Betul mas. 

Pidato ini agak terlalu theoretis, tetapi mungkin beliau ingin 
menyampaikan pesan yang dikemas. Beliau pasti takkan berpidato, 
bahwa Buddha, Kristieni harus mampu menghadapi tantangan 
modernisasi. Mengapa? Karena agama agama ini mempunyai penganut yang 
berethos kerja sangat amat tinggi. Ambil saja dua bangsa: Germania 
dengan latarbelakang Kristiani dan Jepang dengan latarbelakang 
Shinto-Buddhismus.

Kita harus bertanya, mengapa bapak presiden justru melontarkan 
ajakan berkerja keras pada umat Islam?

Tak ada asap tanpa api.

Salam hangat

Danardono



--- In [email protected], "BDG KUSUMO" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Uraian Bapak Presiden SBY ini memang panjang lebar, namun terasa 
cukup
> teoretis. Etos kerja, iptek, kiat manajemen dan lain sebagainya 
yang terkait bersifat
> universal, juga lintas agama. Yang penting adalah cara berpikir, 
yang di Tiongkok 
> dilandasi oleh Confusianisme dan di Eropa, juga Amerika Utara dan 
Australia, 
> oleh falsafat Yunani purba.
> 
> Ketika di Jepang bergulir Reformasi Meiji, mereka tidak memikirkan 
tentang siapa yang
> menganut Shintoisme atau Zen Buddhisme. Korea Selatan dan kini RRT 
juga tidak
> usah menggalang kekuatan penganut Konghucu (Confusius). India juga 
kini "tancap
> gas" perekonomian tidak melihat pemainnya Hindu, Shik, Marxis, 
agnostik atau bahkan
> atheis. Chavez, Morales dan lain-lain di Amerika Latin yang 
beragama Katolik juga
> demikian. Saya yakin yang paling penting adalah akal sehat dan 
moral yang kokoh
> untuk menggapai semuanya yang diperlukan untuk kemajuan pada abad 
21 ini.
> 
> Untuk menukik kebumi, saya pikir Indonesia dan bangsanya, apapun 
agamanya,
> seharusnya terutama memikirkab pembangunan menyeluruh dinegeri 
sendiri. Ini
> tanpa melupakan bahwa ada dunia yang punya 1001 masalah, yang kita 
harus sharing
> juga. Globalisasi sudah mundur namanya karena ternyata hanya 
istilah baru untuk
> perluasan empirium modal multinasional. Yang oleh Presiden 
Soekarno diberi nama
> Nekolim. Tentu imbasnya bagi RI sangat besar. Kita harusnya 
mempunyai konsensus
> nasional sekait, misalnya, operasi MNCs seperti Exxon Mobile, 
Freeport dll.
> 
> Kita memang harus juga memikirkan situasi internasional. 
Namun "basis" kita ialah
> negeri kita sendiri, yang bersama rakyatnya memerlukan segudang 
perbaikan dan
> kemajuan, yang sifatnya sangat multi-dimensional.
> 
> Tanpa kemjauan-kemajuan yang bagaimanapun tampak kecil, namun 
harus tangible
> (bisa diraba, dirasakan), di negeri kita sendiri, suara kita di 
mancanegara akan selalu
> terdengar bizzare (aneh, lucu). Bangsa Ceko punya 
pepatah: "Bersihkanlah halaman 
> sendiri, sebelum membicarakan halaman tetangga". Saya yakin ini 
ada wisdomnya.
> 
> Bismo DG, Praha
> 
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: Sunny 
>   To: Undisclosed-Recipient:; 
>   Sent: Wednesday, May 30, 2007 12:17 PM
>   Subject: [nasional-list] Islam dan Tantangan Modernisasi
> 
> 
> 
>   REPUBLIKA
>   Selasa, 29 Mei 2007
> 
> 
>   Islam dan Tantangan Modernisasi 
> 
>   Susilo Bambang Yudhoyono
>   Presiden Republik Indonesia
> 
> 
>   Setiap hari sekarang kita menghadapi dunia yang penuh dengan 
tantangan dan peluang. Dunia ini telah diwarnai dengan perkembangan 
ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat. Kekuatan pasar 
yang kuat telah banyak memainkan peran dalam arena perdagangan dan 
investasi. Di sisi lain, kita juga mendapati dunia ini banyak 
menghadapi ancaman kemiskinan dengan segala dampaknya.
> 
>   Negara-negara berkembang pun harus menghadapi ancaman kegagalan 
untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGs). Ancaman lain yang 
juga mematikan adalah dunia ini harus menghadapi bencana alam yang 
disebabkan oleh pemanasan global. Kita, umat Islam, tidak bisa lari 
dari dunia yang suram ini. Kita harus menghadapinya. Jika mampu 
bijaksana dalam menghadapinya, kita bisa membangun peluang untuk 
membuat dunia ini menjadi lebih baik.
> 
>   Persoalannya sekarang adalah apa yang bisa kita kerjakan untuk 
menghadapi tantangan sosioekonomi saat ini. Apa yang bisa dilakukan 
masing-masing negara untuk menghadapi tantangan berupa 
ketidakseimbangan ekonomi global, kerawanan arus finansial, 
kemiskinan, kelangkaan pangan dan energi, serta pemanasan global? 
Kemudian juga apa yang bisa kita lakukan sebagai umat untuk 
menghadapi tantangan itu sehingga kita bisa menjadi bagian dari 
pemecahan masalah, dan bukan menjadi bagian dari masalah?
> 
>   Kekuatan dunia Islam
>   Sebagai langkah awal, kita semua harus menyadari bahwa kita 
tidaklah dalam kondisi tidak punya harapan. Kita tidak lemah. Kita 
menjadi terlihat lemah karena kita tidak bekerja sama. Kita juga 
menjadi lemah karena kita telah meyakini bahwa diri kita lemah.
> 
>   Di tahun 2005, jumlah umat Islam yang berada di negara-negara 
anggota Islamic Development Bank adalah 2,2 miliar jiwa atau sama 
dengan 31 persen populasi umat manusia di dunia. Yang lebih penting 
lagi dunia Islam saat ini menyediakan 70 persen kebutuhan energi 
dunia dan menyediakan 40 persen bahan mentah untuk ekspor. Kenyataan 
tersebut merupakan bukti kekuatan kita. Karena itu, kita harus 
memainkan peran yang setara dengan bangsa-bangsa lain dalam 
membangun percaturan ekonomi dunia. 
> 
>   Kita bisa dan harus memperoleh keuntungan yang lebih besar dalam 
menjalin hubungan dengan dunia lain. Ada beberapa hal yang harus 
kita kerjakan. Kita harus proaktif dan mengetahui apa yang kita 
inginkan. Kita harus mengetahui apa yang masuk akal untuk kita 
peroleh dalam menjalin hubungan dengan negara lain dalam kerangka 
hubungan saling menguntungkan. Kita juga harus bekerja lebih baik 
dalam menjelaskan dan mengonsolidasikan posisi kita. Selain itu, 
kita juga harus berani melawan upaya yang memecah belah dan 
mengalahkan kita.
> 
>   Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu hal penting. 
Jika negara-negara mapan memerlukan energi dan komoditas kita, 
negara kita harus mendapatkan keuntungan dari mereka dalam 
perdagangan yang adil, serta tambahan ilmu pengetahuan dan 
teknologi. Karena itulah, kita membangun hubungan yang inovatif dan 
saling menguntungkan.
> 
>   Kita tidak bisa selamanya menjadi penyedia bahan-bahan mentah. 
Kita juga harus mencari modal untuk mendapatkan nilai tambah dari 
komoditas kita dan bisa meratakan keuntungan ekonomi dari langkah 
tersebut untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. Kita harus 
membuat langkah penting dalam mengembangkan sumber daya manusia 
dalam mengembangkan kemitraan dunia perdagangan dan investasi. 
> 
>   Setiap langkah dalam interaksi perekonomian haruslah 
menghasilkan pertumbuhan pengetahuan, keterampilan, dan orientasi 
positif di masyarakat. Untuk itu, dunia Islam harus mengubah 
persepsi kemitraannya. Kita harus mengubah perlakuan negatif mereka 
terhadap kita, menjadi perlakuan yang positif. Tapi, kita tidak akan 
bisa mengubah orang lain tanpa mengubah diri kita sendiri. Kita 
tidak bisa meminta dunia yang mapan untuk menghapus hambatan bea 
masuk, jika kita sendiri tidak mau melakukannya.
> 
>   Potensi bisnis
>   Salah satu bukti penting yang perlu kita miliki adalah kita 
harus terus mengurangi hambatan dalam perdagangan dan investasi, 
sehingga bisnis yang lebih besar bisa berputar dalam dunia Islam. 
Kita memerlukan cara untuk mengembangkan cakupan bank syariah. 
Perbankan dunia Barat dan lembaga keuangan mereka telah menerapkan 
sistem tersebut dengan sangat cepat.
> 
>   Sebagai contoh, Asuransi Allianz telah mengembangkan produk 
syariah yang sangat laku di Indonesia. Satu lagi transaksi yang 
sangat besar dengan sistem syariah dilakukan oleh HSBC dengan 
