Peluang lulus UMPTN juga bergantung jurusan yg. diambil (meskipun di kampus
top). Misalnya untuk jurusan Fisika di ITB peluangnya tentu lebih besar
daripada masuk Teknik Elektro.
Jadi, dilihat dulu anak orang berbintang itu apakah memilih jurusan "kering"
atau "basah", terus mungkin dia memang cukup mampu u/ tembus UMPTN.
Perlu diketahui juga bahwa UMPTN itu kan testnya multiple choices. Bisa
terjadi kemungkinan dg. cara "cap-cip-cup kembang kuncup" (menebak), dia
bisa lulus (meski dg. nilai kritis).
Di kampus negeri spt. ITB dan IPB, sistem gugur dilaksanakan pd. tahun
pertama. Di ITB dikenal dg. nama TPB (Tahap Persiapan Bersama). Disitu
kemampuan para mahasiswa benar-benar diadu. Yg. masuknya lewat "dewan
jenderal" atau lewat duit akan merasakan tekanan yg. amat sangat. Banyak
yg. gugur disini. Di sini pula terlihat bahwa banyak juga mahasiswa
keturunan yg. survive (memang patut diakui, mereka yg. masuk negeri
rata-rata qualified). Yg. masuknya cuma karena mengandalkan uang akan
di-DO, tidak perduli dia anak siapa. (pernah juga anak seorang profesor di
ITB di DO).
> ----------
> From: alex[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Thursday, January 21, 1999 6:45 PM
> Subject: Re: Pemimpin Politik -Jeli dan hati-hati (untuk Alex) Kulit
> muka poli tik))
>
> Wah wah ojo ngono Bung Haddeeer (wong endi koen..jenengmu nggak lazim)
> Baru habis silahturahmian koq sudah bermarah-marahan.......
>
> Aku dewean ngalami peristiwa yang podo karo Cak Lumbantobing..........
> Ono temenku ynag bodo e nggak ketulungan (nuwun sewu lho Mas) eh
> tau-tau nya masuk ITB hanya disebabkan ayahandanya berbintang 3.
> Saya sich nggak iri, memang untung dia punya ayah berbintang, sedang
> kita-kita khan cuma cuma berbintang kalu lagi mimpi atau kena tonjok.
>
> Yang anda katakan ono akale namun sayangnya bukan anak petani pribumi
> yang masuk namun anak pejabat/berbintang pribumi yang masuk. Kalo
> anda membandingkan dengan anak Cina saya kira mereka nggak ada
> yang ngarepin masuk UMPTN. Masuk selamat nggak juga bersyukur, toh seperti
> kata anda mereka lebih bergengsi masuk MIT, Harvard, Princeton, LeHigh,
> Stanford dll. dibandingkan ke UGM, ITB, ITS, UI yang menurut anda harus
> bercampur baur dengan anak-anak petani yang miskin. Maaf lho namun saya
> hanya menyitir argument anda Bung Hadder.
>
> Jadinya begini lho Cak, mungkin Cak sendiri nggak pernah bergaul dengan
> para joki (untuk masuk UMPTN). Ku punya teman yang ikut UMPTN hingga
> 5 atau bahkan lebih. Satu kali masuk untuk dia dan yang empat lainnya
> untuk memasukkan orang lain, orang itu bisa orang Cina yang kaya, orang
> pribumi yang kaya dan yang jelas nggak mungkin orang miskin, karena
> bayarannya jutaan keatas. Trus siapa yang salah...mohon petunjuknya....
> Matur nuwun inggih.............
>
> Wass
> AL
>
>
>
application/ms-tnef