hehehe...

Pak Satwiko memang masih bersibuk2 dengan pemikiran apakah
nonton bola itu informasi atau bukan. Kalau mau masuk dari situ
ya sebetulnya kita bisa ikut logika film Matrix: segala-gala hal di
dunia ini ya informasi. Kalau baca koran memang kita tahu informasi
statistik: skor, persentase penguasaan bola, dll, tapi di TV kita bisa
lihat bagaimana persisnya gol terjadi, seberapa berbau offside-nya
sebuah gol, dll. Apakah itu bukan informasi? Mari kita bagi begini
saja:
baca koran: informasi statistik.
Nonton tv: informasi detail.

Dengan logika itu, mungkin pertanyaan Pak Satwiko jadi berbunyi
begini: Apakah informasi detail itu hak publik...?

Jawaban saya: memang gak mungkin, di dunia ini terlalu banyak
informasi dan harus ada prioritas informasi apa saja yang paling
dibutuhkan publik yang gratis. Ukurannya apa?

Dalam kondisi seperti ini ya mau gak mau mengukur kebutuhan
penonton acuannya rating. Nah, logikanya, kalau rating tinggi, tentu
hukum permintaan dan penawaran yang normal akan membuat sponsor
menalangi hak siar, dan nantinya penonton cukup membayar hak siar
ini dengan cara "memelototi" iklan.

Berdasarkan informasi terakhir, hak siar ini tahun ini kan ditawarkan
dengan harga sangat tinggi, sponsor gak sanggup. Apakah itu berarti
sedang terjadi hukum supply and demand yang normal? Tidak.
Siapa yang main akal-akalan dengan hukum supply and demand itu?
kalo jawabannya Sociopath-os sih: Malaysia, hehehe...

Atau, logika lain dari hukum supply and demand ini: Dengan penawaran
harga hak siar tinggi, dan penonton harus membayar, mustinya
penonton Indonesia berkurang. Masalahnya, hak siar ini sekarang
ditawarkan secara regional, bukan per negara. Jangan2 memang
pemasukan dari penonton Malaysia sahaja sudah cukup menutup biaya
ini. Kalau begitu, kenapa penonton Indonesia jadi harus ikut menanggung
akibatnya?

salam manis,
tito

On 9/13/07, socio.pathos <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Mas Satwiko,
> Publik di-dzalimi loh, dan publik gak sadar dikelabui seperti apa.
> Kasat mata memang cuma dimintain duit, tapi lihatlah bahwa entitas
> Astro hingga dua hari ini masih 51% asing (sampai hari ini gak ada tuh
> di Depkumham secarikpun lembaran negaranya pindah jadi 20%, gak tau
> yah kalau tiba-tiba karena kasus ini akhirnya dibuatkan akta
> perusahaan baru hehehe). Saya mah tidak rela duit saya bikin kaya
> orang Malaysia yang notabene gebukin Donald dan puluhan TKI kita di sana.
>
> Mas Satwiko pernah naik AirAsia dari KL ke Surabaya? Saya pernah, dan
> rasanya seperti naik kereta Sodom Gomorah. Pernah baca posting milis
> kawan kita yang datang ke acara kemerdekaan di Kedubes Malaysia dua
> minggu lalu? Atau baca posting kawan kita yang bekerja di Malaysia
> naik bus dibentak karena orang "Indon"?
>
> Baca Kompas pagi ini deh, halaman 15. Jelas ada kebohongan publik di
> sana, yang dulunya Astro itu "mengikuti prosedur sah legal" (Investor
> Daily edisi 5/09/07) untuk mendapatkan hak siar EPL dari ESS, e'dedeh
> sekarang dia mengaku "hanya carrier yang menyajikan channel ESS".
> Kagak ada tuh tender, gila kan? Pegawainya orang Malaysia tuh... jago
> kelit. Te'dong sekali.
>
> Jadi tidak pernah ada proses terbuka transparan dan fair terhadap
> operator televisi di Indonesia, mau itu berbayar ataupun gratis!
> Bagaimana kita bisa cerdas kalau banyak orang seperti Mas Satwiko gak
> sadar dikelabui terus oleh orang Malaysia? Hehehe kasiyan deh kite...
>
> Salam kompak,
> Hasimah (sociopath-os)
>
> --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>,
> "w_satwiko" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > inilah kenapa pemerintah dan masyarakat kita nggak tau yg namanya
> > prioritas.
> >
> > mengutip socio bahwa hak publik untuk mendapat informasi dilindungi
> > UUD 45, saya kok nggak liat bahwa ada yg menghalang-halangi publik
> > untuk mendapat informasi. kalo mau tau informasi soal liga inggris
> > bisa baca koran, tabloid, nonton siaran berita olahraga, dll.
> >
> > kalo mau nonton sepakbola sebagai hiburan/memenuhi nafsu hobi atau
> > kalian sebutlah apa namanya, bisa gratis sukur, nggak nonton ya ora
> > patheken. lagian, sejak kapan ya liga inggris jadi milik rakyat
> > indonesia???
> >
> > lha, kalo antara informasi dan hiburan aja udah nggak bisa bedain, mau
> > apa lagi??? kita liat aja basic needs-nya.
> >
> > (sebagian) bonek aja kalo mau nonton persebaya udah mau bayar karcis
> > bung..... masak sih, ada org yang jauh lebih beruntung (melek
> > teknologi, dengan punya imel dan ikutan milis) masih ....... ah,
> > sudahlah......
> >
>
> 
>

Kirim email ke