membuat sindikasi pinjaman senilai 322 juta dolar AS untuk Pertamina 
dari kelompok besar lembaga finansial di Timur Tengah. Cara serupa 
juga dilakukan untuk Krakatau Steel dengan nilai 75 juta dolar AS. 
Langkah-langkah mobilisasi untuk perkembangan dunia keuangan yang 
diterapkan di berbagai negara Islam, bank syariah mampu menciptakan 
kesempatan kerja bagi jutaan angkatan kerja kita.
> 
>   Kita juga akan keliru jika tidak mengambil keuntungan dari 
produk halal. Dengan jumlah umat Islam yang sangat besar, pasar dari 
produk halal bisa mencapai 600 miliar dolar AS per tahun, dengan 
rata-rata pertumbuhan 20-30 persen. Apalagi, kalangan non-Muslim 
juga bisa mengonsumsi produk halal. Apa yang perlu kita kerjakan 
adalah membangun dan menyetujui standar sertifikat halal yang 
berlaku di seluruh dunia.
> 
>   Potensi lain yang juga sangat mungkin untuk dikembangkan adalah 
sektor wisata di dunia Muslim. Sejauh ini, hanya Turki dan Malaysia 
yang telah menjadi pemenangnya. Kedua negara tersebut menjalankan 
promosi yang sangat agresif untuk menarik pasar dari kalangan umat 
Islam. Karena itu, kita harus meluaskan jaringan dan bersama-sama 
mengembangkan promosi yang agresif dan berkoordinasi secara teknis 
menyangkut transportasi, keimigrasian, pembangunan infrastruktur, 
dan sebagainya. 
> 
>   Untuk mengembangkan berbagai kemampuan tersebut, peran madrasah 
juga harus ditingkatkan. Ini juga berarti perlunya penyempurnaan 
kurikulum untuk menjadikan mereka sebagai centers of excellence. 
Kita juga memerlukan kesempatan untuk membuat kontrak, jaringan, dan 
hubungan yang nyata di antara para pengusaha, penduduk, dan kalangan 
lain. Ada banyak hal yang bisa dilihat dan dijadikan inspirasi dari 
kemajuan yang diperoleh penerima penghargaan Nobel, Muhammad Yunus 
dang Grameen Bank-nya. Kerja besarnya berurusan dengan usaha mikro. 
Langkah ini mendorong seluruh masyarakat untuk menciptakan peluang 
bagi generasi mendatang.
> 
>   Kita di Indonesia juga membangun program kredit mikro sejak 
tahun 1970-an. Bank Rakyat Indonesia yang berdiri 1895 mengumpulkan 
dana dari masjid yang telah disalurkan menjadi kredit mikro bagi 
rakyat kecil. Sebanyak 4.000 kantornya setiap hari melayani lebih 
dari 30 juta pelanggan yang umumnya petani miskin dan masyarakat di 
daerah terpencil.
> 
>   Bersamaan dengan itu, kita juga memerlukan untuk merevitalisasi 
lembaga ekonomi Islam kita. Terutama, kita harus membuang 
kemungkinan adanya potensi buruk dari IDB dan lembaga turunannya. 
Karena itulah, menjadi berita besar ketika Organisasi Konferensi 
Islam (OKI) telah menerima Program Kerja 10 Tahun yang memandatkan 
untuk membentuk badan sponsor untuk mengurangi kemiskinan di bawah 
IDB.
> 
>   Sebagai negara, Indonesia harus berperan untuk mengembangkan 
dunia Islam dengan bekerja sama dengan negara-negara Islam dalam 
bidang investasi, perdagangan, pengamanan energi, juga pembangunan 
infrastruktur. Indonesia adalah roda ekonomi terbesar di Asia 
Tenggara dengan pertumbuhan ekonomi tahun ini diharapkan mencapai 
6,3 persen. Pasarnya juga sangat menggiurkan, yakni dengan 220 juta 
penduduk, sumber daya alam yang melimpah, performa makroekonomi, dan 
sebagainya. Indonesia bisa menjadi mitra yang prospektif bagi 
semuanya. 
> 
>   *Disampaikan dalam Pertemuan Ketiga World Islamic Economics 
Forum di Kuala Lumpur, Malaysia.
> 
>   Ikhtisar 
> 
>   - Saat ini, dunia Islam menghadapi dunia yang tumbuh dengan 
pesat.
>   - Globalisasi ekonomi belum menempatkan dunia Islam berada pada 
posisi sejajar dengan negara-negara yang perekonomiannya mapan.
>   - Dunia Islam harus terus mengembangkan kerja sama supaya bisnis 
di kalangan dunia Islam sendiri terus meningkat.
>   - Indonesia harus berperan dalam upaya untuk memperbaiki kondisi 
tersebut
>


Kirim email ke