On Sat, Jul 26, 2008 at 11:55:54AM +0700, st SABRI wrote:
keppresnya sudah benar, yang keliru kebanyakan BID COMMITEE alias Panitia Tender, terutama di daerah-daerah. Entahlah kalo di Jakarta, maklum saya bukan orang Jakarta.

setelah saya baca-baca kepres no 80 2003, sebenarnya tidak ada yang
spesifik yang perlu diperhatikan. router (cisco) bisa dianggap sebagai
komponen, vista/linux bisa juga dianggap sebagai komponen. jadi
sebenarnya bisa saja disebutkan spesifikasinya dalam tender (sebagai
spesifikasi komponen). kecuali tendenya adalah tender operating system
(kayaknya kecil kemungkinan di pemerintahan ada tender operating system :-)

misal masing-masing tidak boleh dibundel, mestinya tender operating
system + office apps dengan harga di atas @ Rp 50 juta harus
ditenderkean sendiri (pasal 10).

jadi, sebenarnya yang boleh dibundel adalah sistem operasi linux dan
openoffice (karena gratis) :-) atau malah tidak disebutkan saja
(dianggap swakelola), di situ disebutkan spesifikasinya adalah
installasi atau yang lain. atau dengan cara pikir yang lain (kalau
memang berpihak pada igos) dalam spesifikasi bisa disebutkan aplikasi
office multiplatform, operating system yang support epoll hi..hi...

argumen saya di atas memang kurang kuat, karena semua memang seperti
pedang bermata dua. jadi memang tinggal inisiatif dari pengelola (dalam
hal ini pemerintah) apakah benar secara murni dan konsekuen bermaksud
memenuhi semua ketentuan yang diatur dalam keppres tersebut, misalnya
prinsip daya guna dan efektifitas, yang dalam hal ini FOSS pasti menang
dan tidak usah diragukan lagi (pasal 4).

orang luar 'tidak boleh' ribut, karena pengadaan dana adalah hak dan
wewenang dari pemerintah, dan keppres itu sendiri kan mengikat lingkup
kegiatan yang dibiayai oleh APBD/APBN, yang memang sudah menjadi
wewenang mereka.

negeri ini sebenarnya bukan negeri mimpi. masalahnya (sekali lagi
menurut saya) bukan pada penyebutan windows vista itu sendiri, tapi
lebih pada ketidaksiapan pemerintah untuk memulai IGOS. kalau IGOS sudah
jalan dengan baik dan benar, niscaya yang tertulis di situ adalah FOSS
dan mungkin sudah tidak lagi perlu ditulis, mengingat nilainya Rp 0,-

tidak ada pertentangan dengan WTO, karena secara hukum pasar, yang
paling murah jelas lebih menarik :D kalau toh WTO ngotot (ini pasti
tidak, karena memang itu alasan yang dicari-cari saja), suruh saja WTO
yang bayar.

Buat yang mengirim contoh (jpeg), terima kasih kiriman jpeg-nya :D
oh .. itu puskesmas ya, saya maklum kalau gitu kenapa ditulis
spesifikasi windows vista.  mungkin anda juga maklum, hanya saja
kemakluman kita tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata hi..hi.. yang
jelas, soal komputer, dokter *) memang guoblok (wakakakaa). setidaknya,
kemungkinan besar, tidak banyak yang familier dengan linux (di balik
itu, sebenarnya alasannya manusiawi).

sepertinya kepres tersebut lebih berorientasi pada pengadaan material
kelas berat (karena salah satu rujukannya : PP 29 2000), mungkin sudah
saatnya direvisi (sukur-sukur revisinya berpihak pada FOSS/IGOS). tapi
ya itu memang pertimbangan dan wewenang dari pemerintah, khususnya
departemen dalam negeri). kecuali itu bertentangan dengan UU di atasnya.

referensi:
http://www.pu.go.id/sekjen/biro%20hukum/kepres/keppres80-03.htm

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

*) gaya bahasa yang menyebutkan benda untuk mewakili golongan atau kelompok.
saya lupa istilahnya :-)


--
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke