Pabrik Sepatu Nike Hengkang 15000 Buruh Demo Sia2

Enggak ada investor yang mau membayar buruhnya untuk bershalat 5
waktu.  Mau shalat jangan jadi buruh, mau kerja dipabrik jadi buruh
jangan bershalat.  Apalagi investor dipaksa menyediakan berbagai macam
dana untuk kegiatan buruhnya beragama seperti menyediakan tempat
shalat, tempat wudhu dll.  Nike mengambil keputusan yang tepat, cabut
dari negara Allah ini, biarkan saja Allah yang memberi mereka gaji.

Kembali ada investor satu lagi yang cabut dari negara penuh bencana
ini.  Lebih dari 15 ribu buruh telah menambah jumlah pengangguran di
Indonesia.  Pemerintah RI menahan pemilik pabrik sepatu ini, tentunya
melanggar peraturan tindakan ini.

Seperti yang sudah berulangkali saya tulis dan saya peringatkan kepada
pemerintah RI dan orang2 Indonesia, bahwa agama Islam itu racun, racun
bagi investor, racun bagi produktivitas umatnya, racun bagi kemampuan
berpikir logis dan rasional, bahkan racun bagi kesatuan dan persatuan
bangsa ini.

Sekarang kembali investor besar yang sulit didapat ini hengkang dari
negara angan2.  Sebabnya hanya dikatakan kualitas buruhnya buruk,
padahal kalo mau secara detail diperinci penyebab utamanya adalah
Syariah biadab ini yang selalu merugikan perusahaan.  Terlalu banyak
kegiatan keimanan dan juga pungutan untuk kepentingan keimanan yang
menyebabkan kualitas kerja buruh memburuk.  Biaya buruh Cina masih
lebih mahal, tapi kerjanya benar2 bagaikan robot, tidak perlu shalat 5
waktu, produktifitasnya sangat tinggi, akibatnya meskipun harga
buruhnya mahal tapi produktivitas buruhnya tinggi, dan sewa tanahnya
rendah disertai bebas dari pungutan2 dari mesjid2, otomatis investor
bisa mengeruk keuntungan yang jauh lebih tinggi katimbang negara yang
menyembah Allah ini.

Kalo kemudian investor ini cabut, ber-kaok2lah buruhnya, padahal
sebelum cabut seharusnya mereka menyadarinya, dan pemerintah perlu
membimbing dan menjelaskannya kalo agama Islam itu merupakan batu
sandung yang merusak produksi sehingga mereka yang masih mau shalat
sebaiknya jangan kerja jadi pengangguran saja, tapi mereka yang memang
cuma mau kerja tanpa shalat diutamakan untuk diterima jadi pegawai,
jangan dibalik, buruh yang diterima justru yang cuma memanfaatkan jam
kerja untuk shalat.  Enggak ada perusahaan yang mau membayar buruh
untuk waktunya bershalat.

Ny. Muslim binti Muskitawati.



Kirim email ke