Kehormatan wanita ada ditangan wanita itu sendiri, utk memperjuangkan
hak kita sebagai wanita kita perlu bersikap seperti srikandi, kita hrs
mendidik wanita utk hidup diatas kakinya sendiri, tidak menggantungkan
kebahagiaan dari suami, wanita hrs dididik utk mengontrol hidup nya,
hanya dengan kecerdasan dan kemandirian lah kita bisa merubah citra
kita sebagai wanita yg mudah diperbudak oleh keinginan lelaki, utk
menentang polygamy agak sulit dan makan waktu krn kita hrs merubah
alkitab yg sudah kadung dipercaya oleh kepala2 lelaki yg penuh dengan
nafsu birahi, harus merubah UU perkawinan yg sudah berlaku puluhan
tahun, yg kita hrs rubah adalah diri kita sendiri.

---------------

Jawaban jitu ... Anda punya cara pikir unik dan berbeda tapi tetap
logika yang brilliant dan tanpa mengabaikan realitas. Saya senang baca
tulisan anda.




--- In [email protected], ati gustiati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Dear Henny, terimakasih sudah mau berbagi catatan ini dengan kami,
polygamy di Indonesia atau negara2 yg berpenduduk Islam lain nya sudah
jelas tidak dianggap sebuah kejahatan, karena sikap ini dianggap sudah
dilindungi oleh UU dan agama, dua element yg sangat kuat/ solid, itu
sebabnya lelaki terhormat seperti Ade Armando pun tidak merasa malu
atau jengah utk melakukan nya, lalu kita bertanya; " ok,lah UU dan
agama merestui polygamy, tapi kalau lelaki yg punya otak dan
berperasaan mana mau melakukan nya ? mereka tau ini sudah jelas
perbuatan yg sangat menyakitkan istri dan anak2 nya, gitu kan?  UU,
agama dan moral lelaki sudah begitu sulit utk ditembus oleh gerakan
wanita anti polygamy, adakah jalan lain utk mencegah hal ini terjadi
demi kehormatan wanita ?
 
Kehormatan wanita ada ditangan wanita itu sendiri, utk memperjuangkan
hak kita sebagai wanita kita perlu bersikap seperti srikandi, kita hrs
mendidik wanita utk hidup diatas kakinya sendiri, tidak menggantungkan
kebahagiaan dari suami, wanita hrs dididik utk mengontrol hidup nya,
hanya dengan kecerdasan dan kemandirian lah kita bisa merubah citra
kita sebagai wanita yg mudah diperbudak oleh keinginan lelaki, utk
menentang polygamy agak sulit dan makan waktu krn kita hrs merubah
alkitab yg sudah kadung dipercaya oleh kepala2 lelaki yg penuh dengan
nafsu birahi, harus merubah UU perkawinan yg sudah berlaku puluhan
tahun, yg kita hrs rubah adalah diri kita sendiri.
 
Bagaimana kita mencerdaskan wanita Indonesia dalam menghadapi
perkawinan yg memerlukan intelligence sekaligus kelembutan sebagai
wanita ? dengan seminar2 terbuka, para pakar wanita/ feminist atau
activist2 wanita hrs bersatu, kebersatuan wanita adalah senjata yg
terbaik utk merubah system yg berjalan.
Saya berkata apa yg menurut saya baik, karena bila saya hrs memilih
antara hidup sendiri dan bebas tanpa penderitaan atau bersuami dan
menderita bathin setiap hari tentunya dengan mudah saya akan memilih
hidup sendiri, bisa kah kita hidup tanpa lelaki ?
akan sulit, tetapi kita bisa bertahan hidup tanpa harus menyakiti
perasaan kita.
Saya tidak memproganda utk hidup tanpa suami, itu kembali kepada
value/nilai diri sendiri, tentunya beruntunglah wanita yg bersuamikan
lelaki ksatria, bagi wanita yg bersuami brahmana itu yg  menjadi issue
disini.
 
salam karib
omie lubis
 

Kirim email ke