Halo,

> > Saya ambil contoh untuk dunia animasi dan desain
> grafis, jujur aja
> > aplikasi2 di Linux masih kalah jauh sama aplikasi2 di
> Windows.
> > (Saya punya beberapa relasi yang berbisnis di dunia
> animasi dan desain
> > grafis dan semua mengeluh kalau Linux belum bisa
> menggantikan
> > Windows).

Mungkin butuh 1 sampai 2 tahun ke depan baru bisa sama.
Apalagi ini Indonesia, software design grafis under Windows banyak kok yang 
jual, murah lagi kalo beli di glodok. Ha ha ha ...
Mungkin butuh waktu 5 tahun lagi, kayak ngga tahu Indonesia aja.

> Kalau contohnya untuk dunia animasi dan design grafis
> menurutnya
> kurang tepat, karena dalam hal ini seharusnya aplikasi open
> source
> sudah bisa menggantikan aplikasi propietary.
> Kalau belum bisa, bagaimana "Big Buck Bunny" bisa
> lahir kan ?
> GIMP dan Blender misalnya sudah sangat layak untuk dipakai
> serius,
> tukar menukar data dengan format propietary semacam PSD dan
> 3DS juga
> bisa dilakukan. Jadi tinggal kemauan saja untuk pindah.
> Kalau Inkscape masih jauh, versinya saja baru 0.46. Namun
> pilihan lain
> ada Xara LX yang merupakan turunan Xara Xtreme yang sudah
> profesional.

Kasus ini hanya ada di luar negeri. Memang orang luar negeri udah ciamik-2 kok.

> Kalau contohnya untuk dunia AEC-CAD
> (Architecture-Engineering-Construction, bukan M-CAD /
> Mechanical),
> baru memang masih ada kendala besar, terutama untuk tukar
> menukar data
> DWG.

Semoga saja ada pengembangnya.

> > Perusahaan mungkin tidak terlalu sulit keluar uang
> membeli 1 atau
> > beberapa set software Adobe original.
> > Tapi sekarang coba pikir, bagaimana dengan
> karyawannya? Apa di rumah
> > harus pake ori juga?

Kalaudi Inonesia, pemakai rumahan boleh aja kok pake "bazakan version". Kan 
ngga ada razia yang masuk ke rumah-2. Hayooo ... bener apa tidak ?

> Seharusnya meski kantor menggunakan propietary software
> yang mahal,
> tidak ada alasan untuk menggunakan versi bajakan di rumah.
> Kalau tidak
> bisa beli yang original, ya pakai versi padanan open
> sourcenya.
> Misalnya kantor menggunakan Photoshop (orginal bukan
> bajakan tentunya
> :-), tidak berarti di rumah tidak bisa pakai GIMP, toh
> tukar menukar
> data PSD masih bisa dilakukan. Yang kita jual kan ilmu
> desain grafis,
> bukan ilmu menggunakan Photoshop.

Ini suatu idealisme, akan tetapi di lapangan sangat sukar pelaksanaannya.

Salam,


Setiajie
(Hidup LINUX daan FOSS)



      

-- 
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke