di tengah kelambanan saluran internet, perkenankan saya melepas 
lelah dg mencoba menanggapi ini:

demokrasi, sekali lagi, bukan hanya sekedar keputusan parlemen, atau 
suara terbanyak. Kalau hanya begitu, orde baru dulu juga demokratis 
karena parlemen secara bulat menyetujui apa yang diputuskan oleh 
pemerintah. 

Tapi tidak begitu Om. demokrasi intinya adalah pembagian kekuasaan 
dan kesempatan rakyat untuk menentukan nasib sendiri. Pada dasar apa 
hal2 tersebut dilaksanakan? Pada dasar hak asasi manusia. Misalnya 
jika mayoritas rakyat Indonesia memutuskan agar agama X dilarang, 
maka keputusan itu bukan merupakan demokrasi yang baik karena 
melanggar hak-hak dasar manusia. Kecuali jika agama tersebut dalam 
prakteknya melanggar HAM itu sendiri (misalnya ada sekelompok 
penyembah setan yang kalau ritual membunuh orang - hare gene??).

Jadi kalau suatu saat parlemen belanda melarang penggunaan jilbab, 
menurut saya itu bukan demokrasi sejati seperti yg dulu dicita-
citakan para pencetus demokrasi. 

Begitu pula jika DPR Indonesia memutuskan untuk menegakkan syariat 
salah satu agama, itu juga bukan demokrasi, karena setelah keputusan 
itu tidak ada lagi yang namanya demokrasi. Selain itu penegakan 
syariat agama tertentu berarti meniadakan alasan yang dulu membuat 
Indonesia bersatu seperti sekarang ini. Indonesia berdiri karena dan 
hanya karena dia menerima pluralisme (pluralitas - sama aja padahal; 
pluralisme adalah prinsip hidup yang menerima pluralitas) yang ada 
di indonesia. Syariat apapun, menyangkal hal ini, sehingga ketika 
syariat ditegakkan, seketika itu yang berdiri bukan lagi negara 
indonesia yang dulu pernah berdiri.

aquino
(diskusi yang menarik, saya kira?)


--- In [email protected], "Danny Lim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kalau DPR RI mensahkan RUU Pornoaksi, itu 100% sah, Manneke benar 
> sekali dalam hal ini. Bahkan saya berulang kali bilang, bila DPR 
RI 
> mensahkan sharia sebagai dasar negara pun OK 100%, sebab DPR 
> mewakili rakyat dus demokratis.
> 
> Kenyataannya DPR RI tidak mensahkan RUU Pornoaksi apalagi 
mensahkan 
> Sharia sebagai dasar negara, itu menunjukkan pengertian DPR bahwa 
> RUU Pornoaksi dan/atau sharia tidak didukung oleh mayoritas rakyat 
> Indonesia, melainkan oleh segelintir muslim radikal Indonesia 
saja. 
> Dalam hal ini kita patut mengacungkan dua jempol tangan ke pihak 
DPR 
> RI.
> 
> Sekali lagi, sah tidaknya RUU Pornoaksi dan/atau sharia di 
> Indonesia, melulu ditentukan oleh DPR RI. Dan sah tidaknya RUU 
> Pelarangan Burka, Hijab, Ninja dan Helm di Belanda, akan 
ditentukan 
> melulu oleh Tweede Kamer. Lalu apa wewenang Manneke? Ya kagak ada, 
> nol koma nihil. Hi hi hi ......... :-).
> 
> Salam hangat, Danny Lim, Nederland
> 
> 
> --- In [email protected], "helsing744" <helsing744@> 
> wrote:
> >
> > --- In [email protected], manneke <manneke@> wrote:
> > >
> > > 
> > > Ha ha ha, hebat betul cara Anda "membungkam" orang untuk 
menutup 
> > perdebatan. Jadi, karena saya akademisi, maka saya cuma tahu 
ilmu. 
> > Karena saya akademisi, saya cuma tertarik soal benar dan salah. 
> > Karena saya akademisi, saya tak punya empati pada kenyataan. 
Dan, 
> > karena saya non-Muslim, maka saya tak tertarik dengan 
permasalahan 
> > orang Muslim. 
> > 
> > << Tak ada niat dari saya saya untuk "membungkam" anda Rekan 
> > Manneke, justru tulisan saya kemarin adalah satu bentuk 
kekaguman 
> > saya pada idelalisme dan alur logika yg anda bangun, sejauh saya 
> > berdiksui soal burqa ini, saya belum pernah membaca argument 
> sebaik 
> > dan setangguh anda dalam usaha ´membela´ kaum minoritas tersebut.
> > 
> > Tapi, disatu sisi saya TAHU PASTI kelemahan orang2 yg sangat 
> > idealis, seringkali -tidak selalu- mereka kurang peka membaca 
> > realitas secara luas. Bukan maksud saya ingin memngatakan bahwa 
> > realitas anda lebih sempit dari realitas saya, cuma fokus 
> (intisari) 
> > persoalan yg anda angkat sebagai basis pemikiran cuma berangkat 
> dari 
> > SATU sisi, yaitu "kebebasan" atau hak azasi individu yg 
> > bersangkutan. 
> > 
> > Anda terkesan melupakan kewajiban individu sbg warga negara dan 
> > menafikan HAK negara dalam mewujudkan visi dan misi mereka. 
> > 
> > 
> > 
> >  
> > > Simak baik-baik Saudara Van Helsing, baik dalam posting ini 
> maupu 
> > posting-posting saya sebelumnya berkenaan dengan isu burqa ini, 
> > supaya semua orang di milis ini bisa melihat duduk perkara yang 
> > sebenarnya:
> > > 
> > > 1). Selama perdebatan soal burqa ini, pernahkah saya ngomong 
> pakai 
> > teori atau metode akademik atau istilah-istilah teknis? Siapa 
> dalam 
> > diskusi yang mula-mula pakai istilah seperti "indigenous 
> > factor"? "hak azasi"? "integrasi"?
> > 
> > << Saya rasa tidak penting untuk kita bahas siapa yg memulai dg 
> > istilah2 tersebut, yg lebih penting adalah isi secara utuh 
konsep 
> > pemikiran kita sebagai satu argumentasi untuk memberikan 
> > justifikasi "benar-tidaknya" Belanda mengeluarkan UU tersebut, 
hal 
> > ini penting karena aspek UU tersebut sangat kompleks mengingat 
UU 
> > tersebut juga menyangkut soal keyakinan (hak azasi), keamanan 
> > negara, proses pembauran, dan -interest pribadi saya- 
mendewasakan 
> > cara beriman umat islam.
> > 
> >  
> > > 2) Selama dikskusi ini, siapa yang cuma bersikeras melihat 
> > persoalan sebagai benar dan salah? Justru yang saya lakukan 
adalah 
> > mencoba dengan tidak terlalu sederhana menilai: seolah-olah 
semua 
> > yang pakai burqa berpotensi jadi teroris, seolah-olah hukum anti 
> > burqa itu dibuat demi kebaikan, seolah-olah jika minoritas 
menolak 
> > pelarangan burwa, maka dia pasti tak mau bergaul dan eksklusif, 
> dll 
> > dsb. Bukankah yang berpikiran sempit dan hitam putih justru 
adalah 
> > mereka yang dengan membabi buta mendukung pelarangan burqa ini?
> > 
> > << Kata2 "seolah" bisa bermakna nonsense bila kecenderungan 
kearah 
> > realita akan hal2 yg anda katakan "seolah-olah" tadi sama sekali 
> > tidak ada dasar alasannya. Makanya sedari awal saya sudah 
katakan; 
> > tidak ada asap kalau tidak ada api, artinya, gejala2/ indikasi 
> > seperti yg anda bilang "seolah-olah" memang menjadi REALITAS 
atau 
> > setidaknya indikasi-indikasi itu bisa dipertanggungjawabkan 
dalam 
> > debat2 terbuka. 
> > 
> > Karena ini soal REALITAS dan BUKAN IDEALISME, maka kaca mata yg 
> > lebih mewakili kebenaran adalah kaca mata mereka2 yg ada dan 
> > MENYAKSIKAN realitas dimaksud.
> > 
> > Apakah anda berfikir parlemen Belanda tidak tahu akan produk 
hukum 
> > yg akan mereka buat dan tetapkan? apakah anda berfikir -dgn 
bekal 
> > idealisme- anda lebih tahu akan REALITAS masyareakat mereka/ 
> Belanda 
> > yg mendasari ide munculnya UU tersebut?
> > 
> > 
> >  
> > > 3) Saya tak punya empati pada realitas umat Muslim? Nggak 
salah 
> > nih? Bukannya kebalik? Saya yang nyaris sendirian mengajak rekan-
> > rekan miliser lain untuk berempati pada para perempuan berburqa 
> yang 
> > akan jadi korban pelarangan ini, sedangkan kalian semua yang 
sama 
> > sekali tak mencoba untuk melihat persoalan darikaca mata mereka, 
> dan 
> > selalu bersikeras: mereka kan minoritas, mereka kan cuma tamu di 
> > negeri orang, mereka kan cuma maunya sendiri? Siapa yang doyan 
> > melempar asumsi hitam putih tanpa empati seperti ini? Saya? 
> > 
> > << Maaf rekan Manneke, kalau saya mau menggunakan kaca mereka, 
> > minoritas yg ngotot berburqa karena MERASA itu adalah pakaian 
> > keimanan dan hanya pakaian itu yg akan di ridhoi Allah atau 
islam, 
> > maka saat itu pula saya telah mempersempit realitas saya. 
Alasan2 
> > keimanan seperti itu HARUS diperdebatkan secara terbuka baik 
oleh 
> yg 
> > seiman atau bukan, sebab seringkali keimanan kita -kalau tidak 
> > diikuti oleh nalar- akan mengungkung kita pada realitas sempit 
> kita. 
> > Percaya adanya surga atau neraga, BUKANLAH urusan kita, sebab 
hal 
> > itu masuk wilayah hak azasi (personal sifatnya), tetapi CARA 
untuk 
> > meyakini agar masuk surga atau neraka itu BISA dan BOLEH kita 
> > perdebatkan,sebab CARA2 tersebut menyangkut sikap dan tingkah 
laku 
> > kita dimana dalam masyarakat modern ada aturan main yg jelas 
untuk 
> > itu (UU), sebab sikap dan tingkah laku kita, mau tidak mau akan 
> > berpengaruh pada lingkungan dimana kita tinggal.
> > 
> > Contoh konkrit; merasa yakin bom bunuh diri adalah jihad dan 
akan 
> > masuk surga dan dapat 72 bidadari. Yakin untuk masuk surga-nya 
sih 
> > urusan dia, tapi sikap dan tingkah laku (CARA) dia untuk 
> mewujudkan 
> > keyakinban tersebut boleh dan bisa kita perdebatkan. 
> > 
> > 
> > 
> >  
> > > 4) Sebagai non-muslim saya tak tertarik pada nasib orang 
Muslim? 
> > Lalu Anda kira buat apa saya teriak-teriak menolak pelarangan 
> burqa, 
> > meski dengan risiko dipandir-pandirkan dan kata-kata saya 
> > dipelintirkan serta diputar balik oleh geng Anda yang anti-burqa 
> > itu? Kalo saya tak peduli dan tertarik, buat apa saya buang-
buang 
> > waktu membela kelompok minoritas berburqa yang 'dikeroyok' oleh 
> Anda 
> > dkk itu? 
> > 
> > << Kalau saya boleh memberikan justifikasi, bentuk empathy anda 
> > adalah negatif, dalam arti anda tidak membantu mereka untuk 
> MENALAR 
> > akan keimanan mereka, sebaliknya, anda ´memanjakan´ realitas 
> sempit 
> > mereka. Membiarkan orang lain larut dalam keyakinan mereka 
memang 
> > bagus, tapi membiarkan orang lain larut dalam kayakinan yg 
membuat 
> > orang tersebut mentutup diri pada realitas yg lebih besar sama 
> > artinya dgn ketidakpedulian kita pada masa depan orang tersebut 
> dan 
> > generasi penerus mereka.
> > 
> > 
> > > Apa sih yang membuat Anda berpikir bahwa Andalah orang Islam 
> yang 
> > paling benar dan lalu boleh menilai orang Islam lain yang beda 
> dari 
> > Anda dengan kaca mata yang merendahkan?
> > 
> > << Saya hanya mengeluarkan opini dan arguments saya, untuk 
merasa 
> > paling benar jelas saya tidak berani utk secongkak itu, kalau 
ada 
> > kesan merendahkan, maka yg merasa direndahkan bisa konter balik 
> > argumentasi saya, saya orang yg cukup terbuka untuk menerima 
> sebuah 
> > kebenaran yg lebih logis,sesuai dgn sifat dasar saya yg suka 
> belajar 
> > dan menambah wawasan.
> > 
> > 
> >  
> > > Saya menggunakan rasio saya dengan empati, bukan untuk 
> > merasionalisasi yang salah menjadi benar, seperti yang Anda dkk 
> > lakukan. Saya tak mengizinkan rasio saya membenarkan sesuatu 
hanya 
> > karena gara-gara dia telah menjadi fakta. Saya menggunakan rasio 
> > saya untuk mengkritisi fakta itu, supaya kita semua tak tidur.
> > 
> > << Saya sudah katakan saya kagum atas idealisme anda, disamping 
> saya 
> > juga sudah tegaskan, realitas yg anda pakai relatif sempit untuk 
> > menilai masalah ini, maaf bukan berarti saya tidak setuju dgn 
> > argumentasi anda, tapi masalah yg ada sangat kompleks dan anda 
> > berangkat berargument cuma dari satu sisi saja. Pendek kata, 
> > pendekatan idealisme anda membentur tembok karang realita yg 
ada. 
> > 
> > 
> >  
> > > Bagaimana cara Anda menggunakan rasio Anda, Van Helsing? 
Dengan 
> > segala daya upaya, termasuk mengintimidasi saya, Anda merumuskan 
> > berbagai dalih yang bisa dipakai untukmembenarkan suatu tindakan 
> > represif yang dilakukan oleh sebuah negara atas suatu kelompok 
> > warganya. Dan, Anda dengan bangga menyebut semua itu 
> > sebagai 'kepedulian'? Shame on you!
> > 
> > << Terus terang saya bingung dgn tudahan intimidasi saya kepada 
> > anda, bisakah anda klarifikasi lebih jelas disini? saya 
> membenarkan 
> > UU tersebut LENGKAP dgn argumentasi saya, lebih komplit dari yg 
> anda 
> > punyai, saya melihat dari sisi hukum,politik, realitas 
masyarakat 
> > Belanda (sosial) dan bahkan dari sudut agama 
(keyakinan),sementara 
> > anda hanya melihat dari SATU sudut pandang saja; yaitu kebebasan 
> > individu.
> > 
> > Sementara, yg namanya kebebasan TIDAK PERNAH ADA didunia 
ini,sebab 
> > kita sudah dari sononya merupakan makhluk sosial. 
> > 
> > 
> >  
> > > Anda menyebut saya ikut campur dalam urusan pribadi orang 
lain? 
> > Anda ngerti tidak sih makna kata-kata yang Anda ucpakan itu? 
Atau 
> > asal bunyi sja, yang penting komentar? Urusan pribadi siapa yang 
> > saya campuri? Urusan pribadi Anda? 
> > 
> > << Rekan Manneke, coba copy paste-kan sebutan yg saya berikan 
> kepada 
> > anda seperti yg anda tuduhkan diatas? sejauh yg saya sadari, 
saya 
> > tidak akan senaif itu untuk menuduh orang lain dalam satu 
diskusi 
> > terbuka seperti dimilis Medicare ini. 
> > 
> > Mendiskusikan fenomena UU di Belanda tersebut tentu saja tidak 
> bisa 
> > dikatakan sbg mencampuri urusan pribadi orang lain, kalau 
> dikatakan 
> > mencampuri urusan negara orang lain masih sangat mungkin 
meskipun 
> > saya juga tidak sependapat.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > >Bukankah kita bicara dampak UU pelarangan burqa pada kelompok 
> > minoritas pemakai burqa di Belanda? Inikah yang Anda sebut 
urusan 
> > pribadi? Cuma Anda yang boleh ngomong soal ini? Islam adalah 
Anda?
