L:
> Saya yakin pendekatan yg anda ambil dalam rangka toleransi beragama
> adalah pendekatan 'jangan ngomongin isu2 sensitif', sama dg pendekatan
> pak Harto :-)

I:
1. Orang asing yang bisa Bahasa :) bisa mengerti dengan tepat tulisan2
berbahasa Indonesia saya. Ada apa dengan Anda, meleset melulu begini?  
Masih ingat kan bahkan Anda tidak menangkap makna pertanyaan retoris? :)

2. Kali ini harus lebih gamblang: seperti kata Bung James,
sudahlah.... semakin Anda melakukan self-defense semakin kelihatan
Anda kedodoran memahami terms teologis/akademis dari narasi para
profesor/doktor/Ph.D researchers di tayangan CNN itu. 

3. Silaken saja kalau Anda ingin bahas tema2 sensitif, bahkan kalau
berniat mem-blaspheme Yesus/Kristianitas sekalipun, tapi yah,,, gimana
yah kalo fondasinya gampang ambruk begitu.

4. Postingan di milis lain, itu urusan Anda.

5. Anda kelihatannya boleh juga dalam hal berkelit, sayang kelitannya
kurang cerdas :-)
> Saya tak akan berkomentar secara khusus thd isi postingan anda, supaya
> tidak terlalu ber-panjang2.

I.




> --- In [email protected], "idakhouw" <idakhouw@> wrote:
L:
> Seandainya saya belajar Pancasila seumur hidup dan tetap ndak ngerti2,
> apakah meneer Jeims akan melarang saya berkomentar ttg Pancasila?
> (Kalau anda pendukung pak Harto, pertanyaan ini saya batalkan :-))

I:
Saya ikut nimbrung: kalaupun ada larangan, yang 'dilarang' adalah
bikin statement, kesimpulan, kasih label, yang berdasarkan pengetahuan
terbatas.


L:
> Makanya saya
> tak mengerti kenapa ada yg meminta saya 'belajar dulu agama X' ketika
> berdiskusi ttg agama padahal kalau mau fair, diskusi agama harus
> berbasis pada prinsip2 yg juga diterapkan ketika belajar ilmu2
> 'duniawi' (semacam ilmu2 eksakta) di sekolah2 dan di kampus2.
>

I:
Mungkin yang dimaksud itu anjuran supaya Anda keluar dulu dari
kosmologi konsep Anda (coba perhatikan diskusi Dewi Candraningrum
dengan saya tentang Hermeneutika yang saya posting di sini). Dari
pilihan kata Anda di topik CNN itu kelihatan jelas sekali Anda belum
berhasil mengerti kosmologi konsep Kristen, dan sayangnya tahap itu
belum berhasil Anda lalui tapi Anda sudah buru2 menarik kesimpulan ini
itu.

Jadi lakukan dulu apa yang Anda anjurkan orang lain lakukan (terlebih
dahulu ganti "sebaiknya kita melakukan pendekatan dan pola pikir dg
pijakan akademik" menjadi "sebaiknya kita keluar dulu dari kosmologi
konsep kita lalu coba pahami kosmologi konsep yang sedang Anda bahas
itu"):
> 3. Jika kita membicarakan agama di luar agama kita, maka sebaiknya
> kita melakukan pendekatan dan pola pikir dg pijakan akademik, spt
> contoh pembuatan dokumenter tsb. Jadi bukan dg pijakan (dogma) ajaran
> kita sendiri yg sudah pasti akan bias dan lebih berpotensi menimbulkan
> konflik karena (dogma) ajaran sendiri tak bisa didiskusikan dg pihak
> agama lain.

Sayang ya, Anda tidak cukup sportif mengakui bahwa Anda melakukan
kekeliruan.

Salam,
Ida Khouw


>


Kirim email ke