap saja nekad? Padahal orang
yang berpendidikan (SDM) juga semakin banyak?

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Perkara perang Teluk itu
sebenarnya yang paling berkepentingan itu adalah
perusahaan-perusahaan minyak Amerika. Sebenarnya
juga kalau mau teknologi sudah mampu menggantikan minyak sebagai
pengganti bahan energi, tapi
perusahaan-perusahaan minyak yang didominasi amerika dan inggris
apakah mau kehilangan keuntungan
dari jaringan mereka yang multinasional ?

��:
Masalahnya kan disitu. Bahkan pada jaman Orla, jalan lintas
Sumatra akan dibangun oleh Ford asal Ford memonopoli pasar mobil
di Indonesia. Namun, Soekarno tidak mau.

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Lagi pula trend yang berkembang sekarang adalah back to nature,
atau ambil istilah LSM di
Indonesia 'Ruwatan Bumi'.

��:
Di Sambilegi-Sleman DIY ada sebuah lab enerji alternatif, yaitu
kincir angin vertikal yang didisain oleh prof Seno,  yang menjadi
tempat studi beberapa mhs asing. Enerji alternatif itu jelas
sangat cocok dengan kondisi geografis Indonesia. Mengapa enerji
alternatif itu tidak berkembang pemakaiannya? Masalah SDM?

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Lihat saja fenomena kerusuhan sidang WTO di seattle.

��:
Yang saya tangkap adalah bahwa lembaga itu pada dasarnya semakin
menyulitkan negara berkembang dan semakin menguntungkan negara
maju. Justru disinilah persoalannya kalau kita mengiktui irama
permainan negara maju. Kita akan selalu di dikte.

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Kemudian trend
bahwa sebuah perusahaan bisa tumbuh jadi raksasa tanpa perlu jadi
multinasional, tanpa perlu
mengandalkan SDA dan mengusik bumi, tapi melulu SDM. Microsoft
contohnya. Ini memang trend di
negara maju, negara berkembang jelas ketinggalan.

��:
Nah disinilah letak ketidakadilan itu. Mengapa masing-masing tidak
bertumpu pada keunggulannya? Mengapa negara berkembang harus
mengikuti pola permainan negara maju termasuk mengikuti isu-isu
yang menguntungkan mereka (maksudnya ketika mereka sudah belajar
dari kesalahan?)

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Saat negara maju berusaha membebaskan diri dari
akibat-akibat industri pengolahan SDA, kita sedang berusaha
mengulangi kesalahan negara maju,
masalah inti indorayon contohnya.

��:
Yang pertama, teknologi pengolahan SDA itu datang dari negara
maju. Jadi kita membelinya dari mereka termasuk sistem pengrusakan
lingkungannya. Tentunya sudah membaca sejarah dan latar belakang
gagasan pendidirian serta proses kepemilikiannya bukan?

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Apakah ada jalan ke luar, saya sendiri bingung. Tapi bagi saya
SDM adalah keharusan.

��:
Saya mempunyai teman di Jerman yang menjadi seorang officer di
sebuah Bank terkenal di Jerman yang hanya berpendidikan setara
SMU. Ketika saya memberitahu bahwa disini  jabatan itu menjadi
rebutan mereka yang berpendidikan post graduate dia sangat
terkejut. Juga salah satu representatif Siemens yang sedang
berkunjung ke Yogya berpendidikan setara undergradute yang sudah
bekerja disitu selama 9 tahun. Bandingkan dengan di Indonesia.
Berapa banyak S3 dan S2 yang bertebaran di berbagai kantor dan
jabatan pemerintahan. Sampai menumbuhkan sisi supply MM kaki lima.
Is that what you meant?

Penutup:
Saya melihat fenomena bertahan industri Jepang yang menarik. Pada
awalnya mereka mencoba untuk bertahan hidup dan bukan untuk
bersaing namun akhirnya malah memunculkan temuan-temuan Gemba yang
mengakibatkan mereka menang bersaing dengan industri AS.  Bahkan
ganti industri AS yang belajar.

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Tolong juga jangan mikir SDM itu hubungannya selalu dengan
pendidikan tinggi, ada yang lebih mendasar dari itu.

��:
Maaf sudah terlanjur salah mengartikan.
Namun, apa sih yang lebih mendasar itu?

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Anda sudah tahu khan, meski pendidikan telah banyak menghasilkan
sarjana, ternyata kita seperti
ini. Kayak seorang pemuda dan seonggok jagung. Apa ini yang
dimaksudkan dengan pendidikan yang
benar? Soeharto dan Habibie pernah teriak-teriak tentang SDM, tapi
SDM yang bagaimana ? Tentunya
yang manut pada mereka, dan lagi mereka cuma di mulut saja.
Pendidikan yang baik tidak perlu
pendidikan sampai S5. Inilah inti masalahnya. Kalau saya omong
tentang pendidikan yang baik, nanti
jadi cenderung teoritis. Apalagi ternyata komponen penunjangnya
(guru, antara lain) masih
dikuasai oleh orang-orang lama. Demo guru kemarin faktanya.

��:
Kayaknya kita tidak berbeda pendapat.

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Semua itu memang terkenal, yang saya maksud dengan pokemon itu,
adalah hasil kreatifitas kita
jaman sekarang. Masak sih kita selalu mengandalkan kreatifitas
nenek moyang saja.

��:
Ya sudah Dagadu aja deh...

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Syukurlah, sayang berita begini enggak dimuat besar-besar sehingga
saya sampek tulalit. Lagi-lagi
Bali, dan Bali, kenapa ya ?

