good, istilah sebarangnya adalah multiplier effect nah
demikian juga dengan kenaiakan BBM tentunya effect
terberat yang dirasakan adalah masy. ek.lemah dan sayangnya
sanak tidak melihat hal ini krn yg sanak katakan 
"Rakyat kecil? mereka hanya butuh seliter-dua liter minyak tanah 
atau solar perharinya untuk masak dan kebutuhan bertani/nelayan"

memang 1-2 ltr minyak tanah yg mereka gunakan, tp bgmn dengan 
barang2 lainnya (sembako), transportasi dll??

Spt yg saya sampaikan juga sblmnya, jika pemerintah membanding
kan harga minyak dengan negara lain, maka pemerintah juga
harus membandingkan upah/tingkat ek. disini dengan negara 
lain.

Mengenai PTKP, saya juga punya hard copy PerMenkeu 
No.564/KMK.03/2004, mengenai RUU itu, saya cuman pernah
baca di media, kalau mau disampaikan via JAPRI makasih banget,
jazakallahu. 
Perubahan/peningkatan PTKP tanpa adanya peningkatan UMP yang
sebanding, masih akan memberatkan masy.
asumsinya:
Jika UMP = 750rb,
PTKP       = 240rb
PKP        = 510rb
PPh 5%   = 25.500
Jadi jika PTKP mau dinaikan katakanlah 1.2jt/bln, tokh itu 
hanya mengurangi pengeluaran sbsr 25.500 rb, sementara tambahan
kebutuhan hidup akibat kenaikan BBM lebih dari itu.
Dan itu sama saja lagi2 pencabutan subsidi itu MENAMBAH beban
masy. ek.lemah dan MENGURANGI sbgn kecil KENIKMATAN masy.
yg mampu.
Sayang ya, usulan dari serikat pekerja untuk menaikan UMP di
DKI itu gagal, pdhl jika di DKI UMPnya naik, hal ini akan
memicu juga kenaikan UMP di daerah lain.

Postingan sanak Arnold, ini kalau tidak salah waktu itu
di koran Tempo/Kompas, memuat tuntas tentang masalah kenaikan
BBM pd era MSP.
Yang saya ingat dari artikel tsb adalah, bhw pemerintah sebenar
nya menikmati kenaikan BBM ini lebih besar, diantaranya
- dari pencabutan subsidi itu sendiri
- kenaikan barang2 yg secara tidak langsung meningkatkan
  pendptan pemerintah dari sektor pajak

Benar kata sanak bhw subsidi ini dinikmati oleh masy. dgn
pendapatan yg besar itu jika dikaitkan dgn pemakaian BBM, tapi
pencabutan subsidi ini hanya MENGURANGI sbgn kecil kekayaan
mereka sementara bagi masy. ek.lemah MENAMBAH beban hidup 
mereka.

Kenapa tidak mencari dana dari hasil korupsi yg kelas triliunan
itu, untuk menutupi defisit anggaran, kalau yang dinusa 
kambangkan kelas kacang goreng doang ya cuman cukup buat beli 
kacang goreng :-))

Pada akhirnya jikapun pemerintah tetap dengan rencananya, maka
yang perlu diingat adalah janjinya yang mengatakan
"TIDAK AKAN MENYENGSARAKAN RAKYAT DENGAN MASALAH BBM" silahkan
anda (pemerintah dan para pembantunya) berpikir keras bagaimana
caranya krn anda digaji memang untuk itu, klo ditanyakan 
solusinya (berpikir keras) ke jama'ah dimilis ini, mending saya 
pilih saja moderator milis ini yang gantiin anda :-))


wassalm,
harman

-----Original Message-----
From: Ronald P Putra [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, December 16, 2004 9:13 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [surau] Kenaikan BBM




Bismillahirrahmaanirrahiim,

Yaa jangan serius gitulah, sayakan hanya melepaskan
wacana dari sisi ekonomi makro (dan tdk mengait-ngaitkannya
dengan politik. :-)), bahwa jika satu aspek ekonomi dikenai
kebijakan, akan terjadi multiplier effect kepada sektor yang
lain.

