Demi kepenting tertentu, orang kita itu suka bikin masalah ringan jadi ruwet. 
Apalagi kalau memakai label 'hak publik'. Dulu ada orang sering pakai istilah 
'kebohongan publik' untuk menuduh seseorang bahkan itu mengangkut urusan 
privasi.
  Seperti ada artis yang tidak mengundang wartawan dalam perkawinannya maka ada 
wartawan infotainment langsung menuduh artis itu melakukan 'kebohongan publik'. 
Keblinger kan?
  Ada kalanya orang terlalu memaksakan soal hak publik. Lebih-lebih kalau itu 
mengganggu kepentingannya. Padahal untuk masalah Liga Inggris gratisan di TV 
itu karena sudah biasa gratis lalu tiba-tiba bayar ya terkaget-kaget. 
Sampai-sampai teori konspirasi dimasukkan. Apakah ini indikasi kita tidak siap 
dalam persaingan bisnis?
   
   
   
  

Fazli <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Koq mikirnya kejauhan pake konspirasi media global segala
Gila bola boleh, tapi jangan keblinger
Sepertinya ini pure masalah bisnis
jangan dibuat ruwet

Ada duit, ada barang 
sepertinya ini hukum bisnis yang berlaku di seluruh dunia

Contoh Gampangnya kalo masyarakat Indonesia nantinya gemar Apel New Zealand, 
apakah semua apel impor NZ yg masuk Indonesia harus digratiskan (atau dibikin 
murah dengan subsidi?). 

Tolong beri edukasi kepada masyarakat yang sudah terlena dengan label 
'gratisan' dan 'barang murah' . 

Pake Software bajakan, nonton DVD bajakan pula, sekarang mengklaim sepakbola 
orang eropa sebagai hak publik tanah air. aneh :)
Berhenti meminta2 gratisan, malu ah! 
Kapan mau majunya ???

"socio.pathos" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Hati-hati, kawan. Asumsi-asumsi ini 
bisa jadi delik pencemaran nama
baik. Kata Wapres BBM: "bi kerpul, dik Pendi". Lebih baik kita
berpikir jernih sejernih Filma dan bertindak arief apalagi memasuki
bulan puasa ini.

Saya tak ingin membela Freddy Tulung (God knows he's only doing this
for the sake of his new rank in bureaucracy d'uh!), Bimo Nugroho
(hehehe God knows *angkat bahu*) atau Riza Primadi (good-hearted man,
but panicky one).

Begini deh, yang harus kita bela adalah PUBLIK. Riza sudah menyangkal
bahwa publik "harusnya gratis karena menurut pemerintah (yang juga
diamini oleh KPI dan mantan anggota KPI Ade Armando) menonton sepak
bola itu adalah hak publik". Maaf, ya, kalau gratis tentu tidak, tapi:

1. kalau mau lihat bahwa EPL dibeli TV7 (atau Trans7) sejak 2003 itu
harga terakhir adalah 45m, lalu ditodong untuk bayar 500m, siapa yang 
kuat bayar?

2. dengan 45m, TV7 mampu meraup iklan (yang kelak produknya dibeli
oleh penonton), tapi dengan 500m tentu tak masuk hitungan pemasukan
iklan dagangan TV. 

3. sehingga yang kejadian adalah memperhitungkan kran pemasukan lain:
uang langganan. Secured! Rp 50.000 ekstra langganan 5 channel olahraga
Astro yang baru, dikali 100.000 pelanggan sekarang dan mungkin naik
terus, dikali 10 bulan selama musim pertandingan (Rp 50.000 X 100.000
pelanggan X 12 bln, go figure! Balik modal cepat, gak repot rayu
advertiser atau biro iklan lokal) publik kali ini diekspos untuk
maksimisasi profit pedagang macam Astro. Jangan lupa masih ada Astro
Malaysia pelanggannya hampir 2 juta. Cring, cring! Setuju?

Setuju. Untuk masalah publik gratis, saya setuju: there's no free lunch.

Tapi jangan lupa bahwa publik dilindungi UUD 1945 Pasal 28F, untuk
mendapatkan informasi. Sedangkan publik sebagai konsumen juga
dilindungi UU Perlindungan Konsumen (bagaimana dengan konsumen yang
diputus tiba-tiba siaran bolanya hanya karena ketidakpastian operator?).

Lalu kenapa Liga Inggris milik publik? Bisa kita dibuatkan indeks
kegemaran penonton kok, dan kasat mata bandingkan Liga Inggris dengan
Kriket atau Futbal a la Amrik... apakah rakyat Indonesia doyan? Wong
Liga Jarum saja di-bidding Antv untuk 10 tahun angkanya 100m! Mosok
EPL kagak pake bidding?

Makanya saya setuju tuh ada masalah konspirasi media global yang
menginjak publik Indonesia. Nonton atau tidak nonton, buat saya tak
masalah. Bayar atau tidak bayar, juga tak masalah. Akan menjadi
masalah besar bagi saya bahwa publik kali ini diperas habis-habisan.
Sebulan telah berlalu, jutaan masyarakat menjerit tapi tak didengar.
Jika ada orang yang melakukan penelitian dan mengungkap bahwa ini
adalah konspirasi Murdoch, apa Pemerintah tetap diam? Atau kenapa KPI
kebakaran jenggot? Wallahualam, masih ada pegawai di Astro Nusantara
yang tidak sadar-sadar bahwa 51% saham perusahaannya masih asing...

Marilah benar-benar berpihak pada rakyat kecil, yang notabene masih
saudara sendiri, wahai Bapak-bapak yang arief... dan salam hormat saya
untuk Riza Primadi.

Hasimah


                         

       
---------------------------------
Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.

Kirim email ke