Pendapat Anda betul mengenai pentingnya asimilasi bahasa asing ke dalam
bahasa Indonesia.
Namun, itu sebaiknya dilakukan hanya apabila kosa kata sansakerta nya
tidak bisa ditemukan. (Sansakerta adalah akar dari bahasa kita).

Mari saya beri beberapa contoh:

kasus 1: Real Estate menjadi Ril Estat - kenapa tidak Kawasan Perumahan
saja? Ini lebih dekat dengan sansakerta tokh?

kasus 2: Violin dan Viola, keduanya menjadi Biola - ini memang bahasa
sansakertanya ndak ada.

kasus 3: Rocket menjadi Roket - ini juga "kerana" istilah tersebut tidak
bisa ditemukan di kamus sansakerta.

setuju dengan pendapat saya?

INDI

Blucer Rajagukguk wrote:

> hello kang johnson..
> Mengembangkan bahasa khan tidak selalu harus mengganti bahasa asli
> menjadi bahasa Indonesia. Lihat Malaysia dan India, dengan kelebihan
> bahasa Inggris, mereka dapat tempat yang lebih layak di
> universitas-universitas terhormat, padahal bahasa asli masih mereka
> pergunakan. Padahal bedanya cuma nilai bahasa Inggris di Toefl, GMAT
> atau GRE. Silahkan cek matematiknya, saya sendiri mencapai 90% di GMAT
>
> enggak sulit, begitu juga kawan lainnya.
> Menurut saya lidah kita jauh lebih fleksibel dari bangsa lain. Jadi
> kita
> kembangkan bahasa enggak perlu disusah-susahin. Sudah saatnya kita
> kembangkan bahasa melalui imitasi bahasa lain, sehingga kita dapat
> menggunakan bahasa yang lebih efisien dan mudah dimengerti.
> Pernah saya dapat soal bahasa Indonesia di TPA Bappenas, ngerti aja
> enggak, apalagi ngejawab.
> Budaya kita juga masih banyak yang tidak membangun, jika ada orang
> yang
> menggunakan bahasa asing yang memang umum malah dibilang sok
> kebarat-baratan, bukannya belajar untuk bisa mengerti. Jaman sudah
> berubah menjadi global, sudah saatnya bahasa Indonesia memperkaya diri
>
> dengan mengimitasi bahasa-bahasa asing sehingga rakyat Indonesia pun
> menjadi rakyat yang global.
> peace.
> Johnson Chandra wrote:
> >
> > >
> > > mana nama negara orang juga diganti-ganti.
> > > France...jadi Perancis darimana lagi ?
> > >
> >
> > loh..bahasa tuh di mana mana berkembang dan dilokalkan.
> > sejak kapan Indonesia jadi Indonesien (bhs Jerman) ?
> > sejak kapan Singapura jadi Singapore ?
> > sejak kapan Nihon jadi Japan ?
> > sejak kapan USA jadi etats unis (bhs perancis) ??
> >
> > kurang kerjaan ??
> > hmm...normal lagi...
> > cuma di Indonesia memang terlalu norak sih.
> > maksudnya baik, tapi seperti biasa salah kaprah.
> >
> > juga tentang pemakaian bahasa Indonesia di bidang ilmiah.
> > Saya sangat menyayangkan sekali bahwa literatur ilmiah
> > dalam bahasa Indonesia sangat sedikit sekali.
> > dan terjemahan juga sedikit dan kadang kadang bingung bacanya.
> > sebab terjemahannya kurang sreg.
> > bisa dibayangkan tidak, kalau sampai sekarang, literatur ilmiah
> > harus dalam bahasa latin semua, seperti abad pertengahan ??
> > Saya rasa kemajuan teknologi di dunia barat tidak akan semaju
> > sekarang ini.
> > Bisa dibayangkan juga tidak, bila kita dengan sengaja tidak mau
> > mengembangkan bahasa kita ?
> > Mungkin jadinya seperti bahasa Latin, yang dulu dipakai di seluruh
> Eropa,
> > dan sekarang menjadi bahasa mati.
> >
> > salam Reformasi (juga dari asing, syalam dan Reformation)
> > he.he..
> >
> > Johnson Chandra



--
Indi

Visit my world: http://pagina.de/indradi

Kirim email ke