Terserah masyarakat yang mau memakainya.
Lucu ditelinga kita khan tidak lucu buat kaum jiran.
Lagipula lucu membuat kita tersenyum, terus tertawa, lumayan
nambah-nambahin umur :)
Daripada ngarang-ngarang sendiri yang enggak jelas.
peace.
Indi Soemardjan wrote:
>
> Ini yang sudah mewabah di kalangan bisnis Indonesia:
>
> When when kita walking walking ya?
> Kapan You mau makan dinner sama kita punya executive?
> Bisa kita teken kontrak joint venture hari ini?
> Siapa yang mau coba beli stock online?
> Nanti situ call saya ya dari You punya office?
>
> APa ndak lucu kedengarannya?
> Sekalian aja ngomong Singlish daripada begini terus....
> Sekalian aja ngomong bahasa melayu cara Malaysia yang sok aksi pakai
> "deh", "kok", "ding" tapi salah terus.
> (pernah dengar budak melayu cakap? kau duduk kat mana kah?) #&@*(#&@#*@#
>
> Ini seperti jaman dulu waktu ada banyak orang Indo. yang sok aksi campur
> bahasa Belanda sama bahasa melayu untuk aksi2an.
> Wah, pokoknya lucu semuanya kok..eh...deh!
>
> INDI
>
> Blucer Rajagukguk wrote:
> >
> > Saya enggak setuju, maaf yach :)
> > Saya seorang penganut, kalau nyontek bahasa asing, contek habis saja
> > enggak perlu diganti-ganti. Biarkan itu memperkaya bahasa kita. Lain
> > soal jika masyarakat mau mengunakan kata yang mana, itu terserah mereka.
> > Toch nantinya masyarakat akan lebih memilih bahasa yang efisien, enak
> > didengar dan dimengerti umum. Lama-kelamaan bangsa kita akan menguasai
> > bahasa asing dengan lebih mudah.
> > Bahasa persatuan kita tetap bahasa Indonesia, tetapi bahasa asing
> > lainnya adalah untuk memperkaya perbendaharaan kata saja.
> > Coba bayangkan tiap bahasa asing yang kita serap selalu kita rubah. Ini
> > pekerjaan dua kali. Perdagangan sebentar lagi akan mendunia. Globalisasi
> > hanya menunggu waktu yang sangat singkat. Kita perlu reformasi bahasa,
> > sehingga bahasa kita akan dapat lebih membantu rakyat dalam menghadapi
> > era millenium ini.
> > peace.
> >
> >