Saya setuju banget dengan apa yg dipaparkan oleh mbak yusri ini, 
kebetulan emang pertimbangan utama saya menjadi FTM adalah karena 
saya tidak bisa menyerahkan sepenuhnya anak saya ke orang laen 
karena tidak ada pihak keluarga yg mengawasi. Mau pasang cctv 
kayanya banyak banget ruangan yg mesti dicover.. berat di ongkos 
hehehe

Dari pengalaman saya membawa anak saya jalan2 dan sering ngobrol2 
dengan mbak2 atau sus yg sedang membawa anak asuhnya jalan2... rata2 
saya perhatiin emang beda ya antara yg bener2 orang tua ama yg cuman 
bersifat mengasuh saja. Kadang ada yg anaknya lari2 sedikit aja  
udah dicubit. Ada yg dibentak2... Nggak kebayang kalo anak yg diasuh 
seperti anak saya, rada aktif di atas rata2... bisa sering 
digampar 'kali.

Tapi tentu saja tidak semua pembantu atau bs seperti itu, masih ada 
yg bener2 tulus dan sayang ama anak asuhnya. Tergantung hoki kita 
aja bisa nemu orang seperti itu :)). Oya, berdasarkan pengamatan 
saya, biasanya pengasuh yg sabar bisa lebih telaten meladeni anak 
asuhnya, cuman mungkin kurang tanggap / inisiatif aja. Sedangkan 
pengasuh yg cekatan, biasanya cenderung tidak sabaran. Kalo saya 
disuruh milih siy, mendingan pengasuh yg kurang tanggap sedikit tapi 
mau dibilangin dan sabar.. daripada pengasuh yg cekatan banget tapi 
ngak sabaran.. takut anak diapa2in...

regards,
leli


--- In [email protected], "- Yusri -" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Dan apa yang saya bicarakan ttg PRT seperti itu juga berdasarkan 
pengalaman dan pengamatan, bukan negatif thinking.  Baik di kompleks 
saya ataupun di kompleks kakak saya, saya selalu melihat PRT 
berkerumun dan ketawa ketiwi di jalanan atau di salah  satu rumah 
majikannya yg kosong, atau di pos satpam.  Malah ada yang sampai 
karaoke an di kamar majikan. Dan suaranya sampai 3 rumah terdengar 
sangking kencengnya. Atau mengundang satpam dan tukang ojek utk 
nonton di rumah majikannya.
> Malahan juga baru2 ini salah satu warga saya (kebetulan suami saya 
ketua RT) mengadu karena PRTnya hamil oleh salah seorang satpam RW 
kami yang statusnya sudah beristri. Dan menuntut satpam itu utk 
menikahi PRT itu.
> 
> Dan saya juga tidak menyamaratakan semua PRT. Karena saya yakin 
masih ada PRT yg baik. Tapi zaman sekarang perbandingan PRT yg 
kurang baik masih jauh lebih banyak.
> 
> Bukannya saya berburuk sangka pada orang, tapi kita juga harus 
hati2 pada sikap PRT. Banyak PRT yg baik didepan majikan, tapi sifat 
dan sikap nya akan berubah saat majikan tidak ada.
> Saya pernah mengalaminya. Kalau ada saya, tutur katanya manis baik 
pada saya atau pada anak2 saya. Saat saya tidak ada, anak saya 
dibentak2. Dan itu ketahuan setelah berlangsung lama dan sata tahu 
tanpa sengaja.
> 
> Tetangga kakak saya lebih parah. BS nya dinilai baik sikap dam 
sifatnya. Tapi setiap hari anak majikannya di sewa pada pengemis dan 
BS itu di bayar 20rb/hari. Usia anak itu belum 2 thn. Anak itu 
dijemput setelah majikannya pergi kerja dan diekmbalikan jam 15.00. 
Sepanjang hari sang BS bisa santai dan pacaran dengan satpam.
> Suatu saat sahabat baik sang ibu anak tsb memergoki anak 
sahabatnya sedang digendong pengemis di terminal bogor. Sang sahabat 
mengadu pada ibu anak itu. Tapi karena sang BS lebih bisa mengambil 
hati, akhirnya 2 sahabat itu bertengkar, karena sang ibu lebih 
mempercayai BS.
> Akhirnya sang sahabat mengintai sendiri apa yg terjadi pada anak 
itu. Singkat kata, setelah bisa ditangkap tangan, sang sahabat 
melaporkan kejadian itu pada pos polisi yg ada di depan terminal  
bogor. Akhirnya sang penyewa dan BS ditangkap tangan.
> Yang ada dalam hati sang ibu, hanya tinggal penyesalan. 
> 
> Ada lagi cerita salah satu anggota milis disini yang pernah 
bercerita (klu gak salah domisili di surabaya). Bahwa setiap hari BS 
nya yg ditinggal sendiri dengan sang anak (tanpa PRT) mengundang 
pacarnya ke dalam rumha dan selalu "bercengkerama" dalam kamar. 
Pertanyaanya: ada di mana anak asuhannya itu saat semua terjadi?.
> 
> Yang paling ringan yang saya lihat, anak depan rumah saya kurang 
baik diasuhnya oleh PRT nya. Sang PRT gak telaten menyuapi sang anak 
yang susah makan. Karena kemalasan sang PRT, makanan yang seharusnya 
diberikan pada anak majikan, dia buang di selokan depan rumah.
> 
> Masih ada lagi cerita lain, pak. Anak tetangga sebelah saya saat 
usia 3 thn, teriak2 di teras rumah. Sang ibu tidak di rumah. Waktui 
saya lihat, ternyata anak itu sedang ada diteras rumah minta 
dibukakan pintu yang dikunci oleh PRT dari dalam. Wakti saya tanya, 
ternyata sang anak ingin main sepeda tapi sang PRT tidak mau 
meluluskan permintaan anak asuhannya karena ingin nonton sinetron.
> 
> Sebenarnya masih banyak lagi cerita2 miring seputar PRT. Karena 
selama saya berumah tangga 11 thn sudah banyak yang saya rekam ttg 
tingkah laku mereka. Dan trik2 mereka pun sudah ada di ''kantong" 
saya.
> Saya tidak bermaksud selalu berburuk sangka pada PRT, tapi saya 
harus berhati-hati dengan segala kemungkinan. Karena walaupun 
bagaimana mereka tidak punya pertalian darah dengan anak kita. Jadi 
tetap ada batasan2 rasa sayang dan rasa sabar dalam hati mereka. Dan 
kita tidak bisa menuntut banyak pada mereka. Akan berbeda denga kita 
atau keluarga sendiri kadar sayang dan sabarnya.
> 
> Sikap ke hati2an saya hanya menjaga saya supaya tidak ada 
