soal pembantu kalau dibahas memang nggak ada habisnya :)
Hmm.. Pembantu emang cocok-2an sih ya, 
saya juga mengalami masalah yg sama, pengasuh anak saya yg pertama masih
yg lama
sejak anak saya bayi (2.5th), ini juga dari proses ganti2 sampai 2x,
lumayan sedikit prosesnya dibanding yang sekarang ini saya masih cari
pengasuh buat calon anak kedua saya ini. 
Hfff.. syusahnya minta ampun, bukan susah cari orangnya, kalau itu mah
gampang, tinggal tlp yayasan2, tanya para ibu2 komplek kiri kanan hehe,
yg susah itu cari orang yg cocok, yg loyal, yg sopan & gak macem2, gak
genit, yg jujur, yg telaten dan sayang ma anak, yg gak suka mejeng
(maklum anak muda). 

jaman sekarang emang susah dengan kriteria itu semua, padahal kalau saya
bercermin dari ibu saya, waduh itu pembantu ibu dah 15th. 
sampai pada akhirnya saya ambil kesimpulan kalau cari pembantu:
berusaha,  feeling-nya dipake kuat-2, lalu banyak-2 berdoa :D


Salam, 

Azzah
http://littlearas.blogspot.com/

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of - Yusri -
Sent: Thursday, February 21, 2008 8:08 AM
To: [email protected]
Subject: Re: Bls: [parentsguide] please share.....gimana biar pembantu
betah


Itu sebabnya.....kalau aku cari BS di yayasan, kriteria utamanya selalu
minta dicariin yg sayang dan telaten pada anak kecil. Kalau kurang bisa
kerja, aku gak masalah. Soalnya....kalau keahlian kerja bisa kita didik,
tapi kalau sifat sayang pada anak, itu sudah bawaan diri dan gak bisa
diajarkan.
Alhamdulilah selama mencari BS utk 2 anak pertamaku, selalu dapat yg
sayang pada anak2ku tapi resikonya aku harus extra sabar mendidik dia
dalam berbagai hal.
Tapi gak apa2....karena aku sudah terbiasa mendidik para TKW yg akan
dikirim ke singapure.




Regards,
YUSRI
Sent from my BlackBerry(r) wireless device

-----Original Message-----
From: "l3l1" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Wed, 20 Feb 2008 10:22:53
To:[email protected]
Subject: Re: Bls: [parentsguide] please share.....gimana biar pembantu
betah


Saya setuju banget dengan apa yg dipaparkan oleh mbak yusri ini, 
 kebetulan emang pertimbangan utama saya menjadi FTM adalah karena 
 saya tidak bisa menyerahkan sepenuhnya anak saya ke orang laen 
 karena tidak ada pihak keluarga yg mengawasi. Mau pasang cctv 
 kayanya banyak banget ruangan yg mesti dicover.. berat di ongkos 
 hehehe
 
 Dari pengalaman saya membawa anak saya jalan2 dan sering ngobrol2 
 dengan mbak2 atau sus yg sedang membawa anak asuhnya jalan2... rata2 
 saya perhatiin emang beda ya antara yg bener2 orang tua ama yg cuman 
 bersifat mengasuh saja. Kadang ada yg anaknya lari2 sedikit aja 
 udah dicubit. Ada yg dibentak2... Nggak kebayang kalo anak yg diasuh 
 seperti anak saya, rada aktif di atas rata2... bisa sering 
 digampar 'kali.
 
 Tapi tentu saja tidak semua pembantu atau bs seperti itu, masih ada 
 yg bener2 tulus dan sayang ama anak asuhnya. Tergantung hoki kita 
 aja bisa nemu orang seperti itu :)). Oya, berdasarkan pengamatan 
 saya, biasanya pengasuh yg sabar bisa lebih telaten meladeni anak 
 asuhnya, cuman mungkin kurang tanggap / inisiatif aja. Sedangkan 
 pengasuh yg cekatan, biasanya cenderung tidak sabaran. Kalo saya 
 disuruh milih siy, mendingan pengasuh yg kurang tanggap sedikit tapi 
 mau dibilangin dan sabar.. daripada pengasuh yg cekatan banget tapi 
 ngak sabaran.. takut anak diapa2in...
 
 regards,
 leli
 
 --- In parentsguide@ <mailto:parentsguide%40yahoogroups.com>
yahoogroups.com, "- Yusri -" 
 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
 > Dan apa yang saya bicarakan ttg PRT seperti itu juga berdasarkan 
 pengalaman dan pengamatan, bukan negatif thinking. Baik di kompleks 
 saya ataupun di kompleks kakak saya, saya selalu melihat PRT 
 berkerumun dan ketawa ketiwi di jalanan atau di salah satu rumah 
 majikannya yg kosong, atau di pos satpam. Malah ada yang sampai 
 karaoke an di kamar majikan. Dan suaranya sampai 3 rumah terdengar 
 sangking kencengnya. Atau mengundang satpam dan tukang ojek utk 
 nonton di rumah majikannya.
 > Malahan juga baru2 ini salah satu warga saya (kebetulan suami saya 
 ketua RT) mengadu karena PRTnya hamil oleh salah seorang satpam RW 
 kami yang statusnya sudah beristri. Dan menuntut satpam itu utk 
 menikahi PRT itu.
 > 
 > Dan saya juga tidak menyamaratakan semua PRT. Karena saya yakin 
 masih ada PRT yg baik. Tapi zaman sekarang perbandingan PRT yg 
 kurang baik masih jauh lebih banyak.
 > 
 > Bukannya saya berburuk sangka pada orang, tapi kita juga harus 
 hati2 pada sikap PRT. Banyak PRT yg baik didepan majikan, tapi sifat 
 dan sikap nya akan berubah saat majikan tidak ada.
 > Saya pernah mengalaminya. Kalau ada saya, tutur katanya manis baik 
 pada saya atau pada anak2 saya. Saat saya tidak ada, anak saya 
 dibentak2. Dan itu ketahuan setelah berlangsung lama dan sata tahu 
 tanpa sengaja.
 > 
 > Tetangga kakak saya lebih parah. BS nya dinilai baik sikap dam 
 sifatnya. Tapi setiap hari anak majikannya di sewa pada pengemis dan 
 BS itu di bayar 20rb/hari. Usia anak itu belum 2 thn. Anak itu 
 dijemput setelah majikannya pergi kerja dan diekmbalikan jam 15.00. 
 Sepanjang hari sang BS bisa santai dan pacaran dengan satpam.
 > Suatu saat sahabat baik sang ibu anak tsb memergoki anak 
 sahabatnya sedang digendong pengemis di terminal bogor. Sang sahabat 
 mengadu pada ibu anak itu. Tapi karena sang BS lebih bisa mengambil 
 hati, akhirnya 2 sahabat itu bertengkar, karena sang ibu lebih 
 mempercayai BS.
 > Akhirnya sang sahabat mengintai sendiri apa yg terjadi pada anak 
 itu. Singkat kata, setelah bisa ditangkap tangan, sang sahabat 
 melaporkan kejadian itu pada pos polisi yg ada di depan terminal 
 bogor. Akhirnya sang penyewa dan BS ditangkap tangan.
 > Yang ada dalam hati sang ibu, hanya tinggal penyesalan. 
 > 
 > Ada lagi cerita salah satu anggota milis disini yang pernah 
 bercerita (klu gak salah domisili di surabaya). Bahwa setiap hari BS 
 nya yg ditinggal sendiri dengan sang anak (tanpa PRT) mengundang 
 pacarnya ke dalam rumha dan selalu "bercengkerama" dalam kamar. 
 Pertanyaanya: ada di mana anak asuhannya itu saat semua terjadi?.
 > 
 > Yang paling ringan yang saya lihat, anak depan rumah saya kurang 
 baik diasuhnya oleh PRT nya. Sang PRT gak telaten menyuapi sang anak 
 yang susah makan. Karena kemalasan sang PRT, makanan yang seharusnya 
 diberikan pada anak majikan, dia buang di selokan depan rumah.
 > 
 > Masih ada lagi cerita lain, pak. Anak tetangga sebelah saya saat 
 usia 3 thn, teriak2 di teras rumah. Sang ibu tidak di rumah. Waktui 
 saya lihat, ternyata anak itu sedang ada diteras rumah minta 
 dibukakan pintu yang dikunci oleh PRT dari dalam. Wakti saya tanya, 
 ternyata sang anak ingin main sepeda tapi sang PRT tidak mau 
 meluluskan permintaan anak asuhannya karena ingin nonton sinetron.
 > 
 > Sebenarnya masih banyak lagi cerita2 miring seputar PRT. Karena 
 selama saya berumah tangga 11 thn sudah banyak yang saya rekam ttg 
 tingkah laku mereka. Dan trik2 mereka pun sudah ada di ''kantong" 
 saya.
 > Saya tidak bermaksud selalu berburuk sangka pada PRT, tapi saya 
 harus berhati-hati dengan segala kemungkinan. Karena walaupun 
 bagaimana mereka tidak punya pertalian darah dengan anak kita. Jadi 
 tetap ada batasan2 rasa sayang dan rasa sabar dalam hati mereka. Dan 
 kita tidak bisa menuntut banyak pada mereka. Akan berbeda denga kita 
 atau keluarga sendiri kadar sayang dan sabarnya.
 > 
 > Sikap ke hati2an saya hanya menjaga saya supaya tidak ada 
