Pada 13 Januari 2009 05:59, Yahya Kurniawan <[email protected]> menulis:
>> Kalau contohnya untuk dunia animasi dan design grafis menurutnya
>> kurang tepat, karena dalam hal ini seharusnya aplikasi open source
>> sudah bisa menggantikan aplikasi propietary.
>> Kalau belum bisa, bagaimana "Big Buck Bunny" bisa lahir kan ?
>> GIMP dan Blender misalnya sudah sangat layak untuk dipakai serius,
>> tukar menukar data dengan format propietary semacam PSD dan 3DS juga
>> bisa dilakukan. Jadi tinggal kemauan saja untuk pindah.
>> Kalau Inkscape masih jauh, versinya saja baru 0.46. Namun pilihan lain
>> ada Xara LX yang merupakan turunan Xara Xtreme yang sudah profesional.
>
> Masalahnya bukan cuma tukar menukar data Pak, tapi output yang
> dihasilkan (saat dicetak).
>
Kalau soal mutu cetakan pada design drafis, bukankah masalahnya di
Linux printer driver, bukan di aplikasi open source (GIMP, Blender,
Inkscape, Xara Xtreme / LX) ?
Meski pakai GIMP, kalau menggunakan GIMP di Windows bukankah mutu
cetakannya sepadan dengan Photoshop ?
Jadi sekali lagi soal design grafis, aplikasi open source sudah bisa
menggantikan aplikasi propietary. Kalau kendalanya di Linux printer
driver, gunakan GIMP for Windows (Windows legal tentunya) waktu
pencetakan, atau pilihan lain print ke PDF.

> Bicara kompatibilitas hardware, bukankan itu masih menjadi kelemahan
> Linux? Ups sori, bukan kelemahan Linuxnya sih, tapi banyak produsen
> hardware yang tidak mau memberikan driver untuk Linux.
>
Karena itu kekurangan mutu driver jangan kita campur adukkan dengan
kemampuan aplikasi open source.

>> Seharusnya meski kantor menggunakan propietary software yang mahal,
>> tidak ada alasan untuk menggunakan versi bajakan di rumah. Kalau tidak
>> bisa beli yang original, ya pakai versi padanan open sourcenya.
>> Misalnya kantor menggunakan Photoshop (orginal bukan bajakan tentunya
>> :-), tidak berarti di rumah tidak bisa pakai GIMP, toh tukar menukar
>> data PSD masih bisa dilakukan. Yang kita jual kan ilmu desain grafis,
>> bukan ilmu menggunakan Photoshop.
>
> Ndak semudah itu juga Pak :)
> Kalo saya mau recruitment karyawan, di kantor pake Photoshop, yang
> saya terima adalah yang bisa Photoshop, bukan GIMP :)
>
Sebetulnya nggak juga.
Ada beberapa hal yang bisa dibahas:
- Pertama, sebetulnya (setidaknya di tempat saya) yang lebih dilihat
adalah kemampuan umumnya,
Kami pakai PC-Vue (nama produk), tapi kami tidak mensyaratkan yang
sudah pengalaman menggunakan PC-Vue, yang kami cari yang berpengalaman
dalam SCADA/HMI (pakai produk apa saja), dengan parameter tingkat
pemahaman akan konsep dan kemahiran dalam praktek.
Ibaratnya mau mencari supir truk, yang dilihat ya kemahiran nyetir
truknya, terserah pengalamannya pakai truk apa saja.
Jadi meski di iklan banyak yang secara eksplisit menyebut Photoshop,
sebetulnya tidak perlu pesimis, kirim saja portofolionya. Pasti bagus,
Insya Allah akan dipanggil.

- Kedua, sebetulnya meski sehari - hari kita pakai Linux + GIMP, tidak
berarti kita harus nol besar dalam pengalaman menggunakan Photoshop,
kita kan bisa menggunakan trial version dari Photoshop + Wine, selama
kaidah legalitas tetap dipenuhi, tidak ada yang salah menggunakan
trial version software untuk sekedar belajar (bukan untuk kerja sehari
- hari :-).

- Ketiga, kalau dalam wawancara kita sempat menjelaskan soal GIMP &
Photoshop, misalnya:
        - Tentang license dan bahwa kita menggunakan GIMP karena tidak mau
membajak Photoshop.
        - Tentang prinsip design grafis dan perbandingan kemampuan GIMP
dibanding Photoshop.
        - Tentang open source dan bahwa GIMP itu open source.
        Saya kok yakin justru kita dapat nilai tambah besar dalam wawancara
tersebut, karena yang dicari ketika rekruitmen adalah orang dengan EI
& SI tinggi, bukan sekedar kecerdasan scholastic dan ketrampilan saja.

-- 
Syafrudin Abi-Dawira

-- 
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke