Mas Rus... sebelum saya mulai meneruskan diskusi ini saya jadi teringat
ketika makan siang tadi.. Saya duduk di Cafetaria, dan mendengar ada
rombongan mahasiswa, salah seorang dari mereka rupanya sedang pidato..

   Liebe Studenten
   (maksudnya)
   Hai mahasiswa,... Saat ini mahasiswa tidak setuju dg kuajiban membayar
   uang kuliah... bla..bla..bla..  

(dalam hati saya menggumam,, enak aja loe bilang mahasiswa doang.... gua
kagak setuju nih..)

Saya jadi inget diskusi "atribut" tambahan pada nama KPLI.  Jadi memang
kadang ketika kita bicara pada suatu domain "tambahan" tersebut secara
tidak sadar kita tanggalkan" karena kita paham (dengan asumsi), bahwa kita
bicara dalam domain tersebut, sehingga untuk menghemat kata, atribut
tersebut ditanggalkan.

Yang menjadi masalah adalah ketika pembicaraan tersebut di"forwardkan" ke
luar domain tersebut... maka timbullah kasus karena "attribut" yang
tertinggalkan.

Hal lain yang sering terjadi adalah, atribut tersebut ditanggalkan (jadi
cuma Student) karena si pembicara SANGAT INGIN MENDAPAT DUKUNGAN dari yang
disebutkannya. (meletakkan dirinya dalam domain yang sama).  Artinya dia
mengharapkan "student" semuanya atau yang seperti dia mendukung apa yang
dia ucapkan.

Pada kasus "KPLI Jakarta dan KPLI pada press release" tersebut saya rasa
kita dapat melihat dan menempatkan pada kasus seperti di atas...

- KPLI Jakarta menanggalkan Jakarta, karena ingin mendapat dukungan
  rekan-rekan KPLI lainnya.  (misal kasus Press release, dan LinuxGaul,
  dan event lainnya sehingga dapat sukses)

- KPLI Jakarta menanggalkan Jakarta, karena pembicaraan yang dilakukan
  pada milis KPLI Jakarta. sehingga tanpa menuliskan KPLI Jakarta para
  pembaca sudah memahami maksudnya.

- KPLI Jakarta terpaksa menanggalkan Jakarta, karena orang sudah "mencap"
  bahwa KPLI Jakarta adalah KPLI (kasus undangan pada event nasional).
  Kesalah-kaprahan ini memang sulit dihindari..8-(  Walaupun memang salah.

Jadi ini memang keterbatasan "bahasa" yang kita gunakan.  Untuk itulah
saya mohon rekan-rekan aktivis sedikit "berkepala dingin" dan melihat
konteks permasalahan (tidak sama semua kasus penanggalan Jakarta pada KPLI
Jakarta).

On Mon, 24 Jan 2000, Rusmanto wrote:

> Yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana cara kita mewakili bila ada 
> undangan-undangan atau kegiatan yang bersifat nasional?
> Ini sering dihadapi KPLI Jakarta dan mereka (Pemerintah/Org. lain) 
> selalu menanyakan bagaimana mengkoordinir secara nasional?


Seperti yang telah saya bahas kemarin, memang kadang kala posisi Jakarta
yang "di tengah" dapat menimbulkan sesuatu yang positif. dan bukan demi
tujuan sentralisasi.  Sebagai contoh kasus di atas... (yang baru-baru saja
saya forward juga dari pak Dir DikMenJur).  Kondisi di Jakarta meletakkan
KPLI Jakarta terkadang harus "membawa nama" KPLI (thok).  

(Bahkan kadang saya dikira orang KPLI Indonesia.... karena aktif sebagai
"pengompor Linux").

Nah yang perlu difikirkan adalah bagaimana melihat siutasi ini "kedekatan
lokasi KPLI Jakarta dg berbagai organisasi yang berbasiskan di Jakarta"
dapat dimanfaatkan untuk kepentingan semua KPLI.  

> Yang penting (IMHO), bagaimana KPLI-KPLI di Indonesia ini melakukan
> koordinasi (atau apalah namanya), sehingga "kuat" dan hasilnya adalah 

Betul.. tampaknya kita harus lebih berkonsentrasi pada aspek kegiatan.

- Linux Counter (yang masih 290-an)
- Persiapan Linux Demo..??
- Dukungan ke masalah anti pembajakan ?
- Open Source Campus/Community Agreement 
- Koordinasi dan kolaborasi antar KPLI

Jadi menurut saya sebaiknya bila ada suatu KPLI xxxx mengadakan kegiatan,
janganlah dipandang bahwa itu hanyalah kegiatan KPLI xxxx tersebut.
Tetapi lebih baik pandang sebagai kegiatan KPLI keseluruhan (walau pihak
penyelenggara lokal adalah KPLI xxxx).

(Saya inget ClusterNacth saat itu anggota LUG Jerman bisa gabung dan
saling bekerja sama.... kapan kita bisa menggalang seperti ini, oh iya
acara Cluster Nacht sendiri adalah OWL-LUG yang punya gawe).  LUG itu
datang dengan biaya sendiri.. dan suka rela bekerja sama... Saya
memimpikan hal itu bisa terjadi di Indonesia 8-)

> > facto" adalah pengurus  KPLI Indonesia :-)
> > Coba kaloq subdomain namakota.linux.or.id dicabut, he he he..... :-)
>                       ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
> 1. Apakah KPLI yang terbentuk di wilayah Indonesia harus berada 
> di bawah KPLI Indonesia "de facto" tersebut???
> 
> 2. Kalau ya, apakah ini sesuai dengan semangat OPEN SOURCE yang menjadi 
> ciri utama pengembangan Linux sejak awalnya????? 
> Sedangkan kami sejak awal menyatakan bahwa di Jakarta dapat berdiri berbagai 

Memang secara "spirit" tidak harus LUG tertentu di bawah KPLI Indonesia
atau KPLI daerah.  Bahkan kepemilikan domain pun sebetulnya terlepas dari
LUG itu sendiri.. (seperti www.linux.de itu dimiliki oleh persh...)
www.linux.org pun tidak bisa dikatakan sebagai "pusat" LUG seluruh dunia.

Hanya memang kita di sini melihat untuk kondisi Indonesia akan lebih baik,
bila antar KPLI itu dapat bekerja sama... sehingga akan lebih efektif,
kerja sama ini akan dapat terjalin dengan baik, bila sama-sama di bawah
satu payung.. (walaupun tidak ada yang lebih tinggi).

> 3. Bagaimana cara yang tepat agar kegiatan-kegiatan yang bersifat
> nasional (seperti rencana Linux Demo Day yang dikoordinir Mas Priyadi) dapat 
> berjalan sukses.

Saling bekerja sama, dan melakukan kolaborasi dan koordinasi..8-) Kita
harus mulai menanggalkan perasaan.. ini gawenya KPLI xxxx, ini acaranya
KPLI yyyy, 

Demi kemajuan bangsa Indonesia melalui Linux..8-)

IMW


----------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke