Terima kasih rekan Blucer. Pertanyaan anda
sudah terjawab dalam komunikasi dengan bung
Hadeer sebelum ini.
Mengenai siapa yang bisa masuk gerbong baru,
saya rasa kita simpel-kan saja permasalahannya.
Menurut anda apakah Pak Harmoko dan Pak Abdul
Gafur bisa masuk kedalam gerbong yang baru ?
Kalau menurut anda bisa, ya artinya bisa.
Itu saja.
Hanya saja kalau menurut saya, TIDAK BISA !!!
Ada juga tokoh lama dari Partai yang baru yang
ingin muncul kepermukaan dengan "Objective" tertentu.
Padahal kita semua tahu sepak terjang person-nya
atau kelompok-nya dalam masa Orde baru dulu.
Jadi semuanya kita kembalikan kediri kita masing2,
apakah tokoh tersebut layak diajak atau tidak...:)
Salam,
bRidWaN
At 18:29 16/01/99 -0500, Blucer Rajagukguk wrote:
> Kalau boleh tanya:
> Batasan 'orang-orang lama' itu yang mana?
> Jika ada 'orang-orang lama' tentunya ada 'orang-orang baru'.
> Pertanyaan:
> apakah tidak ada yang aneh dan lucu dari 'orang-orang baru'.
> Tentunya jawabannya tidak ada kalau ternyata 'orang-orang baru'
> ini belum muncul.
> Menurut bung Ridwan, siapa yang harus masuk ke gerbong baru?
> Apakah dalam suasana reformasi atau transformasi ini, yang
> perlu diprioritaskan orangnya atau kelompoknya atau sistemnya
> atau sosial kontrolnya?
> Terimakasih.
> peace.
>bRidWaN wrote:
>>
>> Daeng Ida,
>> Begitulah perjalanan 'ORANG-ORANG LAMA' !!
>> Masih banyak yang aneh dan lucu dari kelompok
>> 'ORANG ORANG LAMA'.
>>
>> Tetapi...., izinkanlah mereka diberi kesempatan
>> untuk memperbaiki diri dan kembali kejalan yang
>> benar.....:)
>>
>> Hanya dengan segala hormat saya menghimbau sejak
>> bulan Mei yang lalu, agar Orang Orang Lama tidak
>> diajak bergabung dalam gerbong yang baru. Berbahaya !
>>
>> Salam,
>> BRIDWAN
>>
>> At 12:06 15/01/99 PST, Notrida Mandica wrote:
>> >Dear Permias and readers,
>> >
>> >Baru saja para ex gembong GOLKAR mendirikan partai: "Partai Keadilan dan
>> >Persatuan." Para ex GOLKAR, misalnya Try Sutrisno, Edi Sudrajat, Hayono
>> >Isman, etc akhirnya menyatakan diri sebagai pendiri 'partai.'
>> >Menarik! Mereka sepertinya melupakan 'arti' partai yang mereka pernah
>> >agung-agungkan. Pada zaman Suharto dan rekan-rekan, partai adalah kata
>> >yang menakutkan. Orang-orang yang berafiliasi dengan partai dituduh
>> >sebagai 'political animal.' Bahkan dalam penjelasan UUD 45 dinyatakan
>> >bahwa Indonesia memiliki dua partai dan satu golongan.
>> >Ingat, gembong GOLKAR menghindari referensi 'partai.'
>> >
>> >Saat ini, ex gembong GOLKAR berdiri dan mendirikan "Partai Keadilan dan
>> >Persatuan." Nampaknya mereka tidak phobi lagi dengan kata 'partai' dan
>> >tidak phobi lagi dengan kata 'politik.' Dan akan memperjuangkan
>> >'keadilan' dan 'persatuan' menilik dari nama yang mereka gunakan.
>> >
>> >Dalam pandangan saya, orang-orang yang mengklaim diri dalam partai ini
>> >adalah orang-orang mengalami depresi politik. Mungkin nama yang tepat
>> >untuk partai ini adalah: "Penerima Korupsi dan Pungli" atau
>> >"Partai orang Kecewa dan Plin-Plan."
>> >
>> >
>> >Smile ever after,
>> >salam dari DeKalb
>> >
>> >
>> >ida
>> >
>> >----------------------------------------------------------
>> >Partai Keadilan dan Kesatuan Dideklarasikan
>> >Golkar Dapat Ancaman Serius
>> >
>> >Jakarta,Kompas
>> >Golongan Karya (Golkar) bakal mendapatkan ancaman serius
>> >dalam pemilihan umum (pemilu) mendatang dengan berdirinya
>> >Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) yang dideklarasikan di
>> >Jakarta, Jumat(15/1). Partai yang didirikan tokoh-tokoh
>> >terkemuka Golkar dan purnawirawan ABRI itu diketuai oleh
>> >Jenderal TNI (Purn) Edi Sudradjat dengan Sekretaris
>> >Jenderal Hayono Isman. Dalam Musyawarah Nasional Golkar
>> >.....deleted..............
>
>