Gandewo Soegiarto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> tanggapan singkat saya ... memakai pepatah = LAIN LADANG, LAIN >BELALANGNYA.
=============
Yth Pak GS
Pepatah ini nampak kurang pas kalo kita terjemahkan dalam topik bahasan kita, pikiran Lain Ladang, Lain Belalang merupakan suatu bentuk opini untuk menarik benang merah perbedaan, meskipun tidak semua ladang, berbeda belalangnya, karena satu dua hal ada persamaan diantara belalangnya.
 
Memang benar bahwa Singapura, Malaysia, Amerika, Indonesia dll berbeda didalam tatanan ekonomi, tetapi ada persamaan didalam konteks etika dan moral bisnis terutama dalam Human Rights dan GCG. Sehingga persamaan tersebut sesuatu yang indah untuk diperbandingkan dan didiskusikan.
==================
 
mengapa????
keadaan/kondisi Indonesia (baca ladang-nya) kayak apa si????
kan jelas, tingkat penganggurannya tinggi, sampai yg lulusan S1 yg hanya -/+ 2% dari penduduk alias cuma 5 jutaan pun banyak yg masih menganggur, lihat saja sebagian masih masuk kelas reguler MM (a.l. UGM, Unpad dll), setahun (2004-2005) saya lihat sendiri penganggur yg umumnya SLTA duduk di-lantai2 koridor gedung kanwil Depnaker Kabupaten Bekasi dikota baru Deltamas;
mau bicara kompentensi? setuju sekali, tapi ... gimana dgn kondisi (baca ladang-nya) puluhan ribu sarjana palsu????
masih ingatkah beberapa bulan lalu ada yg membuka "bursa lowongan kerja" yg peminatnya berjubel sampai pintu kaca gedungnya (di Jakarta) pecah???!!!
=============================================
Saya sependapat bahwa tingkat penganguran di Indonesia masih cukup tinggi sehingga penyerapan tenaga kerja semakin terbatas baik dari lulusan SMA, Universitas, dan S-2.
 
Tentu ini tidak terlepas dari masalah pertumbuhan ekonomi indonesia yang tidak mampu menyerap tenaga kerja yang ada. Tentu masalah ini menjadi perhatian pemerintah untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi untuk dapat mengatasi penganguran tersebut.
====================================================
 
dilain pihak ... dapat saya tambahi kondisi pencarian lowongan kerja di LN = ... '(karenanya) ... CV para pelamar jarang yg mencantumkan tanggal lahir dan agama, lha wong nggak diminta/ditanya kok; begitu juga baru2 ini CV saya pun tidak mencantumkannya, waktu diwawancara di perguruan tinggi untuk jadi pengajar maupun staf ahli rektor, ya saya (selalu) ditanya 'umurnya berapa pak?' ini fakta, tapiiiiiii memang saya memang S2 ... selain lulusan MM-UGM  yg berarti S2, saya juga S2 yg berarti 'sudah sepuh', ya pantas saya ditanya umurnya,  ... the thing is .... CV di lamaran saya ... 'ikut2an kayak diluar negri' ... walau disengaja supaya gak ketahuan sudah sepuh! ... tapi ... untungnya, rejekinya, gak bermaksud nyombong lho ... saya ketrima di 2 perguruan tinggi, sedang dipertimbangkan di 2 perguruan tinggi lainnya.
=============================================
Pada prinsipnya rekrutmen di LN tidak semata2 didasarkan kepada apa yang tercantum didalam CV pelamar. CV hanya merupakan suatu refleksi singkat tentang individu si pelamar, sehingga tidak menjadi relevan untuk mencantumkan agama, ras dsb, mengingat proses seleksi dilakukan berdasarkan seleksi potensi dan ketrampilan yang dimiliki si pelamar yang dicocokkan dengan kebutuhan perusahaan yang membutuhkan.
 