��:
Pernah dimuat sekali di Warta Ekonomi kalau tidak SWA.  Penghuni
Camp itu bukan orang Bali. Pemilihan Lokasi lebih didasarkan pada
pertimbangan efisiensi. Mengapa tidak dimuat besar-besaran? Apakah
Lab enerji alternatifnya Prof Seno banyak diketahui orang, bahkan
oleh mhs teknik di Yogya? mengapa?

> ��:
> Apakah IPB selama ini tidak melalukan itu? Atau karena alumninya
> lebih suka berkarya dibidang lain? Orba memang telah membuat
kita
> tidak mengenali identitas diri, dan itu kita sudah menyadari.


Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Anda ini tanya apa ngetes ? Situ pernah tulis disini katanya dekat
dengan Revrisond Baswir.

��:
Yang ngomong teman dekat adalah WAM.

>
> ��:
> Apakah mempunyai pemikiran bagaimana tesa yang pas sesuai dengan
> kondisi dan situasi bangsa Indonesia pada saat itu, yaitu ketika
> Soekarno muncul dengan gagasan nasionalisme? Atau apa yang
> mestinya dilakukan Soekarno pada saat itu?

Saya enggak punya pemikiran kalaupun punya itu hanya
berandai-andai saja. Tapi sejarah sudah
menjawabnya sendiri. Anda bisa mencari sendiri dalam sejarah
Indonesia, bagaimana gagasan Soekarno
dan bagaimana tesa/gagasan Hatta-Syahrir, kenapa sampai muncul PNI
Pendidikan, apa titik beratnya.
Malah Belanda menganggap gerakan Hatta-Syahrir jauh lebih
berbahaya daripada gerakan Soekarno,
oleh karena itu mereka lebih cepat di Digulkan. Setelah
kemerdekaan lagi-lagi mereka beda
pendapat, Soekarno ingin satu partai, Hatta malah mengeluarkan
maklumat 3 November. Yang
dijalankan Syahrir dengan kabinet KNIPnya. Setelah pengakuan
kedaulatan Hatta pernah usul tentang
RIS, tapi arus besar lebih mendukung Soekarno. Jaman Orla,
antitesa memberangus tesa. Orba
lebih-lebih lagi. Sampai sekarang pun pemikiran ketiga tokoh itu
masih hidup, meski
partai-partainya sudah wafat semua. Sebagai contoh kecil saja,
lihat sepak terjang pdip dan sepak
terjang orang-orang mantan psi dan kadernya. Kupikir inilah
rohnya. Bahkan roh itu sudah tercermin
dalam Pancasila.

��:
I am on your side.

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Ya kalau langsung khan bisa jadi berantakan, sekarang semuanya
diserahkan ke masyarakat, kupikir
anda dapat merasakan kemana arahnya ini, berbareng dengan jalannya
UU otonomi dahulu, mungkin 20
tahun yang akan datang baru federasi, atau bisa jadi otonomi luas
saja yang artinya bisa identik
dengan federasi. Cuma sayang kadang kita kebablasan, terutama
dalam perimbangan keuangan. Bila
anda mengikuti tulisan Christianto Wibisono tiap Selasa di
Pembaruan, anda tahu ngawurnya kita
perkara otonomi luas yang melebihi federasinya AS.

��:
Nah, ini repotnya bukan. Ketika isu federasi merebak maka yang
merasa memiliki SDA (lagi-lagi SDA, maaf) berpikir bahwa
masalahnya terselesaikan. Mereka lupa mengenai apa yang dinamakan
proses. Maka, isu disintegrasi bangsa mudah merebak bila yang
dikompori adalah orang-orang atau mhs yang cupet. Saya pikir, UU
Otonomi yang seperti itu juga hasil dari sebuah tarik menarik atau
keinginan untuk menenggang keinginan mereka yang ingin memisahkan
diri. Tadi siang, GD melalui Marsilam telah menjelaskan bahwa
terutama Irian dan Aceh karena disebabkan oleh dua faktor yaitu
eksploitasi SDA yang berlebihan namun tidak berdampak pada
lingkungan dan masyarakat sekitar, serta pengikutsertaan
masyarakat sekitar terhadap kegiatan eksploitasi itu.

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
del
Sebuah cermin terguncangnya kepercayaan diri.

��:
Ini sangat touchy..


Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Saya yakin anda juga mengerti perbedaan
menyalahkan dan menumbuhkan kesadaran,

��:
Hanya masalahnya, seringkali niat itu, karena masalah komunikasi,
menjadi tidak produktif dan bahkan menghasilkan sebaliknya. Terus
terang saya baru bisa memahami Anda setelah membaca butir-butir
yang terakhir.

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
seperti ajaran pendidikan yang baik yang mungkin pernah
anda pelajari.

��:
I wish I had.

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Bagi saya sekaranglah saat yang tepat untuk merefleksikan segala
sesuatu. Seperti
biasa manusia selalu terlambat, berefleksi setelah tertimpa
kemalangan, tapi refleksi yang baik
tentunya adalah refleksi dengan kesadaran baru, daripada cuma
janji tidak mengulangi lagi.

��:
Sayangnya, kesadaran baru itu juga membutuhkan modal keberanian
untuk berani tampil beda. Kalau tidak, he... he... refleksi yang
mubazir.... Mas. banyak contohnya....

Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Referensi yang menurut saya baik perkara SDM dan pertalian
sejarahnya bisa dibaca di kolom
Parakitri, dalam menyambut millenium ke 3 di Kompas.

��:
Tx, akan saya baca. Wah Anda pembaca setia Kompas ya.... padahal
aku bukan.

terima kasih
agus
agak gundul sedikit







->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke