Kebetulan saya terlalu dekat dengan monitor. Jadinya saya merasa kesulitan
untuk melihat big picture yang dimaksudkan itu.

Kalau teori ngobok-obok yg dimaksud adalah teori yg (katanya) biasa dipakai
Suharto sih nggak tahu juga relevansinya dg Istiqlal. Teori dimaksud yaitu
melempar isu untuk mengkritik (cuma ngritik guys) Suharto. Siapa yg menyambut
gayung tersebut akan dengan mudah ditangguk oleh centeng-centeng Suharto.
Teori ini dimaksudkan untuk mengetahui kesetiaan para anak buah Suharto.
Apakah ini yg dimaksud?

Soale saya gagal melihat relevansinya dg Mega tuh (ini masih berkaitan dg
judul di atas kan?). Bila teori ini diterapkan untuk menangguk MS dan PDI-P,
berarti si empunya strategi (juru pancing) mesti diganti. Mosok mau menangguk
ikan koki kok perginya ke kolam ikan mas. Menangguk MS dengan isu Islam
radikal lewat Istiqlal? Ndak nyambung kan? Mau disetel untuk menangguk ikan
hijaupun nggak masuk juga (misal ada yg pengen ikan hijau macam Gus Dur dan
AR), soale benderanya sudah lain. Biarpun hijau tapi pake baju
kembang-kembang. Jadi mancing ikan hijau kembang-kembang dengan cacing
Islam-radikal juga nggak bakal kena. Udah nggak doyan, mesti pake cacing
lain. Nah....ndak masuk juga tho...?

Ataukah saya mesti mundur dari monitor biar kelihatan big picturenya ya? Ndak
bisa juga...yang kelihatan malah si eneng manis di depan ane.


'-----------------
On Apr 27, 12:21pm, Alexander Lumbantobing wrote:
> Subject: Re: Mega dasarnya memang nol dan pengecut
> Beberapa saat sebelum Tragedi Mei 1998, saya mengungkapkan adanya
pihak-pihak
> yang melempar umpan ke tengah kolam-tenang-Indonesia dengan berharap segera
> mendapat "ikan" besar yang sudah lama ingin ditangkap dan digoreng.
>
> Beberapa minggu yang lalu, saya mengungkapkan betapa gusarnya para juru
> pancing itu menunggu agar sang ikan keluar untuk segera ditangkap dan
> digoreng. Para juru pancing itu sampai harus mengobok-obok
> kolam-tenang-Indonesia. Maka kolam-tenang-Indonesia menjadi alam lumpur
yang
> belepotan dan porak-poranda.
>
> Sayangnya, sang ikan yang menjadi sasaran mereka tetap belum tertangkap
untuk
> digoreng. Yang menanggapi umpan itu hanyalah ikan-ikan kelas teri. Tentu
saja
> para juru pancing itu semakin gusar dan gundah. Niatnya memang jahat, sih!
>
> Omong-omong, permisalan saya tentang pelemparan umpan ini secara "tidak
> sengaja" disebutkan oleh Amien Rais dalam tanggapan beliau mengenai
peristiwa
> Istiqlal, padahal cara
lempar-umpan-tangkap-sang-ikan-lalu-bunuh-dan-digoreng
> ini sudah tercetus sebelum Tragedi Mei 1998.
>
> Para pelempar umpan ini akan semakin gusar dan gundah gulana. Semoga tidak
> sampai kalap.
>
> Big picture, guys, big picture.
>
> Rgds,
>
> Alex
>-- End of excerpt from Alexander Lumbantobing

Kirim email ke