Akan menjadi suatu bentuk pelanggaran apabila perusahaan mendasarkan seleksi kepada faktor individual (baca umur, gender, agama, ras, IPK) dan bukan berdasarkan faktor kemampuan, kompetensi, pengalaman dan keahlian yang dimiliki....inilah sebenarnya perbedaan praktek yang diterapkan oleh negara2 maju dengan negara kita Indonesia.
=======================================================
 
sebagai gambaran, berikut adalah fakta begitu banyaknya pelamar karena banyaknya penganggur di kita; tahun 2001-2002, saya kerja di FSI, perusahaan HRD/recruitment Jepang, atas permintaan client, kita pasang iklan kecil, dlm bahasa Inggris, kira2 8 X 10 cm, di kompas, yg nglamar jumlahnya ber-karung2 kira2 seluas 2 meja-kerja, ribuanlah, padahal yg dicari -/+ 3 manager dgn beberapa staf, sortir lamaran perlu dibantu para driver kantor misalnya untuk membuka amplop2 besar dgn pemotong kertas, lalu dibaca singkat apakah lamarannya dlm bahasa Inggris atau tidak, karena beberapa lamaran dalam bahasa Indonesia!
=======================================================
 
Sebenarnya permasalahannya bukan terletak pada banyak surat lamaran yang masuk sehingga membuat petugas HR menjadi bekerja keras untuk membuka dan menyeleksi surat lamaran. Akan tetapi permasalahannya adalah dalam faktor Equality, Diveristy, dan Non Discrimination dalam proses seleksi.
 
Equality dan Non Discrimination merupakan tatanan GCG yang berlaku umum disetiap negara sehingga perusahaan harus mengedepankan faktor Etika dan Moralitas dalam proses seleksi tenaga kerja.
Tatanan ini merupakan perubahan konsep "Pertanggungjawaban terhadap Shareholders" menjadi " Pertanggungjawaban terhadap Stakeholders", yang merupakan penerapan GCG dan Etika Bisnis.
 
Yang menjadi bahan pemikiran kita bersama adalah, bagaimana kepedulian pemerintah Indonesia untuk melakukan aturan pemaksa kepada perusahaan untuk tidak melakukan discrimination didalam proses seleksi berdasarkan umur, gender, universitas dll sebagaimana negara lain sudah melakukan hal yang sama.
 
Pembatasan seleksi berdasarkan gender, ras, agama, dan universitas/IPK, berdampak terhadap cost perusahaan, jika dibandingkan dengan tidak melakukan pembatasan seleksi, karena perusahaan tidak akan mendapatkan calon karyawan yang benar2 memenuhi kriteria dan kompetensi yang diperlukan. Berapa cost yang akan dikeluarkan perusahaan untuk mendidik dan melatih karyawan yang tidak sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan?
 
Alasan "jumlah tenaga kerja yang tersedia" sangat besar di Indonesia juga tidak dapat diterima, sehingga perusahaan semena2 melakukan syarat terhadap pelamar berdasarkan umur, universitas, IPK, ras, gender dll dan hal ini juga merupakan tindakan tidak etis perusahaan dalam proses seleksi.
Bagaimana seandainya jika jumlah tenaga kerja yang tersedia sangat kecil, sehingga mereka tidak melakukan pembatasan sedemikian rupa? Ini merupakan bentuk inkonsistensi dan dualisme.
 
Sedikit hasil riset menyatakan bahwa proses seleksi yang didasarkan kepada PERSONAL, REFERENCES, TYPICAL INTERVIEWS, maka hasilnya adalah POOR dan akan membebani perusahaan. Seleksi yang ideal adalah WORK SAMPLE TEST, ABILITY TEST dan berdampak pada minimum cost pada perusahaan. Sedangkan seleksi yang didasarkan kepada BIODATA (CV), ASSESSMENT CENTRE (TEST IQ), STRUCTURE INTERVIEWS, hasilnya juga tidak maksimal, meskipun acceptable.
 
