Saya teruskan ya...
"Y. Y. Alim" wrote:
> YYA:
> Kalau bagian ini mengandung pernyataan yang cukup tajam dan menyinggung
> rekan-rekan dari suku lain, saya mohon maaf. Bukan niatan saya untuk itu.
> Saya perlu perbaiki penjelasan saya sebagai berikut.
FNU:
Kalau saya pribadi sih tidak tersinggung.
> Daerah atau kerajaan yang ditaklukan Belanda secara umum mendapat manfaat
> lain terutama dalam masalah pendidikan. Mungkin rekan-rekan masih ingat
> "politik balas budi" dalam sejarah kita. Sekolah dasar sampai perguruan
> tinggi yang dibangun Belanda paling tidak memberikan kesempatan (walaupun
> terbatas) kepada pribumi (inlander?) untuk mengenyam pendidikan. Kampus
> ITB dibangun Tahun 1920 (mohon koreksi), di Jakarta ada Stovia, dan
> lainnya. Pada saat pemuda dan rakyat Aceh masih sibuk merusak rel kereta
> api dan telegraph dalam rangka mengusir Belanda, pribumi yang bertempat
> tinggal di daerah taklukan belanda (pokoknya saya nggak nyebut daerah lagi,
> takut menyinggung) sudah merintis pergerakan politik atau perjuangan
> melalui jalur diplomasi. Banyak tokoh perjuangan yang telah menyandang
> gelar sarjana, bahkan ada tokoh separatis (PRRI/Permesta?) yang bergelar
> Doktor.
FNU:
Politik balas budi memang membantu meningkatkan pendidikan. Hal ini tidak
dapat dipungkiri. Namun pendidikan untuk kalangan umum tidak banyak
berubah. Sekolah "ongko loro" hanya memajukan rakyat sampai pada tahap
melek huruf, masih jauh dari melek intelektualitas. Selain itu perekrutan PNS
(pamong praja) memang sangat membantu pada saat RI baru terbentuk.
Jadi jalannya kepemerintahan tidak benar-benar dari nol besar lagi.
> Hal yang mau saya angkat disini adalah elapse time on knowledge endowement,
> isu ini mungkin bisa jadi topik research kalau sepakat kita bisa sama-sama
> menggarapnya.
FNU:
Kalau ada dana risetnya boleh tuh dibagi ke anggota milis.
> Sejarah menunjukkan bahwa kawasan yang selalu bergolak secara fisik akan
> tertinggal kemampuan sumber daya manusianya relatif terhadap daerah yang
> tidak bergolak (Polkam stabil). Lihat saja Orang Moro di Philiphinnes,
> Orang Basque di spanyol, orang Kurdi, orang Palestina, orang Aceh dan
> daerah lainnya. Sumber penurunan kemampuan sumber daya tersebut antara lain
> adalah: Pertama, sarana pendidikan memang tidak ada (tidak sempat
> terbangun, di bom atau dirusak). Kedua, dalam pertempuran fisik mortaliti
> rate penduduk usia sekolah sangat tinggi. Ketiga, dalam pertempuran fisik
> mortaliti rate orang yang terdidik juga tinggi. Faktor pendukung
> pembangunan adalah politik yang stabil dan sudah tentu tersedianya sumber
> daya yang layak. Coba anda amati lokasi sebaran waduk, jalan raya, gedung,
> dan lainnya yang ditinggalkan belanda dan masih kita manfaatkan saat ini.
> Perbandingan lain secara regional adalah pembangunan jalan trans jawa dan
> trans sumatra (maaf lho). Deandles pada tahun 1850 sudah membangun jalan
> anyer-panarukan yang dapat kita dapat sebutkan sebagai jalan trans jawa.
> Kalau tidak salah pembangunan jalan trans-sumatra baru dibangun pada tahun
> 1980 an (rejeki minyak). Contoh-contoh descriptive seperti ini dimaksudkan
> untuk menunjukkan adanya korelasi sumber daya manusia dengan pencapaian
> pembangunan fisik. Mungkin kita perlu research yang mendalam untuk hal
> ini, ada sponsor?
Sebetulnya tidak dapat dikatakan betul 100 persen. Pernyataan mas YYA hanya
berlaku setelah Politik Balas Budi mulai dicanangkan (kasus RI pra-kemerdekaan).
Sebelum era itu, biarpun situasi aman terkendali, sumber daya manusia tidak
mempunyai kemampuan lebih baik. Yang ada adalah proses pembodohan, di mana
rakyat hanya diberi pekerjaan sebagai pekerja. Bekerja dan bekerja seperti
semut pekerja. Makanya disebut 'mental kuli' karena memang tidak diberi
alternatif lain. Secara fisik memang sifat pekerjaan adalah kuli. Pekerjaan yg
bersifat kepamongprajaanpun lebih bersifat pekerjaan pengawas, atau mandor.
Untuk itu saya malah sampai kepada kesimpulan sebaliknya. Masyarakat yang
masih bebas dari kontrol (walaupun dalam hutan), memiliki kesempatan lebih
baik untuk mengeluarkan pendapat dll. Makanya mungkin perlu adjusment untuk
sampai kepada kesimpulan anda tsb.
[Bbrp waktu lalu ada yg protes dg istilah "mental kuli", mungkin rekan yg protes
perlu mengingat lagi sejarah ini. Memang nyata ada kok, dan tidak ada
hubungannya dg pekerjaan terhormat atau tidak. Yang ada adalah perkosaan
intelektual krn tidak boleh berpikir dan berpendapat, apalagi memutuskan.]
Contoh bang. fisik yg anda sebutkan memang benar. Kesimpulan sementara
mengenai korelasi SDM dengan bangunan fisik sebetulnya tidak tepat-tepat
amat, terutama untuk kasus Daendels. Jalan tsb dibangun dengan cara kerja
paksa. Jadi bukannya menambah kemampuan SDM, yang ada adalah
pembantaian. Kalau tidak salah alasan utama pembangunan jalan tsb adalah
sama dengan pembangunan jaringan KA di Aceh, yaitu untuk memadamkan
pemberontakan yang sekali-sekali masih muncul.
> Demikian penjelasan saya, mohon maaf kalau kurang berkenan.
Sama-sama.
--
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)