Koq mikirnya kejauhan pake konspirasi media global segala
Gila bola boleh, tapi jangan keblinger
Sepertinya ini pure masalah bisnis
jangan dibuat ruwet

Ada duit, ada barang 
sepertinya ini hukum bisnis yang berlaku di seluruh dunia

Contoh Gampangnya kalo masyarakat Indonesia nantinya gemar Apel New Zealand, 
apakah semua apel impor NZ yg masuk Indonesia harus digratiskan (atau dibikin 
murah dengan subsidi?). 

Tolong beri edukasi kepada masyarakat yang sudah terlena dengan label 
'gratisan' dan 'barang murah' . 

Pake Software bajakan, nonton DVD bajakan pula, sekarang mengklaim sepakbola 
orang eropa sebagai hak publik tanah air. aneh :)
Berhenti meminta2 gratisan, malu ah! 
Kapan mau majunya ???


"socio.pathos" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
Hati-hati, kawan. Asumsi-asumsi ini bisa jadi delik pencemaran nama
 baik. Kata Wapres BBM: "bi kerpul, dik Pendi". Lebih baik kita
 berpikir jernih sejernih Filma dan bertindak arief apalagi memasuki
 bulan puasa ini.
 
 Saya tak ingin membela Freddy Tulung (God knows he's only doing this
 for the sake of his new rank in bureaucracy d'uh!), Bimo Nugroho
 (hehehe God knows *angkat bahu*) atau Riza Primadi (good-hearted man,
 but panicky one).
 
 Begini deh, yang harus kita bela adalah PUBLIK. Riza sudah menyangkal
 bahwa publik "harusnya gratis karena menurut pemerintah (yang juga
 diamini oleh KPI dan mantan anggota KPI Ade Armando) menonton sepak
 bola itu adalah hak publik". Maaf, ya, kalau gratis tentu tidak, tapi:
 
 1. kalau mau lihat bahwa EPL dibeli TV7 (atau Trans7) sejak 2003 itu
 harga terakhir adalah 45m, lalu ditodong untuk bayar 500m, siapa yang 
 kuat bayar?
 
 2. dengan 45m, TV7 mampu meraup iklan (yang kelak produknya dibeli
 oleh penonton), tapi dengan 500m tentu tak masuk hitungan pemasukan
 iklan dagangan TV. 
 
 3. sehingga yang kejadian adalah memperhitungkan kran pemasukan lain:
 uang langganan. Secured! Rp 50.000 ekstra langganan 5 channel olahraga
 Astro yang baru, dikali 100.000 pelanggan sekarang dan mungkin naik
 terus, dikali 10 bulan selama musim pertandingan (Rp 50.000 X 100.000
 pelanggan X 12 bln, go figure! Balik modal cepat, gak repot rayu
 advertiser atau biro iklan lokal) publik kali ini diekspos untuk
 maksimisasi profit pedagang macam Astro. Jangan lupa masih ada Astro
 Malaysia pelanggannya hampir 2 juta. Cring, cring! Setuju?
 
 Setuju. Untuk masalah publik gratis, saya setuju: there's no free lunch.
 
 Tapi jangan lupa bahwa publik dilindungi UUD 1945 Pasal 28F, untuk
 mendapatkan informasi. Sedangkan publik sebagai konsumen juga
 dilindungi UU Perlindungan Konsumen (bagaimana dengan konsumen yang
 diputus tiba-tiba siaran bolanya hanya karena ketidakpastian operator?).
 
 Lalu kenapa Liga Inggris milik publik? Bisa kita dibuatkan indeks
 kegemaran penonton kok, dan kasat mata bandingkan Liga Inggris dengan
 Kriket atau Futbal a la Amrik... apakah rakyat Indonesia doyan? Wong
 Liga Jarum saja di-bidding Antv untuk 10 tahun angkanya 100m! Mosok
 EPL kagak pake bidding?
 
 Makanya saya setuju tuh ada masalah konspirasi media global yang
 menginjak publik Indonesia. Nonton atau tidak nonton, buat saya tak
 masalah. Bayar atau tidak bayar, juga tak masalah. Akan menjadi
 masalah besar bagi saya bahwa publik kali ini diperas habis-habisan.
 Sebulan telah berlalu, jutaan masyarakat menjerit tapi tak didengar.
 Jika ada orang yang melakukan penelitian dan mengungkap bahwa ini
 adalah konspirasi Murdoch, apa Pemerintah tetap diam? Atau kenapa KPI
 kebakaran jenggot? Wallahualam, masih ada pegawai di Astro Nusantara
 yang tidak sadar-sadar bahwa 51% saham perusahaannya masih asing...
 
 Marilah benar-benar berpihak pada rakyat kecil, yang notabene masih
 saudara sendiri, wahai Bapak-bapak yang arief... dan salam hormat saya
 untuk Riza Primadi.
 
 Hasimah

Kirim email ke