Yang menjadi harapan bersama adalah, perusahaan publik, skala besar dan global company yang ada di Indonesia semestinya sudah mulai menerapkan konsep GCG sehingga Equality, Diversity, dan Non Discrimination dapat berlaku.
==================================================
 
salam GS, E-6A-Jakarta.
 
=============================
 
Salam hangat dan jabat erat
Enson Samosir
 
----- Original Message -----
From: Wardoyo
Sent: Thursday, February 02, 2006 10:33 AM
Subject: [mm-ugm] Recruitment



    Rekan beberapa saat lalu saya bertugas di negeri tetangga singapura untuk
    jangka waktu yang relatif lama, iseng-iseng saya suka memperhatikan iklan
    lowongan kerja di koran-koran lokal singapura, saya perhatikan beberapa hal
    yang sangat berbeda dengan iklan-iklan lowongan kerja di Indonesia, dan cara
    mereka mengiklankan lowongan kerja hampir sama dengan iklan lowongan kerja
    di negeri yang konon paling maju di dunia yaitu amerika serikat.
    beberapa hal yang saya amati sebagai berikut :
    1. mereka tidak pernah membuka lowongan kerja dengan membatasi gender,
    laki-laki atau perempuan.
    2. mereka tidak pernah mencantumkan batasan usia pelamar.
    3. mereka tidak pernah mencantumkan nilai GPA/IP atau bahkan dengan
    menyebutkan menyukai lulusan universitas terkemuka atau universitas
    tertentu.
    4. dan hampir 90 % mereka menyatakan dengan jelas nama dan bisnis utama
    perusahaan yang membuka lowongan kerja.
    5.hampir 75 % mencantumkan salary range yang ditawarkan serta fasilitas dan
    benefit yang diberikan secara gamblang dan jelas.
    Jelas sekali bahwa mereka menerima pelamar berdasarkan kompetensi,
    kemampuan, serta pengalaman serta skill dari para job applicant.
    coba bandingkan dengan iklan-iklan lowongan kerja di tanah air kita yang
    serba sumir (banyak perusahaan menyamarkan nama perusahaan dan bisnisnya)
    malu-malu seolah takut ketahuan petugas pajak, membatas usia pelamar
    (seolah-olah kalau sudah diatas 40 tahun dianggap sudah pikun/uzur bahkan
    dianggap tidak produktif), kadang-kadang menyebutkan lebih disukai wanita
    atau sebaliknya (diskriminasi gender), menginginkan pelamar dengan indek
    prestasi tertentu (seolah-olah kalo indeks prestasinya tinggi dianggap lebih
    capable dalam bekerja), tidak pernah mau secara terus terang menyebutkan
    salary range yang ditawarkan, sehingga salary dianggap sebagai salah satu
    bagian dari seleksi, bukankah yang memiliki keahlian dan pengalaman lebih
    banyak pasti akan memiliki gaji yang lebih tinggi, kalau sebaliknya perlu
    dipertanyakan mengapa? (ingat prinsip : you give peanut you get monkey).
    Tolong kepada rekan-rekan HR Manager di forum ini atau forum lain, untuk
    memberikan tanggapan mengapa hal ini bisa terjadi di tanah air tercinta ini,
    kita harus melakukan perubahan paradigma berpikir dalam proses recruitment
    dan selection human resources, agar Indonesia menjadi bangsa yang maju dan
    lebih beradab.
    kalau kita tidak memulai, siapa lagi?
    Adrian Christianto  |  Funding Officer  |  Unisys Credit Services
    UCS  |  Level 2 Building G, 1 Homebush Bay Drive, RHODES NSW 2138 AUSTRALIA
    |  Ph: 02 9647 7201 | E: [EMAIL PROTECTED]


To help you stay safe and secure online, we've developed the all new Yahoo! Security Centre.

Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***




SPONSORED LINKS
Undergraduate business schools Business school essay Business school and education
Top business schools Best business schools Business school minnesota


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke