Inilah serunya bisnis media di zaman sekarang. Jangan lihat apa yang terjadi, 
tapi lihatlah mengapa itu terjadi.
 
Perseteruan Astro dan Indovision; termasuk di dalamnya ada teori konspirasi 
bisnis. Hari Tanu memasang orang di KPI, Don Bosco, HT juga dekat dengan 
Menteri Komunikasi. Ya gitulah... Untuk Astro, begitulah bisnis, sabar deh.
 
Astro  perlu memperhatikan konstalasi dan memasang orang, jangan hanya berani 
bayar tayangan.
 
Coba lihat bagaimana isu BLBI yang mengemuka, ternyata di baliknya ada 
perseteruan Gunawan Yusuf dan Anthony Salim. Mereka memasang orang-orang, baik 
lewat LSM atau pengacara.
 
Demikian juga, kasus RGM dan Tempo, sebetulnya perseteruan antara Sukanto 
Tanoto dan Edward Soeryajaya. Jadi begitulah sekilas info. Kalau mau info 
lanjut silakan baca majalah EKBIS.....
 
 
S.S Budi Rahardjo (o8161945288)
Pemred Majalah EKBIS (Ekonomi Bisnis)
Satu-satunya Majalah Investigasi Ekonomi Bisnis  

urban opini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Hehehe...
Seru juga neh
Bisnis kapitalis ya seperti ini mau apalagi?
 


indri yuni <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
Pernyataan Riza Primadi tentang Astro dan EPL

-----Original Message-----
From: Riza Primadi 
Sent: Tuesday, September 11, 2007 9:25 PM
To: News Crew; Non-Bulletin
Subject: Lagi Marah

Dear All

Saya geram membaca pernyataan bodoh Fredy Tulung soal "commercial term
dan non commercial term" (Baca Detik Sport-EPL segera kembali ke TV
lokal). Si Fredy ini(pejabat DepKominfo dengan jabatan Sekretaris Ditjen
SKDI) dengan seenak jidatnya mengartikan non commercial term sebagai
tanggung jawab sosial perusahaan. Itu artinya kalau perundingan soal BPL
dengan TV teresterial gagal Astro harus menjadi sinterklas membagikan
BPL ke teresterial dengan harga semurah-murahnya kalau perlu jual rugi.
Dia memang tak mengatakan persis seperti itu tapi saya tak perlu sebodoh
dia untuk menafsirkannya seperti yang saya tulis di atas.

Kalau logika itu diperturutkan maka semua pertandingan bola di Indonesia
harusnya gratis karena menurut pemerintah (yang juga diamini oleh KPI
dan mantan anggota KPI Ade Armando) menonton sepak bola itu adalah hak
publik. Nyatanya kan tidak begitu. Malah ketika pertandingan Piala Asia
yang notabene menyangkut timnas Indonesia, harga tiketnya sangat mahal. 


Kebodohan kedua yang dilakukan Kominfo adalah mengeluarkan surat yang
isinya memaksa Astro untuk segera memberikan "akses kepada publik" agar
bisa menyaksikan BPL paling lambat 14 September. Sembari menunggu
keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha kalau Astro tak melaksanakan
perintah itu siaran BPL harus dihentikan. Ada beberapa catatan tentang
surat ini; Pertama surat ini tak memakai dasar hukum apapun, kita bisa
menafsirkannya sebagai perwujudan gaya pemerintahan yang fasis dan
otoriter, persis Deppen selama Orde Baru. Jadi Depkominfo tak lebih dari
Deppen yang berganti nama.

Catatan kedua adalah; Deppen, eh salah, DepKominfo sudah terkooptasi
oleh kepentingan pesaing Astro yang gagal mendapatkan BPL. Apa urusannya
pemerintah mengadukan Astro ke KPPU kalau bukan karena ditunggangi
pesaing Astro? Lha wong Trans7 yang kalah bidding saja tak mengadu kok
ini malah pemerintah yang kebakaran jenggot. Sikap ini juga diamini oleh
KPI.

KPI juga tumben-tumbenan seiring dan sejalan dengan pemerintah. Anggota
KPI Bimo Nugroho dengan gagah mengatakan KPI akan melarang Astro
menyiarkan Liga Inggris jika tak membuka akses kepada publik, "Kami
pernah melakukannya ketika melarang smackdown di televisi." Luar biasa
nalar yang dikedepankan anggota KPI yang juga dosen pasca sarjana
komunikasi UI ini, menyamakan sepakbola dengan smackdown.

Logika keblinger yang dipakai pemerintah dan KPI sesungguhnya
menyedihkan sekaligus memalukan. Mau dibawa kemana negeri ini?

Salam
RP

Kirim email ke