Saya sudah pernah menyampaikan opini tentang hal semacam ini, yang intinya bahwa kita2 yang ada dimilis ini mencoba memulai untuk berpikir secara global dengan mengedepankan praktek Good Corporate Governance antara lain dalam masalah Equality, Diversity, dan Non Discrimination didalam ketenagakerjaan. Praktek pembatasan umur, kelamin, ras, agama, pendidikan merupakan pembangkangan terhadap Human Rights dan Good Corporate Governance.
 
Tidak hanya di negara Singapura, tapi hampir semua negara2 maju sudah menerapkan prinsip ini, bahwa didalam recruitment harus mengedepankan faktor equality, diversity, dan non discrimination terhadap segala jenis termasuk umur, pendidikan, kelamin dll. Hanya saja negara2 maju sudah mengkodifikasikannya dalam bentuk Undang2. Lihat saja contoh negara Inggris menerapkan denda kepada perusahaan yang melakukan non equality dan discrimination, contohnya sex discrimination dendanya £8,787, race dan gender discrimination £27,041 dst. Bahkan orang yang tergolong disability-pun (cacat mata, kaki, badan, dll) diberi kesempatan yang sama untuk bekerja didalam perusahaan sesuai dengan KOMPETENSI DAN KEMAMPUAN yang dimilikinya. Bagaimana dengan Indonesia??? Bisa tidak membuat aturan seperti itu?
 
Banyak penelitian yang telah dilakukan bahwa ada hubungan antara Diversity dengan Kesuksesan Financial bagi perusahaan, artinya bagi perusahaan yang menerapkan prinsip ini, umumnya berhasil memajukan perusahaan hingga ke skala global. Lihat saja perusahaan multiglobal seperti Cocacola, IBM, Nokia dll, mereka semua menerapkan prinsip equality.
Bagaimana dengan Indonesia?????
 
Semestinya recruitment didasarkan kepada relevant experience, skills, qualifications, talenta, dan berdasarkan factual evidence, dan bukan berdasarkan kriteria umur, marital status, race, gender, dll yang contohnya banyak kita lihat didalam iklan lowongan pekerjaan di Indonesia.
 
Siapa yang memulai untuk merubah paradigma berpikir ini????
 
Any comment for discussion please?
 
Salam dan jabat erat
Enson Samosir

Wardoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


    Rekan beberapa saat lalu saya bertugas di negeri tetangga singapura untuk
    jangka waktu yang relatif lama, iseng-iseng saya suka memperhatikan iklan
    lowongan kerja di koran-koran lokal singapura, saya perhatikan beberapa hal
    yang sangat berbeda dengan iklan-iklan lowongan kerja di Indonesia, dan cara
    mereka mengiklankan lowongan kerja hampir sama dengan iklan lowongan kerja
    di negeri yang konon paling maju di dunia yaitu amerika serikat.
    beberapa hal yang saya amati sebagai berikut :
    1. mereka tidak pernah membuka lowongan kerja dengan membatasi gender,
    laki-laki atau perempuan.
    2. mereka tidak pernah mencantumkan batasan usia pelamar.
    3. mereka tidak pernah mencantumkan nilai GPA/IP atau bahkan dengan
    menyebutkan menyukai lulusan universitas terkemuka atau universitas
    tertentu.
    4. dan hampir 90 % mereka menyatakan dengan jelas nama dan bisnis utama
    perusahaan yang membuka lowongan kerja.
    5.hampir 75 % mencantumkan salary range yang ditawarkan serta fasilitas dan
    benefit yang diberikan secara gamblang dan jelas.
    Jelas sekali bahwa mereka menerima pelamar berdasarkan kompetensi,
    kemampuan, serta pengalaman serta skill dari para job applicant.
    coba bandingkan dengan iklan-iklan lowongan kerja di tanah air kita yang
    serba sumir (banyak perusahaan menyamarkan nama perusahaan dan bisnisnya)
    malu-malu seolah takut ketahuan petugas pajak, membatas usia pelamar
    (seolah-olah kalau sudah diatas 40 tahun dianggap sudah pikun/uzur bahkan
    dianggap tidak produktif), kadang-kadang menyebutkan lebih disukai wanita
    atau sebaliknya (diskriminasi gender), menginginkan pelamar dengan indek
    prestasi tertentu (seolah-olah kalo indeks prestasinya tinggi dianggap lebih
    capable dalam bekerja), tidak pernah mau secara terus terang menyebutkan
    salary range yang ditawarkan, sehingga salary dianggap sebagai salah satu
    bagian dari seleksi, bukankah yang memiliki keahlian dan pengalaman lebih
    banyak pasti akan memiliki gaji yang lebih tinggi, kalau sebaliknya perlu
    dipertanyakan mengapa? (ingat prinsip : you give peanut you get monkey).
    Tolong kepada rekan-rekan HR Manager di forum ini atau forum lain, untuk
    memberikan tanggapan mengapa hal ini bisa terjadi di tanah air tercinta ini,
    kita harus melakukan perubahan paradigma berpikir dalam proses recruitment
    dan selection human resources, agar Indonesia menjadi bangsa yang maju dan
    lebih beradab.
    kalau kita tidak memulai, siapa lagi?
    Adrian Christianto  |  Funding Officer  |  Unisys Credit Services
    UCS  |  Level 2 Building G, 1 Homebush Bay Drive, RHODES NSW 2138 AUSTRALIA
    |  Ph: 02 9647 7201 | E: [EMAIL PROTECTED]


Yahoo! Messenger NEW - crystal clear PC to PC calling worldwide with voicemail

Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***




SPONSORED LINKS
Undergraduate business schools Business school essay Business school and education
Top business schools Best business schools Business school minnesota


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke