Setuuujuuuu.... Atur dulu bangsa sendiri dalam berdemokrasi, sebelum mengkritik rumah tangga bangsa lain, dimana kita numpang, atau mengajari mereka demokrasi...
Bereskan dulu rumahtangga kita sendiri...setujuuu Salam danardono --- In [email protected], Roy Hamandika <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Buat Idakhouw, > > Tidak usah jauh-2 ke Belanda. Ambil contoh dalam negeri sendiri saja. > Kalau negara tidak berhak mengatur interpretasi atas ajaran agama, kenapa diaceh ada perda yg mewajibkan semua perempuan di Aceh untuk mengenakan jilbab terlepas dari yang bersangkutan bersedia atau tidak, terlepas dari apapun agama perempuan tsb. > > Tidak usah ngurusin yg dinegara orang dech. Ngurusin yg ada di negeri sendiri dulu. Kalau dalam negeri sendiri sudah beres, baru berkoar-koar tentang negara orang. Kalau dalam negeri sendiri masih amburadul, bakal diketawain saja kalau mau sok ngajari pemerintah negara lain untuk melakukan yg pantas dan tidak pantas. > > Jangankan pemerintah Belanda, pemerintahan NKRI yg penduduknya mayoritas muslim saja pasti tidak setuju kalau foto perempuan berburqa yg terpasang diKTP atau passportnya. Jilbab masih oke karena wajah yg empunya foto masih bisa teridentifikasi. Kalau memakai burqa, gimana mengidentifikasi pemiliknya? > > Pemerintah Belanda tentunya punya pertimbangan tertentu sehingga berniat melarang burqa. Tidak ada satu orang pun yg berani menjamin bahwa penggunaan burqa tidak disalahgunakan oleh para teroris,bukan! Makanya sebagai tindakan pencegahan, sah-2 saja kalau pemerintah belanda berencana melarang pemakaian burqa. > > Pelarangan ini ada segi positifnya juga yakni untuk menghindari ekslusivisme. Sudah bukan rahasia bahwa banyak kelompok muslim minoritas yg menjadi sasaran balas dendam setiap kali teroris berhasil melakukan suatu aksi brutal dalam skala besar. Setelah 'black september' banyak dilaporkan adanya pelecehan terhadap umat muslim di Amerika dan negara-2 eropa dan juga di Australia. Kalau para perempuan tsb tidak mengenakan burqa/jilbab, mungkin mereka tidak perlu menjadi sasaran pelecehan. > > Salam perdamaian > > idakhouw <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Argumentasi Manneke bukannya sudah sangat terang benderang? > Saya elaborasi lanjut: bila burqa adalah persoalan interpretasi > (sempit) atas ajaran agama, maka biarlah itu jadi urusan > teolog/agamawan Islam mendewasakan (mengutip van Helsing) sebagian > dari umatnya itu; negara tidak berhak mengatur interpretasi > (sekelompok kecil umat) atas ajaran agama. > > Helsing: > > Apakah anda berfikir parlemen Belanda tidak tahu akan produk hukum > > yg akan mereka buat dan tetapkan? apakah anda berfikir -dgn bekal > > idealisme- anda lebih tahu akan REALITAS masyareakat mereka/ Belanda > > yg mendasari ide munculnya UU tersebut? > > Realitasnya? dasarnya? :-) phobia! > > Pemerintah Belanda kan sudah cukup dewasa mengerti pemisahan agama dan > negara, buktinya pemerintah tidak mengutak-atik kelompok Kristen yg > sangat konservatif khas Belanda: kelompok Kaus Kaki Hitam yang sangat > tertutup, yang sama sekali tidak melakukan kegiatan di hari Minggu > (tidak nonton TV, tidak bersih2 rumah, tidak bersosialisasi) demi > 'menguduskan hari Sabat', selalu berpakaian berwarna gelap di ibadah > Minggu, -yang perempuan- berstocking warna gelap dan biasanya bertopi > a la kelas bangsawan. > > Apakah pemerintah mengintervensi interpretasi ajaran agama dari > kelompok ini? kan tidak! > Argumentasi yang sama bisa disampaikan untuk kasus burqa. > > Sekalian menanggapi sdr. Loekyh: > > Sebab jika memang berburqa itu merupaka keyakinan Islam yg harus > dipatuhi oleh seluruh muslimah di Belanda, maka mestinya seluruh > muslimah, bukan cuma sekitar 50-100 muslimah, yg ada di Belanda > (bahkan yg ada di seluruh dunia) menggunakan burqa dong. > > > Jadi buktikan dulu bahwa pemakaian burqa memang benar2 merupakan > bagian ajaran Islam yg diyakini dan dipraktekkan oleh SELURUH muslimah > di Belanda (di dunia?). Jika anda bisa membuktikannya, barulah saya > akan ikut anda2 semua untuk mementang larangan berburqa di Belanda. > > > 1. Untuk orang terdidik seperti Anda, saya tak perlu menerangkan bahwa > interpretasi atas ajaran agama bisa beragam kan? agar mudah mengerti: > Anda bisa lihat di agama Anda sendiri; Buddhism yang, seperti juga > agama2 semit, warnanya juga macam2. > > 2. Mengenai ajaran Islam mana yang benar dan tidak (btw. siapa pula > yang berhak menentukan?!) itu urusan internal Islam. Negara hanya > boleh mengatur urusan2 menyangkut kepentingan/keselamatan publik > (menyangkut bom bunuh diri atas nama agama, krn sudah menyangkut > keselamatan ruang publik; larangan mengumandangkan adzan memakai > pengeras suara keluar dari lingkungan masjid, karena akan mengganggu > kenyamanan publik, misalnya). Aturan2 seperti itu tentu saja bisa > diterima, ia TIDAK mengintervensi agama) > > Ida Khouw > > --- In [email protected], "helsing744" <helsing744@> wrote: > > > > --- In [email protected], manneke <manneke@> wrote: > > > > > > > > > > --------------------------------- > Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates. >
