Mas Aswat,
Posisi pandang yang kadang berbeda antara kita berdua, mudah2an bisa saling
memperkaya. Demikian pula posisi-posisi yang berbeda dalam sistim demokrasi. Sudah
tentu ada syaratnya. Umpamanya, ada mutual-respect, non-kekerasan, dsb.
Model coba-coba, yang tentunya membuka ruang untuk jatuh bangun, bukanlah pilihan
ideal saja. Itu cuma konsekwensi kelemahan manusiawi belaka. Dalam recruitmen anggota
baru suatu organisasi, seperti perusahaan, dsb. , seringkali terjadi kebobolan.
Walaupun usaha maksimal telah dilakukan seperti saringan psikotest, wawancara ,
penelitian, dst., itu semua tidak bisa jadi jaminan. Organisasi modern masih saja,
mengenakan masa percobaan, 3 bulan , satu tahun , dan sebagainya. Jadi adalah tindakan
tolol untuk bersikap konsisten: Sekali diterima , tetap bekerja seumur hidup.
Demikian pula buat organisasi besar seperti negara. Dalam jaman modern, pemimpin
negara disadari bukanlah "pengemban wahyu" suci dari Tuhan. Dia manusia biasa. Dari
itu seperti manusia lain, tetaplah menyimpan berbagai kelemahan. Yang memilihpun juga
manusia. Jadi perlulah diberikan aturan hal "darurat" , bahwa telah terjadi salah
pilih. Adalah tindakan tolol pula untuk konsisten : Sekali pilih presiden, teruslah
presiden selama lima tahun ! . Walaupun negara yang dihuni ratusan juta manusia jadi
tidak karuan.
Mengenai ide ngebuki MW dari sekarang , atas dasar apa ? Apakah telah jelas
ketidakmampuannya ? Kalau demikian rencana anda untuk "ngebuki" dari sekarang adalah
tidakan patriotik yang bertanggung jawab. Apalagi kalau anda tidak takut digebuki
Satgas. Terus terang saya nggak mau ikut-ikut. Kalau tidak ada dasarnya, padahal
misalnya yang mendukung banyak, sampai lebih dari separuh , ya kita mesti legowo untuk
memberi kesempatan MW pegang kendali RI 1. Apabila nanti ternyata "dugaan" anda tepat,
MW lebih bego dari GD, dia baru boleh digebuki. Memo 1 , Memo 2 , SI..... :
Ngelundung.
Apakah ada alternatif lain dari coba-coba yang anda tidak setuju itu ? Apakah ada
alat baru atau seseorang yang bisa melihat waktu didepan dengan jernih ? Wali
barangkali ?
Salam,
Abdullah Hasan.
From: "��" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, May 13, 2001 5:51 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta]: BELAJAR DEMOKRASI : u/p Sukaton.
Saya lebih baik nggebuki MW dari sekarang. Saya mencabut dukungan
saya, seluruh keluarga saya (5 suara) yang dulu aku titipkan ke
PDIP.
Pak Hasan masih ingat kan. Kita memang selalu berseberangan dan
masing2 konsisten. Jelas ada yang membedakan bukan?
Jadi, saya berseberangan pendapat dengan model coba2 itu. Ini
negara Pak Hasan dan menganut sistem presidentiil. Ibu rumah
tangga saja berkeberatan anaknya dipakai coba-coba miunyak kayu
putih...
Berarti dari awal Pak Hasan telah membuka ruang untuk model
pemerintah jatuh bangun sebelum waktunya bukan?
Saya, in term of democracy, berkeberatan Pak.
salam.