Apa benar beritanya? Selain itu apakah tidak boleh membaptis orang  yang mau 
masuk agama Kristen, bukankan Indonesia merdeka dan orang bebas memilih 
agamanya? Sama halnya kalau ada orang beragama Hindu, Kristen, Buddha atau 
Kafir mau masuk  Islam tentunya juga boleh saja sesuai kehendak hatinya.

Hidayatullah itu suka bikin hangat darah manusia menjadi serigala dengan 
berita-berita tidak benar, hal ini bisa dilihat pada artikel-artikelnya selama 
konflik di Maluku. 


  ----- Original Message ----- 
  From: marthajan04 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, January 03, 2007 7:47 AM
  Subject: [mediacare] Re: Geger "Kristenisasi" di Depok


  makin banyak diceritani pengkristenan ini makin banyak ketawa aku.
  kalo iya benar gitu kejadiannya, orang indonesia itu termasuk 
  pembawa tulisan itu kesini, walah pada tolol2 dan emongsian aja 
  bawaannya. kaya anak2 smp semuanya.
  coba pake otak dikit.
  yang kristen coba mikir. apa gunanya baptisin orang kalo hanya untuk 
  di-olo-in/dikadalin duitnya.
  yang islam coba mikir. apa kalo kepalanya digrujugin air sambil 
  dibilang : = kamu dipermandikan atas nama tuhan yesus = terus iman 
  orang itu jadi berubah dari percaya muhamad lalu jadi percaya yesus?

  kalo saya jadi orang islam kere dan butuh bantuan, saya akan minta 
  minggu ini dibaptis gereja di depok. minggu depan di bekasi. minggu 
  depannya lagi di tangerang. minggu depannya lagi di bogor. terus aja 
  keliling. nanti kalo duitnya sudah banyak buat modal, kalo perlu 
  bikin pesantren.
  gitu aja refot. ampuuuuun! 
  si wido itu tukang propokator.