penyesalan dikemudian hari jika terjadi sesuatu pada anak saya, 
walaupun hanya sekedar anak saya dibentak oleh PRT yang hanya 
sekedar  orang lain yg kita gaji.
> 
> Dan kalau bapak sudah bergabung lama dalam milis ini, sudah sejak 
lama kami saling sharing masalah PRT. Malah ada anggota milis yang 
ingin memasang CCTV di rumahnya utk memantau anak balitanya dalam 
asuhan sang pengasuh.
> 
> 
> Regards,
> YUSRI
> Sent from my BlackBerry® wireless device
> 
> -----Original Message-----
> From: M Yusuf <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> Date: Tue, 19 Feb 2008 17:14:22 
> To:[email protected]
> Subject: Re: Bls: [parentsguide] please share.....gimana biar 
pembantu
>   betah
> 
> 
> - Yusri - at 19/02/2008 15:56 wrote:
>  
>  >Kalau kita adakan poling, pasti PRT lebih seneng dan betah kalau 
>  >bekerja di rumah yg majikannya bekerja.
>  >Dia mau "jungkir balik" saat kerja juga, gak ada yg 
usilin/menegur. 
>  >Proses dia bekerja gak ada yg menilai. Yg penting hasil akhirnya 
selesai.
>  >Malahan ada PRT yg majikannya bekerja semua, pada pagi hari 
sampai 
>  >siang dia akan ngobrol dgn PRT tetangga, satpam atau nonton TV. 
>  >Nah......setelah jam 2 siang, dia mulai sibuk bekerja....beberes 
>  >rumah dan masak.
>  
>  ***Hmm,... jangan begitu mbak Yusri.
>  Jangan berpikiran negatif seperti begitu.
>  Saya nggak ada bos atau tidak, tetap bekerja giat.
>  Bahkan istri saya bosnya di taiwan, tidak pernah ke Indonesia.
>  Paling cuma telpon, tapi kantornya terbaik omzetnya di Indonesia.
>  (entah diluar negeri apa nggak, karena juga punya kantor di luar 
negeri).
>  
>  Sejak menikah, kita putuskan istri tetap kerja.
>  Selain lumayan tambahan incomenya di masa sulit ini,
>  sayang juga apa masa kerja dan posisinya,
>  juga dia lebih senang kerja.
>  
>  sebelum punya anak, kita tidak pakai pembantu.
>  Ini selama 1,5 tahun. Kita kerjakan sendiri.
>  Bahkan setelah punya anak, kita masih tanpa pembantu.
>  Saya bantu untuk cuci-cuci termasuk popok.
>  
>  Namun ketika harus pindah rumah, yang relatif jauh dari ortu,
>  kita pakai pembantu. Saat itu Zidan berumur 5 bulan.
>  Pembantu itu sampai sekarang ketika Zidan sudah duduk di kelas 1 
SD.
>  
>  Yang saya tahu, dia tidak seperti dituduhkan mbak Yusri.
>  Bangun pagi sekali untuk cuci-cuci, terus masak
>  dan bantu persiapannya Zidan.
>  Selama kita tinggal dia nggak kemana-mana.
>  Paling-paling nonton TV itu pun jarang.
>  Dia punya inisiatif tanpa harus disuruh.
>  
>  Tentu saja selama itu tidak selancar itu.
>  Kadang ada pasang bahkan gelombang.
>  Tapi saya tahu Zidan sangat percaya dan sayang sama dia.
>  Juga sebaliknya, kasih sayangnya tulus ke dia.
>  Sering membelikan anak-anak kita dengan uangnya sendiri.
>  (tentu saja saya marahi da kita ganti).
>  
>  Kita berprinsip, meski kita bekerja, pembantu hanyalah pembantu.
>  Tugas utama tetap pada orang tua.
>  Jadi kalau memungkinkan, kita yang kerjakan.
>  Misal sepulang di rumah, urusan anak tanggung jawab kita.
>  Bahkan ketika malam-malam anak nangis kiyer-kiyer.
>  Kita tak akan menggedor dan membangunkan pembantu.
>  
>  Oh ya, saya minta masak adalah tanggung jawab istri.
>  Karena saya adalah suaminya istri, bukan suaminya pembantu.
>  Paling pembantu hanya bantu-bantu goreng tempe.
>  
>  Maaf, kepanjangan ngelantur (juga mau pulang).
>  Intinya tidak semua PRT seperti itu.
>  Seperti, alhamdulillah, pembantu saya.
>  
>  Note:
>  Selama perjalanan rumah tangga, sempat juga kita
>  tidak menggunakan pembantu dia.
>  Ya setelah gelombang yang tinggi, tapi tetap bisa tenangkan.
>  Dan kita ungsikan sementara ke rumah adik.
>  Sampai tenang lagi.
>  Selama itu kita pakai beberapa pembantu.
>  
>  Terima kasih
>  M.Yusuf.web.id
>  ----------------------------------------------------------
>  Ilmu bisa menyangga rumah yang tidak memiliki penyangga,
>  sedangkan kebodohan mampu meruntuhkan rumah kemuliaan dan 
keluhuran.
>  - [Syair] -
>  ----------------------------------------------------------
>


Kirim email ke