inilah kenapa pemerintah dan masyarakat kita nggak tau yg namanya prioritas.
mengutip socio bahwa hak publik untuk mendapat informasi dilindungi UUD 45, saya kok nggak liat bahwa ada yg menghalang-halangi publik untuk mendapat informasi. kalo mau tau informasi soal liga inggris bisa baca koran, tabloid, nonton siaran berita olahraga, dll. kalo mau nonton sepakbola sebagai hiburan/memenuhi nafsu hobi atau kalian sebutlah apa namanya, bisa gratis sukur, nggak nonton ya ora patheken. lagian, sejak kapan ya liga inggris jadi milik rakyat indonesia??? lha, kalo antara informasi dan hiburan aja udah nggak bisa bedain, mau apa lagi??? kita liat aja basic needs-nya. (sebagian) bonek aja kalo mau nonton persebaya udah mau bayar karcis bung..... masak sih, ada org yang jauh lebih beruntung (melek teknologi, dengan punya imel dan ikutan milis) masih ....... ah, sudahlah...... --- In [email protected], "socio.pathos" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Hati-hati, kawan. Asumsi-asumsi ini bisa jadi delik pencemaran nama > baik. Kata Wapres BBM: "bi kerpul, dik Pendi". Lebih baik kita > berpikir jernih sejernih Filma dan bertindak arief apalagi memasuki > bulan puasa ini. > > Saya tak ingin membela Freddy Tulung (God knows he's only doing this > for the sake of his new rank in bureaucracy d'uh!), Bimo Nugroho > (hehehe God knows *angkat bahu*) atau Riza Primadi (good-hearted man, > but panicky one). > > Begini deh, yang harus kita bela adalah PUBLIK. Riza sudah menyangkal > bahwa publik "harusnya gratis karena menurut pemerintah (yang juga > diamini oleh KPI dan mantan anggota KPI Ade Armando) menonton sepak > bola itu adalah hak publik". Maaf, ya, kalau gratis tentu tidak, tapi: > > 1. kalau mau lihat bahwa EPL dibeli TV7 (atau Trans7) sejak 2003 itu > harga terakhir adalah 45m, lalu ditodong untuk bayar 500m, siapa yang > kuat bayar? > > 2. dengan 45m, TV7 mampu meraup iklan (yang kelak produknya dibeli > oleh penonton), tapi dengan 500m tentu tak masuk hitungan pemasukan > iklan dagangan TV. > > 3. sehingga yang kejadian adalah memperhitungkan kran pemasukan lain: > uang langganan. Secured! Rp 50.000 ekstra langganan 5 channel olahraga > Astro yang baru, dikali 100.000 pelanggan sekarang dan mungkin naik > terus, dikali 10 bulan selama musim pertandingan (Rp 50.000 X 100.000 > pelanggan X 12 bln, go figure! Balik modal cepat, gak repot rayu > advertiser atau biro iklan lokal) publik kali ini diekspos untuk > maksimisasi profit pedagang macam Astro. Jangan lupa masih ada Astro > Malaysia pelanggannya hampir 2 juta. Cring, cring! Setuju? > > Setuju. Untuk masalah publik gratis, saya setuju: there's no free lunch. > > Tapi jangan lupa bahwa publik dilindungi UUD 1945 Pasal 28F, untuk > mendapatkan informasi. Sedangkan publik sebagai konsumen juga > dilindungi UU Perlindungan Konsumen (bagaimana dengan konsumen yang > diputus tiba-tiba siaran bolanya hanya karena ketidakpastian operator?). > > Lalu kenapa Liga Inggris milik publik? Bisa kita dibuatkan indeks > kegemaran penonton kok, dan kasat mata bandingkan Liga Inggris dengan > Kriket atau Futbal a la Amrik... apakah rakyat Indonesia doyan? Wong > Liga Jarum saja di-bidding Antv untuk 10 tahun angkanya 100m! Mosok > EPL kagak pake bidding? > > Makanya saya setuju tuh ada masalah konspirasi media global yang > menginjak publik Indonesia. Nonton atau tidak nonton, buat saya tak > masalah. Bayar atau tidak bayar, juga tak masalah. Akan menjadi > masalah besar bagi saya bahwa publik kali ini diperas habis-habisan. > Sebulan telah berlalu, jutaan masyarakat menjerit tapi tak didengar. > Jika ada orang yang melakukan penelitian dan mengungkap bahwa ini > adalah konspirasi Murdoch, apa Pemerintah tetap diam? Atau kenapa KPI > kebakaran jenggot? Wallahualam, masih ada pegawai di Astro Nusantara > yang tidak sadar-sadar bahwa 51% saham perusahaannya masih asing... > > Marilah benar-benar berpihak pada rakyat kecil, yang notabene masih > saudara sendiri, wahai Bapak-bapak yang arief... dan salam hormat saya > untuk Riza Primadi. > > Hasimah
