Jangan terlalu semangat dong... :-)
Emang....di masa transisi sekarang ini semakin kritis saja para intelektual
Indonesia.
maju terus...pantang mundur....( jangan sampai nggak jadi yah...)
:-)
-----Original Message-----
From: yuni windarti <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, April 27, 1999 8:53 AM
Subject: Mega dasarnya memang nol dan pengecut
saya setuju dengan bung Dodo. sejak awal Megawati tidak punya konsep yang
jelas tentang demokrasi, dia pengecut. Dia itu memang hanya mengandalkan
nama besar bapaknya, sedangkan dia sendiri tidak ada apa apanya. selama ini
otaknya hanya orang orang dibelakang mega , termasuk suaminya, mega sendiri
tidak punya nilai yang patut diacungi jempol.
selama ini ia hanya berpura pura berperan sebagai ibu yang bijaksana, anggun
dan lebih banyak diam dengan alasan tidak mau menonjolkan diri, padahl
diamnya itu karena dia tidak jelas apa programnya, dan apa yang bisa
ditawarkan kepada bangsa dan negara. kebetulan pada saat itu rakyat sedang
benar benar capek dengan "bapak Pembangunan" dan tidak ada figur yang
mumpuni mewakili aspirasi mereka, selain itu mereka masih terlena dengan
nama besar "Sukarno" sehingga mau tidak mau mereka menjadi pendukung mega.
kalau mega benar benar terpilih kasihan bangsa Indonesia, nasib mereka akan
tidak jelas ditangan seorang "ibu yang bijaksana". tidakkah anda perhatikan
pola megawati hampir sama dengan pola politik Suharto, yang selalu mengatas
namakan demokrasi, dan merasa demokrasinya lah yang benar?. sekarang saja
ia menolak untuk berdebat, dengan alasan demokrasi yang berbeda, nanti ia
akan menggunakan kata "demokrasi' ebagai alat unbtuk membela dirinya.seperti
Suharto menggunakan "Panasila, demokrasi, dll" untuk membungkam rakyat,
bener nggak???????????
apa salahnya menontoh demokrasinya negara lain. mengapa kita perubahan yang
kemungkinan membawa perbaikan bagi negara. kalau saya tidak salah mega
rencananya akan meminta bantuan luar negeri untuk membenahi sistem ekonomi
Indonesia kalau ia terpilih sebagai presiden, apakah ini tidak berarti ia
menggunakan sitem ekonomi luar negeri untuk indonesia. seharusnya ia tidak
boleh meminta nasehat luar, karena toh berbeda sistem ekonomi, iya nggak???
lagi pula tidak semua "produk" Indonesia dapat dikatakan jempolan dan dan
positif bagi perkembangan dan kebutuhan bangsa, dan tak semua produk luar
negeri jelek. sombong benar mega dan sama sekali tidak bijak kalau
mengatakan "produk" Indonesia adalh yang terbaik. toh tidak ada ruginya
kalau mengambil aturan demokrsi negara lain, sejauh itu tidak merugikan.
saya berani jamin kalau mega tetap dengan polanya , Indonesia tidak akan
pernah brkembang menuju perbaikan.
saya tidak keberatan indonesia menggunakan sistem politik serta ekonomi
negara maju, dan belajar dari apa yang diterapkan kepada bangsa mereka.
saya rasa akan menjadi dasyat karena dengan pola brpikir yang demokrat dan
bijak dari negara barat digabung dengan moral serta unggah ungguh bangsa
kita, saya rasa akan menjadi kombinasi yang menakjubkan.
Apalagi berdebat masalah program bagi apres adalah hal yang positif, karena
akan membantu memberikan gambaran kepada masyarakat partai apa dan siapa
yang dapat mewakili aspirasi mereka, tidak hanya membeli kuing dalam karung,
tidak tahu menahu apa yang akan mereka pilih.
"Dodo D." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ngomongin ibu kita ini lagi ah...daripada ndak ada kerjaan.
Setelah lamaaaaaa banget mikir, akhirnya keluar jugalah pernyataan dari
kubu PDI-P dengan alasan konyolnya yang dibuat untuk merasionalisasi
penolakan debat oleh sang ibu.
Kali aja karena udah terlalu terpengaruh ama 'ketidak jelasan-ketidak
jelasan' yang sering dilontarkan oleh partnernya, Gus "D", akhirnya MS
mengatakan bahwa caprez sekarang ini masih belum jelas. Lha wong Amin
Rais, Yusril, Akbar, dkk udah jelas jelas dicalonin oleh partainya
masing masing kok ya masih dianggap ndak jelas. Apakah mau nunggu
setelah ada yang kepilih, terus mau nggerakin massanya untuk
"mendebat"...?
