> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Andaikan N250 dulu selesai disertifikasi, bukan
> tidak mungkin akan terjual.
pendapat diatas ini adalah "omongan kosong melompong".
Kalo memang N250 bisa lulus sertifikasi terbang,
artinya designnya memenuhi syarat untuk bisa terbang,
bukan berarti bisa dijual.
Karena, kenyataannya pabrik Fokker bangkrut meskipun
semua produknya laku dijual, tetapi bukan cuma Fokker
yang bangkrut, juga pabrik pesawat Northrop tutup
bangkrut karena pesawatnya tak laku dijual kalah
bersaing bukan karena pesawatnya tidak lulus
sertifikasi terbang.
Demikianlah, N250 tak perlu kita perbincangkan
desainnya karena sudah jelas pesawat ini berteknologi
kuno yang tidak layak dibuat oleh sebuah pabrik tetapi
cukup dibuat oleh para amatiran saja. Pesawat ini
desainnya sudah salah sehingga tak lulus untuk test
bisa terbang dengan kata lain, kalo dipaksa terbang
ibarat layangan singit yang nubruk ke kanan dan ke kiri
apabila ada angin kencang yang datang.
Jadi untuk sekadar bisa terbang saja sudah tidak
lulus, bagaimana masih bisa bermimpi kalo punya
sertifikat bisa menjualnya???? Karena kalo cuma
sertifikat terbang bisa saja dipalsu, misalnya nyogok
kanan kiri atau bikin sertifikat yang ASPAL, aseli
tapi palsu.
Dan kenyataannya, N250 bukan hanya tidak lulus
sertifikasi terbang, terbukti bahwa dipaksa terbang
dan dipaksa jual di dalam negeri dengan hasilnya bahwa
semua (tak satupun) pesawat N250 akhirnya jatuh dengan
alasan cuaca buruk dan pesawat tidak bisa mendeteksi
cuaca.
Gila enggak tuh??? dengan jelas2 saya baca beritanya
di kompas, bahwa pesawat Habibie ini jatuh dengan juga
korbannya sekian puluh ikut mati. Dan kejadian yang
sama terjadi berulangkali, padahal menurut aturan
umum, sekali kecelakaan, maka semua pesawat lainnya
dilarang terbang. Sebaliknya dengan di Indonesia,
meskipun jatuh semuanya, tetap saja masih diterbangkan
sehingga tambah banyak korban yang jatuh dan jenis
pesawat ini akhirnya habis karena pabriknya yang tutup
sehingga tidak dibuat lagi yang akibatnya tidak ada
lagi yang jatuh.
Jadi yang salah bukan sertifikasinya, tapi memang
designing-nya yang sama sekali tak mengikuti hukum
yang berlaku dalam memproduksi sebuah pesawat.
Sedangkan kalo saja bisa lulus sertifikasi terbangnya,
maka tantangannya adalah persaingan harga, after sales
service, dan juga jangan dilupakan promosinya.
Bagaimana bisa menghasilkan pesawat yang bisa bersaing
harga kalo komponen pesawatnya semuanya dari import
tak ada yang mampu dibuat sendiri, bahkan baut baja
sekalipun bukan buatan dalam negeri tapi diimport dari
Jerman. Untuk hanya bisa membuat baut baja, harus
memiliki teknologi metalurgi dan Indonesia tidak punya
pusat penelitian maupun pengetahuan teknologi
metalurgi.
Jadi andaikan bisa mendapat sertifikat layak terbang,
tetap pesawatnya tidak laku dijual karena harganya
mahal, akibatnya after sales service-nya tak mungkin
bisa baik.
Ny. Muslim binti Muskitawati.
____________________________________________________________________________________
Pinpoint customers who are looking for what you sell.
http://searchmarketing.yahoo.com/