Wah, mas.... kayaknya temenmu termasuk golongan orang yang beruntung.
Orang beruntung itu yo jelas luwih hebat daripada orang pintar maupun orang
kaya. Kalau sistem penerimaan mahasiswa UMPTN cuma dikalahin jendral
bintang tiga doang, wah, univ./institut bersangkutan bakalan penuh sama
anak jendral dong. Nyatanya kan nggak.
Kebetulan saya juga pernah kenalan sama orang yang menangani sistem
penerimaan siswa lewat SIPENMARU, bukan anaknya panitia ini atau mahasiswa
apa, tapi memang orang yg berkompeten, waktu dulu itu.
Nah, beliau ini bilang, paling banter yang dapat dilakukan oleh mereka ini ya
bikin prioritas jikalau ada yang bernilai sama. Lagipula kan hanya sedikit sekali
yang punya akses seperti ini. Dulu, ada sinyalemen bahwa dosen punya
jatah masukin satu anak untuk masuk perguruan tinggi negeri, tetapi
itu juga harus punya nilai yang memang memenuhi syarat. Jadi memang
diambil dari urutan yang bernilai sama dan memenuhi syarat. Kalau nggak
masuk urutan teratas ya jelas out. Yang beginian mah manusiawi dong....
Kriteria-kriteria yg pernah ditulis Bung Panut juga masuk akal dan ada, semuanya
mesti dibuat proporsional. Bila ada calon mahasiswa dari misal Irian bernilai
hampir sama dengan calon mahasiswa dari daerah Jawa, jelas akan diambil
yang dari Irian. Kalau ada calon siswa dari keturunan Tionghoa bernilai hampir
sama dengan calon dari keturunan arab (yg jumlahnya lebih sedikit) ya jelas
akan diambil dari yg keturunan Arab. Dan seterusnya.... (tentunya setelah
mempertimbangkan berbagai faktor lain, misal kebetulan sudah banyak yg
keturunan Arab yang bernilai lebih tinggi sehingga sudah masuk daftar yg
diterima, misalnya).
Penentuan kriteria tentunya diambil untuk menjalankan keadilan bagi seluruh
lapisan masyarakat. Lha kalau mau dipilih berdasarkan angka hasil test, wah,
sekilas kelihatan adil, tapi mana rasa keadilan anda kalau anda memilih
single criterium kayak gini. Masih banyak mas, yang sekolah sambil sabit rumput.
Saudara-saudara kita yang kayak gini disuruh saingan sama siswa SMA
yang kerjaan tiap harinya ikut bimbingan test, yaaaa........setengah mati. Itu
namanya nggak adil.... Misal nilai beda 0.25 point, lebih masuk rasa keadilan
kalau dipilih dari golongan yg kurang beruntung dong. Tapi kalau beda nilai
terlalu jauh, ya apa boleh buat.....
Nah, Mas Alex, mungkin sudah waktunya berpikiran lain terhadap temannya itu.
Toh, dalam kehidupan ini juga banyak yang anda rasa berkemampuan lebih
rendah ternyata mampu meraih sesuatu yg lebih tinggi dari anda. Lha semuanya
kan kersaning sing gawe urip, semua atas kehendak Yang Di Atas. Kalau
masalah joki itu mah masalah kriminal murni. Jelas tidak bersangkut-paut dengan
segala macam kriteria yang disebutkan dulu itu.
Buat Mas Lumbantobing, barangkali lain kali dapat lebih berhati-hati
mendeskripsikan seseorang. Kita-kita ini jadi kasihan dengan ybs. Hanya saja
perlu disampaikan kepada anda bahwa ada beberapa kriteria yang tidak dapat
diganggu gugat untuk dapat beasiswa, yaitu test bhs inggris dan TPA, setelah
itu TOEFL dan GRE/GMAT. Bila yg ini dapat lolos, ya memang sudah memenuhi
syarat, nggak perlu tonjol-tonjolan fisik atau kemampuan karena sudah kelihatan
menonjol kok.....
alex wrote:
> Wah wah ojo ngono Bung Haddeeer (wong endi koen..jenengmu nggak lazim)
> Baru habis silahturahmian koq sudah bermarah-marahan.......
>
> Aku dewean ngalami peristiwa yang podo karo Cak Lumbantobing..........
> Ono temenku ynag bodo e nggak ketulungan (nuwun sewu lho Mas) eh
> tau-tau nya masuk ITB hanya disebabkan ayahandanya berbintang 3.
> Saya sich nggak iri, memang untung dia punya ayah berbintang, sedang
> kita-kita khan cuma cuma berbintang kalu lagi mimpi atau kena tonjok.
>
> Yang anda katakan ono akale namun sayangnya bukan anak petani pribumi
> yang masuk namun anak pejabat/berbintang pribumi yang masuk. Kalo
> anda membandingkan dengan anak Cina saya kira mereka nggak ada
> yang ngarepin masuk UMPTN. Masuk selamat nggak juga bersyukur, toh seperti
> kata anda mereka lebih bergengsi masuk MIT, Harvard, Princeton, LeHigh,
> Stanford dll. dibandingkan ke UGM, ITB, ITS, UI yang menurut anda harus
> bercampur baur dengan anak-anak petani yang miskin. Maaf lho namun saya
> hanya menyitir argument anda Bung Hadder.
>
> Jadinya begini lho Cak, mungkin Cak sendiri nggak pernah bergaul dengan
> para joki (untuk masuk UMPTN). Ku punya teman yang ikut UMPTN hingga
> 5 atau bahkan lebih. Satu kali masuk untuk dia dan yang empat lainnya
> untuk memasukkan orang lain, orang itu bisa orang Cina yang kaya, orang
> pribumi yang kaya dan yang jelas nggak mungkin orang miskin, karena
> bayarannya jutaan keatas. Trus siapa yang salah...mohon petunjuknya....
> Matur nuwun inggih.............
>
> Wass
> AL