Lebih konyol lagi, katanya debat yang ndak sampe sehari itu dianggap
ngabisin waktu. Waktu yang mana nih..? yang bener aje..
Atau mungkin takut, jangan jangan pas di debat trus grogi, trus
pingsan, trus...trus...
Lha kalo ini ya memang bisa "ngabisin waktunya" untuk bisa jadi caprez.
Anehnya juga, wong yang 'mbikin' alasan itu si Mega, kok yang
nyampaikannya si Lubis, apa memang masih takut lagi kalau alasannya
juga akan di debat....? jangan jangan ibu ini nanti menjadi trauma
dengan kata kata 'debat'.
=====================================================================
Megawati Siap Debat seusai Pemilu
Jakarta, JP.-
Ternyata Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri
tidak tahan juga diledek setiap hari karena dianggap tidak
berani
berdebat dengan kandidat calon presiden lainnya. Menurut
Mega,
tuduhan dirinya tidak berani berdebat dengan kandidat
presiden
lainnya itu salah. ��Saya mau diajak berdebat atau berdialog
dengan calon presiden lainnya, asal calon presidennya
benar-benar jelas,�� ujar Mega seperti disampaikan melalui
anggota
Litbang PDI Perjuangan Manginsara Lubis kemarin.
Menurut Mega, kalau selama ini ada kesan ia menolak diajak
debat, itu disebabkan calon-calon yang disandingkan dalam
forum
debat itu dinilainya statusnya tidak jelas. ��Calon-calon
itu baru
bisa dianggap calon presiden sesungguhnya setelah pemilu.
Kalau
sekarang banyak capres, ya bukan capres yang sesungguhnya,��
ujarnya.
Debat terbuka para calon presiden, menurut rencana,
dilakukan
Selasa ini di kampus UI Depok. Capres yang sudah menyatakan
siap hadir dalam kesempatan tersebut, antara lain, Amien
Rais
(PAN), Yusril Ihza Mahendra (PBB), Sri-Bintang Pamungkas
(PUDI), dan Akbar Tanjung (Golkar). Sementara itu, Megawati
Soekarnoputri menolak menghadiri undangan tersebut.
Menurut Mega, seperti yang dikutip Lubis, demokrasi di
Indonesia
sangat berbeda dengan di Amerika. Di sana, katanya, sudah
jelas
kandidat presiden hanya dua orang karena jumlah partainya
memang cuma dua. Tapi, di Indonesia yang saat ini punya 48
partai, jumlah kandidatnya masih belum jelas.
��Jumlah yang ada sekarang ini, nanti seusai pemilu akan
semakin
mengerucut sehingga yang ada tinggal beberapa saja. Di saat
itulah Megawati akan siap diajak berdialog atau berdebat,��
ujar
Lubis.
Pihak PDI, kata Lubis, sangat memahami keinginan dan
idealisme
yang diharapkan mahasiswa atau cendekiawan. Bahkan, PDI pun
sangat mendukung adanya debat di antara capres. Namun,
Megawati justru punya pertimbangan lain daripada sekadar
cari
popularitas atau menarik massa lewat perdebatan.
��Menang dalam perdebatan bukan jaminan bahwa dalam segi
leadership dia pandai. Tapi, yang lebih penting, saat ini
dia lebih
mementingkan melakukan konsolidasi partai daripada
menghabiskan waktu untuk berdebat,�� katanya.
Penolakan Megawati berdebat itu apa tidak akan mengurangi
rasa
simpati pendukung terhadapnya? ��Megawati tidak pernah
menolak
berdebat atau berdialog. Bahkan, beliau mendukung, hanya
dalam
pandangannya, waktu saat ini belum tepat. Dan, saya kira
kemampuan berdebat itu bukan tolok ukur bahwa seseorang
pandai memimpin. Apa ada jaminan seorang yang menang dalam
berdebat itu diartikan bahwa dia juga seorang pemimpin yang
andal,�� kata Lubis.
Penolakan itu apakah dinilai akan mengurangi pamor Megawati
sebagai calon presiden? ��Tidak sama sekali. Tanpa berdebat
pun,
Megawati sudah terkenal dan orang tidak meragukan
kemampuannya,�� katanya.
Apakah PDI tidak khawatir banyak suara yang hilang karena
penolakan tersebut? ��Sama sekali tidak. Justru karena
itulah,
Megawati lebih memilih melakukan konsolidasi ke
daerah-daerah
daripada melakukan debat dengan kandidat presiden dari
partai
yang belum tentu mendapat suara besar dalam pemilu. Ia tak
ingin
menghabiskan waktu untuk itu,�� katanya. (mal/jpnn)
_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
____________________________________________________________________
Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at
http://webmail.netscape.com.