On Tue, 25 Jul 2000, Utari Wijayanti wrote:
> > penilaian "mana yang buruk atau baik" (kontes nyanyi khan juga ada
> > ... "pilihan favorit pendengar" ..he.he.he.
>
> contoh yang saya angkat kebetulan masalah suka sih ya .. tapi konteks
> berikutnya, bicara masalah baik dan buruk. dan intinya tetap sama.
Sepertinya agak beda masalah suka atau baik/buruk (terutama dalam kasus
hasil terjemahan, atau hasil tulisan). Jadi saya sendiri secara pribadi
lebih suka memisahkan keduanya.
> setuju.
>
> setuju juga .. Pak Moderator .. maaf, emailku cuma tentang bilang
> 'setuju'.
He.h.ee. kayak rapat aja.... 8-)
> > Masalahnya lagi :
> >
> > - Ngapain gua cape-cape nulis 8-( ..he.he.he.he.
>
> yee.. ngambek .. hehehehe...
> tenang aja bli .. nggak mungkin seekstrim dua pilihan yang saya tulis
> sebelumnya. Semua versi INA atau semua versi Inggris.
He..he. saya bukan ngambek lho... tapi mengungkapkan hal yang terjadi di
Indonesia.. (yaitu menulis belum dianggap sebagai bagian dari rutininas
harian)... Jadi nggak heran mengapa istilah Indonesia menjadi makin
sedikit karena memang sedikit dipakai (sedikit ditulis)..
Hal ini berawal dari pemahaman tadi "Ngapain gua cape-cape nulis"
> Terus, di INA ini akan menggunakan pendekatan bagaimana .. saya pikir
> seharusnya diadakan penelitian yang obyektif.
Memangnya ada penelitian yang obyektif 8-) ?..he.e.he apalagi di bidang
sosio seperti ini.
> > saya bagaimana melakukan paraphrase ini... 8-) (Oh iya guru bahasa
> > Inggris saya bukan orang Inggris, tapi orang Jerman yang besar di
> > Australia..he.he.).
>
> intinya .. ?
Intinya ada trick tertentu untuk melakukan paraphrase tanpa kita paham
benar-benar isinya 8-) (justru karena dia orang asing, maka sulit sekali
"nipu" dia dg trick reparaphrase ini..e.he.he.
Tentunya trick ini tidak bisa selalu sukses... 8-)
> > dengan perjalan penyerapan knowledgenya dia. Ini membuat dia tidak bosan
> > ketika belajar membaca/menulis.
>
> jadi pingin tahu, Made kecil kaya' apa .. :)
Ha..ha.ha..a masih lama tuh...
> bukan, saya bukan masalah 'term' yang diacu. tapi masalah konsensus
> pembentukan dan pemilihan 'term' di INA. Bli Made punya opini seperti di
> atas, Dayan punya opini versi pelarik, orang ahli bahasa punya opini lain
> .. nah .. versi versi ini yang perlu dituntaskan. Acuan untuk diacu .. :)
Saya lihat pendekatan seperti "konsensus" ala elite (Cathedral) (seperti
pusat bahasa dsb) kurang jalan. Saya sendiri lebih suka pakai konsesus
ala Bazaar. Jadi si pembuat istilah yang aktif memakai, dan tinggal
dibiarkan ke para publik yang memakainya..
Kalau metoda Bazaar sudah cukup berhasil membangkitkan "Linux" mungkin
bisa juga diterapkan untuk penyusunan istilah bahasa Indonesia. Faktor
positifnya nggak ngabisini dana pemerintah 8-)
IMW
--------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Dapatkan FAQ milis dg mengirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]