Apa yg saya paparkan hanya mencoba mencari win-win solution
dimana pmth bisa melaksanakan kebijakannya, dan rakyat tdk
rugi. Saya ulangi paragraf tulisan saya yang terakhir :

" jika saja 'hasil' dari menaikkan harga BBM ini
bisa digunakan atau dikembalikan kpd masy kecil
dalam bentuk lainnya, mengapa tidak ? "

artinya, walaupun harga naik, tapi anak mereka sekolah gratis
dan bisa ke RS dengan tanpa bayar, saya rasa masy pun akan
berpikir dua kali utk menolak rencana kenaikan BBM ini.
Ini dengan catatan, pmth dan masy harus punya komitmen yang
kuat utk merealisasikan program ini.

itu saja kok...
atau mungkin sanak punya solusi yang lebih kapabel, silahkan
lemparkan di sini, mana tau lebih bisa diterima.. :-)

BTW, ngomong-ngomong mengenai PTKP (Penghasilan Tidak Kena
Pajak), silahkan sanak cermati RUU Perpajakan yang baru, yang
kalau di luluskan, akan terjadi perbedaan yang mendasar dalam
perhitungannya. Kalau tidak punya, saya bisa kasih by japri :-)


wassalaam,
Ronald





 

                      [EMAIL PROTECTED]

                      om                       To:
[EMAIL PROTECTED]

                                               cc:

                      12/16/2004 08:43         Subject:  RE: [surau]
Kenaikan BBM                                                      
                      AM

                      Please respond to

                      surau

 

 






hmmm...gitu ya, terharu saya membaca penjelasan sanak, tapi
alasan ini kan juga dipakai oleh rezim terdahulu (MSP) dan
seinget saya, sebgn bsr masy. kita keberatan dan menentang
kebijakan tsb bahkan seorang tokoh dan juga elite parpol
mengatakan "Mega Lebih Berpihak pada Wong Licik (konglomerat
hitam) Ketimbang Wong Cilik"
Sehingga posisi dilematis itu bukan hanya milik pemerintahan
saat ini tapi juga dihadapi rezim sebelumnya, ya kan? :-((
Tapi memang agak aneh juga, kebijaka rezim saat ini tidak
mendapat reaksi keras oleh elemen masy. kita pdhl rezim
terdahulu sampai didemo tentu tanpa meninggalkan ibu2 dan
anak2 kecilnya.

Kend. roda dua yg oleh sanak dikatakan hanya digunakan sbgn
masy. kecil kita dan itupun cuman - hmm ...cuman - 2-3 liter,
tapi tahukah sanak bhw dgn kenaikan BBM itu, tukang ojekpun
ga' mau ketinggalan untuk menaikan tarif, nah kita kan tahu
bhw kalau ojek itu naikin tarif bukan 100 atau 200 tapi langsung
500, ga' pernahkan denger naik ojek bayar 1200 atau 1400?
itu baru dari contoh kecil semisal ojek, belum lagi barang2
konsumen yang dibutuhkan oleh seluruh lapisan masy.

Satu hal yang selalu dijadikan alasan adalah perbandingan
harga dgn negara lain, tapi pernahkan pemerintah membandingkan
upah di Indon dengan negara tetangga?
Pernah melihat rincian kompenen dari UMP? waduh melihat
rinciannya sedih banget, untuk kebutuhan pokoknya saja kecil
banget kecuali pengertian pokok itu adalah 'POKOKNYA MAKAN'
ya bisa dipahami :-))

Selain kenaikan UMP yg tidak seimbang dengan kenaikan harga2
akibat kenaikan BBM, PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak)
kita pun sangatlah kecil dengan kata lain kenaikan harga2
tidak sebanding dengan dua unsur tsb.

Penjelasan sanak itu mungkin hanya bisa dipahami oleh orang
yang sebijak sana, tapi Masy. ek.lemah - dulu sering disebut2
dgn istilah wong cilik - hanya tahu bahwa uang yg saat ini
mereka miliki tahun depan mungkin hanya cukup untuk membeli
nasi murah dan tahu/tempe. Sementara itu bagi si kaya kenaikan
BBM itu hanya mengurangi sbgn kecil harta mereka dan mungkin
mereka tidak merasakannya krn tentunya mereka juga akan menaikan
barang2 produksi mereka, ga' mungkin kan mereka menjual barang
mereka dgn harga tetap sementara barang2 kompenen produksi
mereka pada naik?

Saya cuman berharap nanti jika kenaikan terjadi juga, pemerintah
ga' usah menyuruh rakyatnya untuk hidup sederhana dengan meng-
ikat kencang ikat pinggang mereka, krn selama ini rakyat kita
itu bukan saja menjalankan pola hidup sederhana tapi sudah
dlm tahap pola hidup sengsara dan jgn disuruh mengikat pinggang
mereka karena mereka tidak punya ikat pinggang dan mungkin
dijual untuk beli nasi.

Dan sekedar mengingatkan kembali bhw rezim saat ini
berjanji TIDAK AKAN MENYENGSARAKAN RAKYAT DENGAN MASALAH BBM
ketika masa kampanye dahulu.

wassalam,
harman


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke