Rekan-rekan.
Saya risau sekali dengan komunikasi yang terjalin soal isu kristenisasi ini.
Saya berasumsi bahwa para peserta milis ini tergolong kaum berpendidikan
yang diharapkan justru bisa mengarahkan masyarakat luas untuk hidup dengan
penuh kedamaian.
Tapi kentara sekali bahwa banyak peserta diskusi yang mengedepankan emosi
seraya mengabaikan substansi masalah.
Saya rasa, berita dari hidayatullah itu justru perlu diangkat secara luas,
selama kita bersedia membicarakannya secara dingin.
Maksud saya begini:

Pertama-tama, kalau berita itu benar, saya rasa itu persoalan serius. Dan
kita ditantang untuk menjawab sebuah pertanyaan besar: apakah layak
penyebaran agama dilakukan dengan cara menipu dan mengiming-imingi
anak-anak? Apakah penyebaran agama layak dapat dilakukan dengan prinsip
'tujuan menghalalkan cara'. Saya akan menjawab tidak. Lebih dari itu saya
menyarankan agar kita bersama-sama menyuarakan penolakan terhadap
bentuk-bentuk penyebaran agama dengan cara tidak etis semacam itu.

Kedua, kalau berita itu benar, apakah model penyebaran agama semacam itu
mewakili arus utama dalam organisasiu-organisasi Kristen, atau sekadar
mewakili kalangan ekstrem tertentu. Sepanjang yang saya ketahui, ini
adalah gaya kalangan radikal Kristen tertentu dan bukan ciri mainstream
Kristen. Karena itu, sebagaimana layaknya kita harus membedakan antara
arus utama umat islam dengan kelompok radikal Islam, kita juga tidak
mudah2 menuduh apa yang terjadi sebagai kesalahan umat Kristen secara
umum. Dalam hal ini, saya menyarankan juga teman-teman beragama Kristen
bisa menjelaskan secara proporsional kepada umat non-Kristen tentang kaum
Kristen eksklusif tersebut.

Ketiga, bagaimana kalau berita itu ternyata tidak benar? Karena itu,
alih-alih langsung bereaksi keras, yang bisa dipertanyakan adalah
kesahihan berita Hidayatullah tersebut. Apakah ini ditulis dengan gaya
'jurnalisme katanya' seperti yang secara sangat memalukan terjadi dalam
kasus pemberitaan 'adam air' , atau memang dengan mengikuti
prinsip-prinsip jurnalistik yang benar. Kalau tidak salah sih, berita ini
tidak ditulis dengan peliputan berimbang (cover both sides). Akibatnya
akurasi dan kebojektifannya pun mungkin bisa diragukan.

Saya rasa dengan bersikap lebih hati-hati semacam ini, berita-berita buruk
semacam ini justru dapat kita manfaatkan untuk perbaikan di masa depan.
Kalau setiap berita buruk dihadapi dengan cercaan, saya kuatir kita justru
tidak cukup siap menghadapi kondisi-kondisi yang mensyaratkan respons
bersama.

Salam

ade%

Kirim email ke