> Kalau contohnya untuk dunia animasi dan design grafis menurutnya
> kurang tepat, karena dalam hal ini seharusnya aplikasi open source
> sudah bisa menggantikan aplikasi propietary.
> Kalau belum bisa, bagaimana "Big Buck Bunny" bisa lahir kan ?
> GIMP dan Blender misalnya sudah sangat layak untuk dipakai serius,
> tukar menukar data dengan format propietary semacam PSD dan 3DS juga
> bisa dilakukan. Jadi tinggal kemauan saja untuk pindah.
> Kalau Inkscape masih jauh, versinya saja baru 0.46. Namun pilihan lain
> ada Xara LX yang merupakan turunan Xara Xtreme yang sudah profesional.
>
> Kalau contohnya untuk dunia AEC-CAD
> (Architecture-Engineering-Construction, bukan M-CAD / Mechanical),
> baru memang masih ada kendala besar, terutama untuk tukar menukar data
> DWG.

Masalahnya bukan cuma tukar menukar data Pak, tapi output yang
dihasilkan (saat dicetak).
Bicara kompatibilitas hardware, bukankan itu masih menjadi kelemahan
Linux? Ups sori, bukan kelemahan Linuxnya sih, tapi banyak produsen
hardware yang tidak mau memberikan driver untuk Linux.


>
>> Perusahaan mungkin tidak terlalu sulit keluar uang membeli 1 atau
>> beberapa set software Adobe original.
>> Tapi sekarang coba pikir, bagaimana dengan karyawannya? Apa di rumah
>> harus pake ori juga?
>>
> Seharusnya meski kantor menggunakan propietary software yang mahal,
> tidak ada alasan untuk menggunakan versi bajakan di rumah. Kalau tidak
> bisa beli yang original, ya pakai versi padanan open sourcenya.
> Misalnya kantor menggunakan Photoshop (orginal bukan bajakan tentunya
> :-), tidak berarti di rumah tidak bisa pakai GIMP, toh tukar menukar
> data PSD masih bisa dilakukan. Yang kita jual kan ilmu desain grafis,
> bukan ilmu menggunakan Photoshop.
>

Ndak semudah itu juga Pak :)
Kalo saya mau recruitment karyawan, di kantor pake Photoshop, yang
saya terima adalah yang bisa Photoshop, bukan GIMP :)


-- 
Regards,

Ir. Yahya Kurniawan
yahyakurniawan.net

-- 
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke