Begini Pak Hasan.
Kita sudah bereksperimen dengan pemerintahan Soekarno dan
Soeharto. Ada plus minus dikeduanya. Hanya yang terakhir ini
biayanya lebih mahal dan kita masih merasakan hingga kini termasuk
gonjang ganjing sekarang ini.
Nah, kita baru saja bereksperimen dengan pemilu yang demokratis.
Berbagai harapanpun kemudian muncul. Di sisi yang lain, harapan
itupun menjadi harapan para investor mengenai kestabilan politik
karena stabilitas itu menjadi syarat untuk pembangunan ekonomi.
Kalau model bongkar pasang itu terjadi maka kira-kira bagaimana
dengan stabilitas itu? Apalagi, dari awal pak Hasan sudah
berwacana bahwa no problem dengan pergantian MW ditengah jalan
bila memang dia tidak mampu atau tidak benar. Padahal lagi,
majelis Mujahidin indonesia baru saja menyerukan bahwa mereka
tidak setuju dengan pemimpin wanita, juga isu negatif diseputar
peti kemas telah memunculkan teori mengenai usia jagung
pemerintahan MW bila hal itupun tidak didahului oleh bancakan
kursi kabinet dan heboh yang ujung-ujungnya ketidakpastian lagi.
Sudah mendengar mengenai scenario Benazir?
MW sudah mengatakan jangan bertikai terus dan utamakan persatuan
dan kesatuan (itu mah punya Bapaknya). Artinya, dia mestinya tahu
persis segala konsekuensi dari keputusannya. Soekarno lebih baik
tersingkir dari pada harus mengorbankan perang sauara. Seperti Pak
Hasan tahu bahwa seandainya Soekarno mau, pada saat itu pasti
terjadi perang saudara (rakyat) dan militer yaitu TNI AL + TNI AU
vs TNI AD. tetapi itu tidak dilakukan karena Soekarno lebih
mencintai persatuan dan kesatuan. Saya menunggu sejarahwan
meneliti kembali mengapa jendral KKO Hartono meninggal (masih
konfrontasi dengan Malaysia dan dua anggota KKO baru saja dihukum
gantung di Singapore dimana HMS did nothing.
Saat inipun persatuan dan kesatuan mulai terkoyak. Rahmawati lebih
mencerminkan sikap Soekarno dengan berkata MW hendaknya bersikap,
sekali lagi bersikap, dan jangan mendua.
Kalau pemerintahan berganti ditengah jalan apakah keadaan in term
of ekonomi, politik, dan keamanan akan menjadi lebih baik. Berapa
% peluangnya Pak? Lebih dari 50%?
Keadaan Indonesia memang sudah dobol Pak. Tidak mungkin masalah
itu diselesaikan sekaligus kecuali kalau model Soeharto diadopsi.
Yang repot, mereka yang membuat dobol itu tdak merasa sama sekali
bahwa mereka telah membuat Indonesia menjadi dobol.
Mengenai PDIP, silahkan mendengarkan keluhan RW mengenai kader
PDIP dari daerah. Disamping itu, mereka yang di PDIP dan sekarang
vokal sekali itu dulu ketika MW di Surabaya dikepung panser pada
berada dimana? MW hanya ditemani oleh satu teman wanita dikamar
dan sudah pasrah. Dan, cecunguk semacam Soeryadi Budi Hardjono
yang beraninya main keroyokan (dibackup militer dan pemerintah
pula) melawan wanita. Apa tidak hombreng? Zulham, Akhmadi, Anung,
Arifin, dsb pada dimana ketika peristiwa Kudatuli yang memakan
korban jiwa itu? Mengapa mereka diam pada saat MW diembat habis2an
oleh Porteng dengan berbagai isu negatifnya. Nggak ada suaranya
pak... He... he... itu mah menurut saya bagian dari sebuah grand
design.
Dibawah, aliansi PDIP dengan NU semakin solid Pak. Mengapa diatas
dan dibawah berbeda? Sudah bukan rahasia umum Pak bahwa banyak
oknumnya Soerjadi saat ini banyak bertebaran dan memegang posisi
di PDIP di daerah. Mengikuti kasus tewasnya komandan satgas PDIP
Yogya enggak? Sehingga jangan heran kalau PDIP memenangkan pemilu
disuatu daerah maka bukan jaminan bahwa mereka akan menguasai
lembaga perwakilan. Ada apa?
Bagaimanapun juga Pak Hasan bisa menghangatkan suasana milis yang
lagi sepi.
salam.
----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, May 13, 2001 8:13 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta]: BELAJAR DEMOKRASI : u/p ��
Mas Aswat,
Posisi pandang yang kadang berbeda antara kita berdua, mudah2an
bisa saling memperkaya. Demikian pula posisi-posisi yang berbeda
dalam sistim demokrasi. Sudah tentu ada syaratnya. Umpamanya, ada
mutual-respect, non-kekerasan, dsb.
Model coba-coba, yang tentunya membuka ruang untuk jatuh bangun,
bukanlah pilihan ideal saja. Itu cuma konsekwensi kelemahan
manusiawi belaka. Dalam recruitmen anggota baru suatu organisasi,
seperti perusahaan, dsb. , seringkali terjadi kebobolan. Walaupun
usaha maksimal telah dilakukan seperti saringan psikotest,
wawancara , penelitian, dst., itu semua tidak bisa jadi jaminan.
Organisasi modern masih saja, mengenakan masa percobaan, 3 bulan ,
satu tahun , dan sebagainya. Jadi adalah tindakan tolol untuk
bersikap konsisten: Sekali diterima , tetap bekerja seumur hidup.
Demikian pula buat organisasi besar seperti negara. Dalam jaman
modern, pemimpin negara disadari bukanlah "pengemban wahyu" suci
dari Tuhan. Dia manusia biasa. Dari itu seperti manusia lain,
tetaplah menyimpan berbagai kelemahan. Yang memilihpun juga
manusia. Jadi perlulah diberikan aturan hal "darurat" , bahwa
telah terjadi salah pilih. Adalah tindakan tolol pula untuk
konsisten : Sekali pilih presiden, teruslah presiden selama lima
tahun ! . Walaupun negara yang dihuni ratusan juta manusia jadi
tidak karuan.
Mengenai ide ngebuki MW dari sekarang , atas dasar apa ? Apakah
telah jelas ketidakmampuannya ? Kalau demikian rencana anda untuk
"ngebuki" dari sekarang adalah tidakan patriotik yang bertanggung
jawab. Apalagi kalau anda tidak takut digebuki Satgas. Terus
terang saya nggak mau ikut-ikut. Kalau tidak ada dasarnya, padahal
misalnya yang mendukung banyak, sampai lebih dari separuh , ya
kita mesti legowo untuk memberi kesempatan MW pegang kendali RI 1.
Apabila nanti ternyata "dugaan" anda tepat, MW lebih bego dari GD,
dia baru boleh digebuki. Memo 1 , Memo 2 , SI..... : Ngelundung.
Apakah ada alternatif lain dari coba-coba yang anda tidak setuju
itu ? Apakah ada alat baru atau seseorang yang bisa melihat waktu
didepan dengan jernih ? Wali barangkali ?
Salam,
Abdullah Hasan.
From: "��" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, May 13, 2001 5:51 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta]: BELAJAR DEMOKRASI : u/p Sukaton.
Saya lebih baik nggebuki MW dari sekarang. Saya mencabut dukungan
saya, seluruh keluarga saya (5 suara) yang dulu aku titipkan ke
PDIP.
Pak Hasan masih ingat kan. Kita memang selalu berseberangan dan
masing2 konsisten. Jelas ada yang membedakan bukan?
Jadi, saya berseberangan pendapat dengan model coba2 itu. Ini
negara Pak Hasan dan menganut sistem presidentiil. Ibu rumah
tangga saja berkeberatan anaknya dipakai coba-coba miunyak kayu
putih...
Berarti dari awal Pak Hasan telah membuka ruang untuk model
pemerintah jatuh bangun sebelum waktunya bukan?
Saya, in term of democracy, berkeberatan Pak.
salam.
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--