> > 
> > 
> > << Anda lebih suka mempersempit realitas rekan Manneke, dampak 
> > sebuah UU TENTU SAJA lebih DITUJUKAN pada mayoritas demi 
> kepentingan 
> > umum. 
> > 
> > Adapaun dampak UU tersebut bagi muslimah, saya melihat nilai 
> > positifnya seperti yg sudah saya jelaskan dalam postingan2 yg 
lalu.
> > 
> > Masalahnya, anda melihat dampak negatifnya bagi muslimah 
tersebut 
> > TANPA anda mampu mengklarifikasi SEPERTI apa dampak negatif 
> > tersebut. 
> > 
> > -Masuk neraka? apakah anda yakin dan bisa membuktikannya?
> > 
> > -Menjadi tidak beriman lagi? Apakah keimanan seseorang berdasar 
> > PAKAIAN yg mereka pakai?
> > 
> > -Tidak menjadi islam lagi? berapa sih prosentase muslimah yg 
pakai 
> > burqa didunia ini?
> > 
> > Atau...stress? islam mengajarkan umatnya untuk mau berfikir dan 
> > mengerti makna bersabar.
> > 
> > Coba katakan kepada saya, dimana letak dampak negatifnya secara 
> real 
> > bagi muslimah di Nederland tersebut?
> > 
> > 
> > 
> > 
> > > Terakhir, Anda menyebut burqa adalah 'pakaian agamawan' sama 
> > seperti suster? Wah, kalo sudah begini cara padangnya, ya nggka 
> > heranlah saya kalo diskusi pelarangan bruqa ini jadi kesana 
kemari 
> > dan berkembang secara tak proporsional. Suster itu perempuan 
yang 
> > secara resmi (lewat proses pendidikan dan sumpah) memilih untuk 
> > menyerakan seluruh hidupnya demi mengabdi dan melayani Tuhan. 
Maka 
> > itu, dia berpakaian seperti itu. perempuan Katolik awam tidak 
ada 
> > yang pakai pakaian suster, Bung. Burqa dipakai oleh perempuan 
> muslim 
> > yang memang mau memakainya, bukan oleh agamawan Muslim. Bukan 
> begitu?
> > 
> > << Secara prinsip,jenis pakaian tersebut, baik yg dipakai oleh 
> > biarawati atau muslimah yg pakai burqa kan sama-sama merupakan 
> > SIMBOL dari KEYAKINAN atau ajaran agama mereka? kalau yg pakai 
> burqa 
> > tidak bisa disebut sebagai agamawan (agamawati?), lantas kenapa 
> > mereka "merasa" ada KEHARUSAN untuk memakai pakaian sbg simbol 
> > keimanan/agama tersebut? Bukankah literaly makna "agamawan" 
adalah 
> > orang2 yg beragama?
> > 
> >  
> > > By the way, saya tak mempan diintimidasi, apalagi dengan cara-
> cara 
> > konyol. Silakan sebut saya apa saja, saya selalu tahu bagaimana 
> cara 
> > untuk secara konsisten membela prinsip-prinsip yang saya yakini 
> > kebenarannya dengan cara yang masuk akal.
> > 
> > << Rekan Manneke, sekali lagi saya katakan, saya tidak pernah 
> > mengintimidasi anda dan berniat "membungkam" anda, anda 
sendirilah 
> > yg merasa terintimidasi dan merasa "harus bungkam", sebaliknya, 
> saya 
> > mengagumi idealisme anda yg luar biasa itu dalam upaya untuk 
> > mempertahankan apa yg menjadi keyakinan anda, dalam beberapa 
hal, 
> > saya juga termasuk orang yg idealis, tapi saya harus sadar, 
bahwa 
> > idealisme saya TIDAK MUNGKIN menang melawan realita yg ada, 
disini 
> > rasio saya biasa saya gunakan, sebab Allah memberikan otak ini 
> > memang gunanya untuk berfikir agar dinamika kehidupan kita 
> mengarah 
> > ke arah kebaikan (positif) sebagaimana hakikat dari prinsip2 
> evolusi 
> > yg sudah menjadi sunnatullah (hukum alam).
> > 
> > Muchos saludos,
> > 
> > VH
> > 
> > 
> >  
> > > manneke
> > > 
> > >
> >
>


Kirim email ke