maafkan saya, karena saya terlalu picik dan bodoh, jadi nggak bisa
liat bahwa publik didzalimi.

dari protes soal nggak bisa nonton liga inggris, gara-gara astro yang
punya orang malaysia. sekali lagi maaf, logika saya yang sangat
sederhana ini nggak nyampe. apa hubungannya ya??? kayanya jadi nggak
fokus.

siapa pun boleh beli hak siar liga inggris, selama mampu bayar. kalo
udah beli, mau disiarin bebas atau nggak bebas, atau pun mau nggak
disiarin juga terserah. ini logika bodoh saya. karena ada yang merasa
haknya terganggu, publik(?) protes(?).

kebetulan, astro (yang punya orang malaysia) dapet hak eksklusif. pas
bener, ada insiden pemukulan wasit karate di malaysia. sentimen anti
malaysia bikin perdebatan soal epl dan astro makin rame. logika
sederhana saya bertanya, kalo provider/stasiun tv lain (yang punya
orang indonesia) menutup akses publik terhadap liga inggris dan hanya
menayangkan di tv berbayar, pada protes nggak ya???

kalo astro 51% punya orang malaysia dan tidak dimungkinkan oleh
regulasi pemerintah, mungkin seharusnya pemerintah ngurusin itu dulu
daripada ngurusin hak siar liga inggris yang harus dibagi. kalo
penguasaan 51% emang boleh, kenapa juga harus ganti akte perusahaan??
sori, otak saya emang nggak nyampe tuh.

saya sakit hati kalo dikibulin orang asing. tapi, saya lebih sakit
hati kalo terus-terusan dibuat bodoh sama bangsa sendiri.

seperti mpok hindun, sekali lagi saya minta maaf kalo saya terlalu
picik dan bodoh.

--- In [email protected], "socio.pathos" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Satwiko,
> Publik di-dzalimi loh, dan publik gak sadar dikelabui seperti apa.
> Kasat mata memang cuma dimintain duit, tapi lihatlah bahwa entitas
> Astro hingga dua hari ini masih 51% asing (sampai hari ini gak ada tuh
> di Depkumham secarikpun lembaran negaranya pindah jadi 20%, gak tau
> yah kalau tiba-tiba karena kasus ini akhirnya dibuatkan akta
> perusahaan baru hehehe). Saya mah tidak rela duit saya bikin kaya
> orang Malaysia yang notabene gebukin Donald dan puluhan TKI kita di
sana. 
> 
> Mas Satwiko pernah naik AirAsia dari KL ke Surabaya? Saya pernah, dan
> rasanya seperti naik kereta Sodom Gomorah. Pernah baca posting milis
> kawan kita yang datang ke acara kemerdekaan di Kedubes Malaysia dua
> minggu lalu? Atau baca posting kawan kita yang bekerja di Malaysia
> naik bus dibentak karena orang "Indon"?
> 
> Baca Kompas pagi ini deh, halaman 15. Jelas ada kebohongan publik di
> sana, yang dulunya Astro itu "mengikuti prosedur sah legal" (Investor
> Daily edisi 5/09/07) untuk mendapatkan hak siar EPL dari ESS, e'dedeh
> sekarang dia mengaku "hanya carrier yang menyajikan channel ESS".
> Kagak ada tuh tender, gila kan? Pegawainya orang Malaysia tuh... jago
> kelit. Te'dong sekali.
> 
> Jadi tidak pernah ada proses terbuka transparan dan fair terhadap
> operator televisi di Indonesia, mau itu berbayar ataupun gratis!
> Bagaimana kita bisa cerdas kalau banyak orang seperti Mas Satwiko gak
> sadar dikelabui terus oleh orang Malaysia? Hehehe kasiyan deh kite...
> 
> Salam kompak,
> Hasimah (sociopath-os)
> 


Kirim email ke