Assalamua'alikum ww Manuruik ambo pribadi agama islam tuh indak mampasulik ummaik2nyo. Kadang2 nan mampasuluik tuh adolah urang 2 tertentu nan tau saketek agamo tapi langsuang manakuik nakuik urang nan indak tau. Misalnyo, urang urang gadang di zaman ambo masih ketek dahulu, manakuik nakuik awak kalau baduto lidahnyo di potong dek Tuhan. Saketek ketek diancam jo naroko, sahinggo anak ketek 2 tuh manjadi takuik taurih.
Selagi ambo bakarajo jo urang nan indak islam, bagi ambo indak baa doh. Asal tampek bakarajo tuh indak marugikan urang lain, indak barang curian dan indak manganggu kesehatan urang lain dan ambo di izinkan malakukan ibadah. Awak sadaonyo tau kalau Allah SWT tuh pangasih jo panyayang. Indak ado rasaki/karajo di nagari awak, kan awak bisa bajalan ka nagari urang/bakarajo di sinan. Kambangkan hati , buka luas luas alam pamikiran awak, Ilmu jo razaki indak di satu tampek sajo. Justru Agamo Islam tuh akan labiah bakambang diluar karano urang mancaliak etikat awak malakukan karajo nan bana, malakukan ibadah nan bana. Kalau Islam tuh hanyo bakumpua di satu tampek seh, lalu ado pikiran bakambang, bahwa nan bana tuh selalu ado di awak, dan mungkin labiah extrim dari itu. Motto ambo : Ambo indak mancilok, indak baduto, apo lai mambunuah makhluk lain dan nan pantiang ambo masih manjalankan ibadah ALhamdulillah. Dimano sajo ambo barado, AMin.... Wassalam Ojie --- "Sukmawat, Dian" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Ridha....... > berarti bukan Haram dong Hukumnya , soalnya ian juga > kerja di PA nih.....nyari kerja susah jaman sekarang > ini , bukan soal takut miskin atau tidak tapi > Realita aja dech , apa sih yang di Indonesia ini > sekarang yang Gratisan selain kerja keras, Rezeki > itu datangnya dari Allah ,dan mungkin Rezeki yang > ian dapat sekarang selain dengan kerja keras tetap > datang dari Allah melalui PA tersebut. > > dian > > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] > [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Behalf Of Ahmad Ridha > Sent: Friday, July 01, 2005 8:30 PM > To: Palanta RantauNet > Subject: [EMAIL PROTECTED] Beberapa hukum tentang bekerja > dengan orang kafir > > > > Bismillahirrahmaanirrahiim, > Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, > > Berkaitan dengan masalah bekerja khususnya dengan > orang kafir, berikut > saya kirimkan dua fatwa terkait. Insya Allah akan > saya susulkan dengan > beberapa artikel lain yang terkait. > > Semoga bermanfaat. Allahu a'lam. > > -- > Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim > (l. 1980M/1400H) > > -------------------------- > > Hukum Bekerja Bersama Orang Kafir > > Pertanyaan: > > Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Ada seseorang yang > bekerja bersama > orang-orang kafir. Apa nasehat Syaikh untuknya? > > Jawaban: > > Beliau menjawab, kami nasehatkan kepada saudara yang > bekerja bersama > orang-orang kafir, agar mencari suatu pekerjaan yang > di dalamnya tidak > ada seorang pun yang merupakan musuh Allah dan > Rasul-Nya, yaitu yang > tidak memeluk agama Islam. Jika bisa mendapatkan > itu, maka itulah yang > selayaknya, tapi jika kesulitan, maka itu tidak > mengapa, karena ia > bekerja pada pekerjaannya dan mereka pun bekerja > pada pekerjaan mereka, > tapi dengan syarat, hendaknya di dalam hatinya tidak > ada kecintaan dan > loyalitas terhadap mereka, di samping itu, hendaknya > ia tetap teguh > menjalankan apa yang diperintahkan syari'at, yaitu > yang terkait dengan > pengucapan salam kepada mereka dan membalas salam > mereka, dan > sebagainya. Kemudian juga, hendaknya tidak > menghadiri jenazah mereka, > tidak ikut merayakan hari raya mereka dan tidak > mengucapkan selamat > kepada mereka. > > Fatawa al-'Aqidah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 255 > > [Disalin dari Fatwa-fatwa Terkini 2 (judul asli: > Al-Fatawa > asy-Syar'iyyah fi al-Masa'il al-'Ashriyyah min > Fatawa Ulama' al-Balad > al-Haram), Jakarta: Darul Haq, 2004 hal. 377-378] > > -------------------------- > > Bagaimana Memanfaatkan Apa yang Dimiliki Orang-orang > Kafir tanpa Ikut > Terjerumus ke dalam Bahaya > > Pertanyaan: > > Bagaimana memanfaatkan apa yang dimiliki orang-orang > kafir tanpa ikut > terjerumus ke dalam bahaya? Dan apakah mashalih > mursalah (adanya > kemaslahatan sampingan) dapat dijadikan dasar dalam > hal ini? > > Jawaban: > > Yang dilakukan oleh musuh-musuh Allah dan musuh > kita, yakni kaum kuffar, > terbagi menjadi tiga: > > - pertama: ibadah > - kedua: kebiasaan/tradisi > - ketiga: produk dan jasa > > Tentang ibadah; sebagaimana telah diketahui, seorang > muslim tidak boleh > menyerupai mereka dalam beribadah. Barangsiapa yang > menyerupai mereka > dalam beribadah berarti ia telah terjerumus ke dalam > petaka yang besar, > dan bisa jadi itu menggiringkan kepada kekufuran dan > mengeluarkannya > dari Islam. > > Tentang kebiasaan/tradisi, seperti pakaian dan > sebagainya, diharamkan > menyerupai mereka dalam hal ini, berdasarkan sabda > Nabi shallallahu > 'alaihi wa sallam, > > "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia dari > golongan mereka." > [HR. Ahmad (2/50, 92)] > > [ARD: hadits tersebut tidak bermaksud bahwa secara > otomatis seseorang > keluar dari Islam jika ia menyerupai orang-orang > kafir. Namun > penyerupaan itu dapat mengalihkan loyalitas dan > kebenciannya yang dapat > berujung pada kekufuran. Allahu a'lam.] > > Tentang produk-produk dan jasa yang mengandung > kemaslahatan umum, tidak > apa-apa kita mempelajari apa yang mereka produksi > dan memanfaatkannya. > Hal ini tidak termasuk tasyabbuh (menyerupai), tapi > termasuk ikut serta > dalam produk-produk bermanfaat yang pelakunya tidak > dianggap menyerupai > mereka. > > Adapun ungkapan penanya, "Apakah mashalih mursalah > bisa dijadikan dasar > dalam hal ini?" > > Kami katakan, mashalih mursalah tidak pantas > dijadikan dalil tersendiri, > bahkan kami katakan, bahwa mashalih mursalah itu, > jika terbukti bahwa > itu maslahat, maka dibenarkan syari'at bahwa itu > benar dan diterima > serta termasuk yang disyari'atkan. Namun jika > terbukti bahwa itu batil, > maka itu tidak termasuk maslahat-maslahat sampingan, > walaupun pelakunya > mengklaim demikian. Jika tidak termasuk ini dan > tidak juga yang itu, > maka dikembalikan kepada asalnya; jika bukan > merupakan ibadah, maka pada > dasarnya halal. Dengan demikian jelaslah bahwa > akibat-akibat sampingan > itu tidak bisa dijadikan dalil tersendiri. > > [ARD: penentuan maslahat haruslah sesuai syari'at > dan bukan berdasarkan > prasangka. Misalnya seseorang berpakaian menyerupai > kebiasaan orang > kafir dengan alasan hal itu akan memudahkannya dalam > berbisnis maka hal > ini bukanlah suatu maslahat yang jelas. Padahal > mungkin dengan itu dia > meninggalkan Sunnah sehingga justru mendatangkan > mudharat yang jelas.] > > Fatawa al-'Aqidah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal 255-256 > > [Disalin dari Fatwa-fatwa Terkini 2 (judul asli: > Al-Fatawa > asy-Syar'iyyah fi al-Masa'il al-'Ashriyyah min > Fatawa Ulama' al-Balad > al-Haram), Jakarta: Darul Haq, 2004 hal. 37g-377] > -------------------------- > > > > _____________________________________________________ > Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, > silahkan ke: > http://rantaunet.org/palanta-setting > ------------------------------------------------------------ > Tata Tertib Palanta RantauNet: > http://rantaunet.org/palanta-tatatertib > ____________________________________________________ > > _____________________________________________________ > Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, > silahkan ke: > http://rantaunet.org/palanta-setting > ------------------------------------------------------------ > Tata Tertib Palanta RantauNet: > http://rantaunet.org/palanta-tatatertib > ____________________________________________________ __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