 penyesalan dikemudian hari jika terjadi sesuatu pada anak saya, 
 walaupun hanya sekedar anak saya dibentak oleh PRT yang hanya 
 sekedar orang lain yg kita gaji.
 > 
 > Dan kalau bapak sudah bergabung lama dalam milis ini, sudah sejak 
 lama kami saling sharing masalah PRT. Malah ada anggota milis yang 
 ingin memasang CCTV di rumahnya utk memantau anak balitanya dalam 
 asuhan sang pengasuh.
 > 
 > 
 > Regards,
 > YUSRI
 > Sent from my BlackBerry(r) wireless device
 > 
 > -----Original Message-----
 > From: M Yusuf <[EMAIL PROTECTED] <mailto:m%40yusuf.web.id> id>
 > 
 > Date: Tue, 19 Feb 2008 17:14:22 
 > To:parentsguide@ <mailto:parentsguide%40yahoogroups.com>
yahoogroups.com
 > Subject: Re: Bls: [parentsguide] please share.....gimana biar 
 pembantu
 > betah
 > 
 > 
 > - Yusri - at 19/02/2008 15:56 wrote:
 > 
 > >Kalau kita adakan poling, pasti PRT lebih seneng dan betah kalau 
 > >bekerja di rumah yg majikannya bekerja.
 > >Dia mau "jungkir balik" saat kerja juga, gak ada yg 
 usilin/menegur. 
 > >Proses dia bekerja gak ada yg menilai. Yg penting hasil akhirnya 
 selesai.
 > >Malahan ada PRT yg majikannya bekerja semua, pada pagi hari 
 sampai 
 > >siang dia akan ngobrol dgn PRT tetangga, satpam atau nonton TV. 
 > >Nah......setelah jam 2 siang, dia mulai sibuk bekerja....beberes 
 > >rumah dan masak.
 > 
 > ***Hmm,... jangan begitu mbak Yusri.
 > Jangan berpikiran negatif seperti begitu.
 > Saya nggak ada bos atau tidak, tetap bekerja giat.
 > Bahkan istri saya bosnya di taiwan, tidak pernah ke Indonesia.
 > Paling cuma telpon, tapi kantornya terbaik omzetnya di Indonesia.
 > (entah diluar negeri apa nggak, karena juga punya kantor di luar 
 negeri).
 > 
 > Sejak menikah, kita putuskan istri tetap kerja.
 > Selain lumayan tambahan incomenya di masa sulit ini,
 > sayang juga apa masa kerja dan posisinya,
 > juga dia lebih senang kerja.
 > 
 > sebelum punya anak, kita tidak pakai pembantu.
 > Ini selama 1,5 tahun. Kita kerjakan sendiri.
 > Bahkan setelah punya anak, kita masih tanpa pembantu.
 > Saya bantu untuk cuci-cuci termasuk popok.
 > 
 > Namun ketika harus pindah rumah, yang relatif jauh dari ortu,
 > kita pakai pembantu. Saat itu Zidan berumur 5 bulan.
 > Pembantu itu sampai sekarang ketika Zidan sudah duduk di kelas 1 
 SD.
 > 
 > Yang saya tahu, dia tidak seperti dituduhkan mbak Yusri.
 > Bangun pagi sekali untuk cuci-cuci, terus masak
 > dan bantu persiapannya Zidan.
 > Selama kita tinggal dia nggak kemana-mana.
 > Paling-paling nonton TV itu pun jarang.
 > Dia punya inisiatif tanpa harus disuruh.
 > 
 > Tentu saja selama itu tidak selancar itu.
 > Kadang ada pasang bahkan gelombang.
 > Tapi saya tahu Zidan sangat percaya dan sayang sama dia.
 > Juga sebaliknya, kasih sayangnya tulus ke dia.
 > Sering membelikan anak-anak kita dengan uangnya sendiri.
 > (tentu saja saya marahi da kita ganti).
 > 
 > Kita berprinsip, meski kita bekerja, pembantu hanyalah pembantu.
 > Tugas utama tetap pada orang tua.
 > Jadi kalau memungkinkan, kita yang kerjakan.
 > Misal sepulang di rumah, urusan anak tanggung jawab kita.
 > Bahkan ketika malam-malam anak nangis kiyer-kiyer.
 > Kita tak akan menggedor dan membangunkan pembantu.
 > 
 > Oh ya, saya minta masak adalah tanggung jawab istri.
 > Karena saya adalah suaminya istri, bukan suaminya pembantu.
 > Paling pembantu hanya bantu-bantu goreng tempe.
 > 
 > Maaf, kepanjangan ngelantur (juga mau pulang).
 > Intinya tidak semua PRT seperti itu.
 > Seperti, alhamdulillah, pembantu saya.
 > 
 > Note:
 > Selama perjalanan rumah tangga, sempat juga kita
 > tidak menggunakan pembantu dia.
 > Ya setelah gelombang yang tinggi, tapi tetap bisa tenangkan.
 > Dan kita ungsikan sementara ke rumah adik.
 > Sampai tenang lagi.
 > Selama itu kita pakai beberapa pembantu.
 > 
 > Terima kasih
 > M.Yusuf.web.id
 > ----------------------------------------------------------
 > Ilmu bisa menyangga rumah yang tidak memiliki penyangga,
 > sedangkan kebodohan mampu meruntuhkan rumah kemuliaan dan 
 keluhuran.
 > - [Syair] -
 > ----------------------------------------------------------
 >
 