  --- In [email protected], "Wido Q Supraha" <[EMAIL PROTECTED]> 
  wrote:
  >
  > Geger "Kristenisasi" di Depok 
  > 
  > Rabu, 03 Januari 2007
  > 
  > 
  > 
  > Idul Adha yang seharunya semarak dengan suka cita ternyata 
  mendadak geger.
  > Beberapa orang Nashr ani, di Depok dikabarkan 'membaptis" 72 anak-
  anak
  > Muslim
  > 
  > Hidayatullah.com--Menjelang Idul Adha 1427, kampung Lio-Depok 
  geger.
  > Pasalnya seorang laki-laki, bernama Sugito, yang selama ini 
  dipercaya warga
  > setempat, membawa 72 anak-anak Muslim ke Gereja Bethel, Depok.
  > 
  > 
  > 
  > Rabu tanggal 26 Desember 2006, sekitar pukul 3 sore, anak-anak SD 
  dan SMP
  > kumpul di Rumah Singgah "Bina Tulus Hati", RT3/RW19, Kampung Lio 
  Depok.
  > Menurut rencana, mereka akan diajak jalan-jalan oleh Pak Sugito dan
  > teman-temannya. Tak jelas, kemapa mereka akan dibawa. 
  > 
  > 
  > 
  > Anak-anak yang jumlahnya 72 orang itu, berangkat dengan Metro 
  Mini. Setelah
  > berputar-putar, sekitar jam 16.30 mereka sampai di sebuah gereja 
  Depok.
  > "Namanya gereja Bethel,"ujar Iis kelas 2 SMP, yang ikut dalam 
  rombongan itu.
  > 
  > 
  > 
  > Sesampai di gereja itu puluhan anak-anak itu disuruh duduk di 
  dalam gereja.
  > Di ruangan gereja itu, sudah ada puluhan anak-anak lain, entah 
  dari mana.
  > Selain itu, di depan anak-anak berdiri laki-laki dan perempuan 
  dewasa yang
  > jumlahnya sekitar 10 orang. 
  > 
  > 
  > 
  > "Kita disuruh menyanyi puji Yesus,"ujar gadis kecil Muslimah itu 
  di depan
  > aktivis ormas-ormas Islam Depok, di Masjid Baiturahman, Kampung 
  Lio, Depok,
  > Ahad lalu (31/12/2006). Bagaimana nyanyiannya? "Diantaranya : Dia 
  lahir
  > untuk kami, dia raja di atas raja, "ujarnya.
  > 
  > 
  > 
  > Melihat acara di dalam gereja seperti itu, beberapa anak Muslim 
  melarikan
  > diri terbirit-birit ke luar ruangan gereja. Anak-anak Muslim yang 
  lain,
  > mungkin takut, tetap duduk mengikuti acara yang dipimpin seorang 
  ibu itu.
  > Mereka kemudian disuruh berdoa dan seorang ibu kemudian mendatangi
  > masing-masing anak itu dan memegang kepalanya. "Bunyinya kira-
  kira: Semoga
  > Tuhan memberkati dan roh Kudus membimbingmu. Tuhan Kami nggak 
  ingin kamu
  > kalah..kalau kamu ikut Tuhan Kamu kamu kalah, kalau kamu ikut 
  Tuhan Kami
  > kamu menang,"ungkap anak-anak belia itu.
  > 
  > 
  > 
  > Setelah acara-acara itu, mereka pulang. Sebelum balik ke rumah 
  naik bis yang
  > sama, mereka diberi bingkisan. "Kita semua diberi bingkisan yang 
  isinya
  > pakaian,"ungkap Sita, 12 tahun, siswi kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah 
  yang juga
  > ikut dalam rombongan itu. Penjelasan Sita ini diamini oleh Indah 
  (13 th) dan
  > Lusi (12 tahun). Acara di gereja yang berlangsung dari sore sampai 
  malam
  > itu, memaksa anak-anak Muslim tidak dapat melaksanakan shalat 
  maghrib.
  > 
  > 
  > 
  > Melihat kejadian di gereja yang tidak wajar itu, anak-anak laki-
  laki dan
  > perempuan itu mengadu ke orangtuanya. Dan menjadi ramailah 
  kampung itu.
  > Setelah berembuk secara cepat akhirnya warga membentuk tim untuk 
  mengusut
  > tuntas kasus "kristenisasi" ini. Mereka kemudian melaporkan 
  Sugito ke
  > kepolisian Pancoran Mas, Depok. Sugito ditahan. Tapi ketika 
  warga Muslim
  > setempat memproses pengaduan untuk Sugito ini, tiba-tiba Sugito 
  sudah bebas
  > dan kabarnya, terbang ke Yogya. Entah siapa yang membebaskan.
  > 
  > 
  > 
  > Kampung Lio, memang bukan kampung berkecukupan. Banyak masyarakat 
  dhuafa di
  > situ. Di wilayah itu terdapat puluhan keluarga pemulung, anak 
  jalanan dan
  > lain-lain. Di situlah sekitar tahun 2004, Sugito dan kawan-
  kawannya bergerak
  > membuat Rumah Singgah Bina Tulus Hati. Sekitar 119 anak-anak laki 
  dan
  > perempuan, kelas setingkat SD-SMP dibina di situ. Mereka diajari 
  baca Al
  > Qur'an (Iqra') dan pelajaran-pelajaran umum. Sebagian pengajarnya 
  ada
  > mahasiswa-mahasiswa Nashrani dari Universitas Indonesia. "Yang non 
  Muslim
  > itu ngajar pelajaran-pelajaran umum,"jelas Iis.
  > 
  > 
  > 
  > Karena merasa dikhianati oleh Sugito, marahlah warga Muslim. Kini 
  Rumah
  > Singgah itu ditutup. Dan warga mengambil alternatif melanjutkan 
  kegiatan
  > anak-anak itu, di Masjid Baiturrahman, Kampung Lio, yang kini 
  masih dalam
  > tahap pembangunan.
  > 
  > 
  > 
  > Dalam silaturahmi Dewan Dakwah Islamiyah (DDI) Depok dengan Tim 
  Independen
  > kasus itu, FPI Depok dan pengurus masjid Baiturrahman disepakati 
  untuk
  > melanjutkan bantuan beasiswa ke anak-anak dhuafa itu. 
  > 
  > 
  > 
  > "Puluhan anak-anak itu perlu diberi bantuan agar mereka tetap dapat
  > melanjutkan sekolahnya,"ujar Insan Mokoginta, Ketua Umum DDI Depok 
  yang
  > baru. [nuim/cha]
  > 
  > 
  > 
  > Source : http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content
  > <http://hidayatullah.com/index.php?
  option=com_content&task=view&id=4055&Item
  > id=65> &task=view&id=4055&Itemid=65
  > 
  > 
  > 
  > Powered by Gentoo!
  > 
  > 
  > 
  > _____ 
  > 
  > From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
  > Sent: Wednesday, January 03, 2007 10:55 AM
  > To: [EMAIL PROTECTED]
  > Subject: Re: [pks-depok] Geger "Kristenisasi" di Depok
  > 
  > mungkin ini peringatan untuk kita yang mengaku sebagai muslim, 
  bahwa kita
  > sering mengabaikan kaum marjinal seperti mereka. akibatnya, dengan 
  mudah
  > mereka dirangkul pihak lain untuk dimurtadkan.
  > 
  > saya sendiri pernah bertemu seorang kakek dalam angkot di margonda 
  yang
  > bertanya2 kemana arah gereja muria di pancoran. Bapak tersebut 
  berpeci,
  > sehingga saya langsung berasumsi dia muslim.
  > Saya tanya: bapak ada apa mau kesana?
  > Kakek: Mau dibaptis, disuruh dateng kesana
  > Saya (kaget): Bapak tahu dibaptis itu apa? bapak agamanya apa?
  > Kakek: Islam. saya ngga tahu dibaptis itu apaan.
  > Saya: Pak, dibaptis itu berarti bapak bisa pindah agama jadi 
  kristen, apa
  > bapak emang mau pindah agama?
  > Kakek: Lho...ngga mau, saya ini cuma mau minta bantuan karena 
  istri saya
  > dirwat di RSCM dan sekarang belum bisa pulang karena biaya 
  perawatan kurang.
  > dan saya pinjam sana sini ngga ada yang ngasih, terus ada yg mau 
  kasih, tapi
  > saya disuruh dibaptis dulu ke gereja muria, nanti dikasih uang.
  > Saya: Bapak kurangnya berapa?
  > Kakek: ini...(sambil memperlihatkan tagihan RS yang mencantumkan 
  biaya
  > khusus untuk keluarga miskin tapi masih kurang 18.000).
  > 
  > Kurang ajar ya? cuma 18 ribu mereka berikan tapi dengan syarat 
  dibaptis
  > dulu.
  > 
  > Akhirnya saya dan kawan2 memberi si kakek ongkos sekedarnya dan 
  kekurangan
  > bisaya RS yang kebetulan tidak terlalu besar itu.
  > Sepanjang jalan, si kakek cerita, bahwa dia tak mau masuk kristen, 
  dan hari
  > itu dia sedang shaum juga. tapi dia tak mengerti apa itu 
  istilah 'baptis'.
  > Mudah2an si kakek tetap muslim ditengah kemiskinannya.
  > Saya yakin, masih banyak lagi sasaran kristenisasi diluar sana.
  > 
  > resti
  >



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.1.409 / Virus Database: 268.16.3/614 - Release Date: 1/2/2007

Kirim email ke