Pengalaman satu tahun ini berbicara jelas : Demokrasi itu tidak begitu
gampang. Diumpamakan "game", kita mesti menguasai aturan-aturan yang
berlaku. Panjang lebarnya lapangan, lokasi gawang, berbagai garis batas,
dsb. Kapan bola dianggap out, hand, off-side, serta jumlah pemain. Perlu
latihan-latihan. Kemudian uji-coba. Terakhir, barulah taktik dan strategi ,
dan sebagainya. Ada lagi, penonton!. Uuwangelll!
Pendeknya, bisa butuh satu generasi.
Bagi orang awam seperti saya, proses diatas amat membosankan. Bagaimana kita
bisa sabar. Tiap hari kita disuguhi keteraturannya bangsa lain. Kita
menonton Liga Italia dan Liga Inggris!. Sementara itu duit kita tambah hari
tambah jeblog. Jutaan saudara kita tambah hari tambah sulit makan teratur
tiga kali.
Segi optimisnya, sebetulnya ada yang sudah kita capai. Lihatlah Mbak Mega,
pemimpin yang aslinya didukung suara sepertiga bangsa ini. Usai pemilu dulu,
betapa begonya dia . Istilah bola, mau gol, tapi nggak mau dan nggak tahu
apa itu adab bola. Bikin geli banyak orang. Apa itu mengumpan, menggocek,
menyundul, dsb. Nggak tahu hand , nggak tahu offside. Pertandingan sudah
dimulai, "beliau" masih berdiri dipinggir lapangan. Cuma mesam-mesem dan
diam saja. Silent is Golden diterapkan buat soal kerjasama-team. Bahasa
eropanya : blunder van totaal. Lawan bermain sibuk membuat gol , beliau
masih berdiri bengong. 45-0. Angka tahun kemerdekaan. Nangis. Supporternya
sama goblognya. Nggak terima teamnya hancur dan dobol total. Pokoknya mau
golnya, kalau tidak segalanya mau dihancurkan. Stadion, kursi-kursi, bahkan
rumput dilapangan. Bahkan team lawan. Jempol-pun sudah koyak kena jihad
dimana-mana. Pendek dongeng, akhirnya lawanpun ikhlas : 45-44. Mbak-pun baru
bisa tersenyum : "Lihatlah...! Ibumu telah berdiri disini !". Demikian
mengharukan dan lucu seperti muridnya Bu Kasur. Khalayak yang telah
dewasa-pun cuma bisa mengelus dada, berusaha menambah kesabaran melihat
saudara-saudaranya yang masih amat ketinggalan itu. ........
Kemudian , Lihatlah sekarang !. PDIP yang dipimpinnya seperti sudah layak
masuk liga Spanyol. Seperti layaknya Parpol dibagian dunia lain yang menang
tapi masih jauuuuh dari 50 % : Menggalang kerjasama dengan orang lain.
Menghormati orang lain yang meskipun kecil-kecil kalau dikumpulkan memang
70%. PDIP dengan penuh percaya diri meraih leadership yang memang menjadi
haknya. Sang Durna pun tersibak kerudungnya. Menyamar kyai, tapi mulutnya
belepotan fitnah. Tangannya sibuk rogoh-sana-rogoh-sini mencoba menyambar
harta haram punya orang banyak. Kemampuan nuraninya untuk mengaku pada
hal-hal yang tidak dikuasainya , nol besar. Maka Sang Durna-pun kalang kabut
ketika Mbak yang "sederhana" itu bisa belajar dari pengalaman, menjadi cukup
pintar. " Saya larang pertemuan antar ketua Parpol yang akan kamu pimpin.
MAKARRR! ". Kelihatannya ancaman dari Macan gendeng tanpa gigi itu tidak
mempan lagi. Entah-lah kalau sang Embak belum begitu tumbuh nyalinya. Gawat
dan sayang juga!.
Yang aneh adalah dari segi penonton. Sebagian besar sudah bisa mengerti
maksud Mbak. Pengikut Mbak kan memang adalah kalangan yang males mikir.
Sudah penuh digunakan untuk alat mencari sesuap nasi. Apa yang dibilang Mbak
, ya nurut saja lah ! Tapi ada pula yang dendam kusumat pada gol yang
empatpuluhlima itu. Penyakit airmata kesal masih saja membuat hambatan
sehari-hari. Sembahyang pun jadi males gara-gara mengandung : Aaamin. Karena
kapten kesebelasan lawan yang memalukan Mbak dulu ikutan meng-obrak-abrik
penyamaran Durna, Jadilah mereka sekarang pendukung buta dari sang Durna.
Mereka itu tenggelam pada kesesatan. Dukungan pada sang Durna jadi ukuran
waras-tidaknya manusia. Jadi ukuran baik-tidaknya moral manusia. Bahkan jadi
ukuran mana yang hak, mana yang batil. Ya Tuhan! Tunjukilah jalan yang
lempeng!
Ketika mayoritas manusia, dengan "ukuran sesat" tersebut masuk skala yang
amat rendah ( termasuk Dewi pujaan, Mbak Mega yang mulai galak pada
sang Durna). Ketika tinggal dirinya dan lima-sepuluh orang lain yang masuk
skala tinggi....Ya Bingung! Pusing kepala terus-menerus. Itulah akibat
melawan hukum alam : tidak mau awas membuka hati.....
Wassalam,
Abdullah Hasan.
( Telah lama sekali ..., tidak ada orang yang digebuki di milis ini.)
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--