   

===================================================================
Terbit majalah PARENTS GUIDE edisi FEBRUARI 2008.

"JELI PILIH PRESCHOOL RAMAH EMOTIONAL INTELLIGENCE"

Merupakan tugas orang tua untuk membekali anak dengan pendidikan. Salah
satunya adalah dengan memilih preschool yang mendukung pengembangan
Emotional Intelligence (EI) pada anak. Simak tips memilih preschool
terbaik untuk si buah hati dan dapatkan BONUS booklet PARENTS GUIDE
PRESCHOOL 100

Simak juga bahasan menarik lain :
- Perkenalkan ini Gigi Pertamaku
- Belajar Bahasa Inggris Yuk, Nak?

Segera dapatkan PARENTS GUIDE edisi FEBRUARI 2008 di agen majalah dan
toko buku terkemuka di kota Anda. Klik daftar isi selengkapnya di:
http://www.parentsguide.co.id/dsp_tocfeb07.php

Ikuti PREGNANCY CLUB Gathering.

Talkshow Workshop PRENATAL YOGA 
Tema: "Siap Melahirkan dengan Yoga untuk Ibu Hamil"
Sabtu, 16 Februari 2008, pukul 09.00-11.30
Pembicara Instruktur: Rina Mardiana (Yoga Instructor PR Manager
Yogalight).

Venue: House of Milenia, Jl Taman Ubud 3 Kuningan Jakarta.
Tiket Rp 30.000,-.
Reservasi tiket hubungi hotline pelanggan PG di (021) 7040 8785, 527
7302

===================================================================
Setiap pelanggan baru PASTI DAPAT HADIAH. Informasi berlangganan hubungi
Emma (021) 527 7302, 5256792, 70408785
atau email: [EMAIL PROTECTED]

Ayo bergabung dengan Parents Forum, berbagi informasi bersama Parents
dari seluruh Indonesia hanya di: http://parentsguide.co.id/smf/

==================================================================== 
Yahoo! Groups Links



Kirim email ke